HUT RI KE-81: BUPATI ADIOS HIDUPKAN KEMBALI TARI BADENDANG, WARISAN LELUHUR BUTON YANG PERNAH HILANG

SPIONNEWS, BATAUGA – Peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 di Kabupaten Buton Selatan menjadi momen bersejarah bagi kebangkitan budaya lokal. Pemerintah daerah secara resmi mengangkat dan menghidupkan kembali Tari Badendang, sebuah kekayaan budaya yang sempat lama hilang, guna menegaskan jati diri asli masyarakat Buton di tengah kancah zaman.

Rangkaian kegiatan digelar selama empat malam berturut-turut. Sebelumnya telah berlangsung lomba vokal grup menyanyikan lagu Mars Buton Selatan yang diikuti sekitar 39 kelompok peserta. Puncak perhatian tertuju pada malam terakhir, Jumat (14/8/2026), yang menjadi ajang Lomba Tari Badendang antar-ASN lingkup Pemerintah Daerah. Acara dihelat meriah di Lapangan Lakarada dan dihadiri langsung oleh Bupati Buton Selatan H. Muhammad Adios didampingi Ketua TP PKK, perwakilan DPRD, Sekretaris Daerah, Ketua Dharma Wanita Persatuan, Staf Ahli, Asisten, para Kepala OPD, serta ratusan warga yang memadati lokasi.

Filosofi Gotong Royong dan Sejarah Pelaut

Usai menyaksikan penampilan para peserta, Bupati H. Muhammad Adios memberikan keterangan penuh makna. “Tari Badendang ini melambangkan gotong royong dan semangat persaudaraan yang erat. Dulu, para leluhur kita di Buton sering melakukannya, namun sempat lama tidak ditampilkan, dan baru di era kepemimpinan inilah saya angkat kembali ke permukaan,” ujar Bupati.

Beliau menguraikan sejarah panjang tarian ini yang berkaitan erat dengan tradisi bahari masyarakat Buton. “Badendang adalah milik kita, tanah Buton. Dahulu kala, tarian ini menjadi penghibur bagi para pelaut kita yang berlayar jauh hingga ke Singapura. Ketika mereka pulang setelah bertahun-tahun berpisah, mereka disambut dengan Tari Badendang sebagai tanda sukacita dan kebersamaan untuk menghibur para nakhoda yang kembali,” paparnya.

Dari Lupa Menjadi Kebanggaan Baru

Bupati menuturkan bahwa tarian ini dulunya milik seluruh wilayah Buton, namun nyaris terlupakan. “Saya amati kembali sejarahnya, lalu memutuskan melestarikannya dalam rangkaian peringatan kemerdekaan. Ternyata kita juga memiliki Mars Buton Selatan yang sangat indah, namun sayangnya kurang dikembangkan di tahun-tahun sebelumnya. Maka di masa kepemimpinan saya, lagu ini saya tetapkan sebagai lagu wajib dan ikut diperlombakan,” tegasnya.

Antusiasme yang luar biasa terlihat bukan hanya dari kalangan ASN, melainkan juga dari generasi pelajar mulai jenjang SD. Mereka tampil gagah membawa bendera Merah Putih seraya menyanyikan Mars Buton Selatan.

Penerimaan masyarakat terhadap Tari Badendang pun sangat luar biasa. Hal ini terlihat sejak peringatan Hari Jadi ke-12 Kabupaten Buton Selatan, di mana Gubernur Sulawesi Tenggara yang hadir pun turut serta menarikan Badendang. Kini, tarian ini telah menjadi ciri khas identitas daerah yang kuat. Bahkan, warga keturunan Buton yang bermukim di Maluku pun telah memperkenalkan dan mengangkat nama Tari Badendang di wilayah perantauan mereka.

Kegiatan ini membuktikan bahwa kemerdekaan juga dirayakan dengan merawat akar budaya sendiri, menjadikan yang hilang kembali hidup, dan mewariskannya ke generasi penerus sebagai identitas yang tak tergoyahkan. (Ha)

Editor : Harry

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *