DINAS PENDIDIKAN BUTON SELATAN LUNCURKAN TEROBOSAN MUATAN LOKAL, SESUAIKAN PEMBELAJARAN DENGAN POTENSI WILAYAH

SPIONNEWS, BATAUGA, — Dalam upaya meningkatkan kemampuan dan keterampilan siswa sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah, Dinas Pendidikan Kabupaten Buton Selatan melakukan terobosan strategis melalui pengembangan edukasi pertanian dan penerapan pendidikan muatan lokal yang disesuaikan dengan kondisi geografis dan potensi masing-masing wilayah. Kegiatan ini diharapkan tidak hanya menambah wawasan siswa, tetapi juga menghadirkan kolaborasi yang erat antara sekolah dan masyarakat, sehingga tercipta pengembangan pangan lokal yang berkelanjutan di Kabupaten Buton Selatan.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Buton Selatan, La Bari’u, S.Pd., menjelaskan hal tersebut saat dikonfirmasi di ruang kerjanya. Beliau menegaskan bahwa arahan ini bertujuan agar pendidikan di sekolah semakin relevan dengan kehidupan nyata dan kebutuhan masyarakat setempat.

“Kami dari Dinas Pendidikan mengarahkan agar sekolah dapat mengembangkan pendidikan dalam konsep muatan lokal, di mana disesuaikan dengan kondisi masing-masing daerah. Bila kondisi yang ada di Kadatua dan Batu Atas, cocoknya untuk muatan lokalnya adalah perikanan, karena kondisi daerahnya wilayah laut semua,” jelas La Bari’u.

Sementara itu, untuk sekolah-sekolah yang berada di wilayah daratan, pendekatan yang diambil pun berbeda dan lebih spesifik.

“Untuk sekolah yang ada di daratan seperti Batauga, Sampolawa dan sampai Lapandewa, itu bisa pada konsep pertanian. Siswa tidak hanya diajarkan menanam, tetapi juga mempelajari tentang kondisi tanah, tingkat keasaman atau pH tanah, serta jenis tanaman apa saja yang bisa tumbuh dengan baik di tanah tersebut. Dengan demikian, mereka tahu tingkat kesuburan lahan dan tanaman apa yang paling cocok dikembangkan di areal masing-masing,” tambahnya. jum’at, 16/10/2026.

La Bari’u juga menekankan pentingnya kesesuaian muatan lokal dengan mata pencaharian dan budaya masyarakat setempat agar pembelajaran menjadi bermakna dan bermanfaat nyata.

“Hal ini kami lakukan agar tidak salah sasaran. Bila di Batu Atas siswa diajarkan pertanian padahal wilayahnya adalah pesisir, tentu itu tidak akan efektif. Sebaliknya, di sana mereka bisa diajarkan tata kelola penangkapan ikan secara tradisional dan ramah lingkungan, seperti pembuatan bubuk ikan atau olahan hasil laut lainnya, karena lingkungan Batu Atas sebagian besar masyarakatnya bekerja sebagai nelayan. Itulah yang paling relevan dan bermanfaat bagi mereka,” ungkapnya.

Ke depan, konsep pembelajaran muatan lokal ini diharapkan dapat diterapkan secara langsung oleh para siswa. Pengetahuan yang diperoleh di kelas tidak hanya berhenti di atas kertas, tetapi dipraktikkan di lingkungan sekolah, lahan warga, maupun pekarangan rumah masing-masing siswa. Penanaman sayur, cabai, lombok, buah-buahan, hingga pengolahan hasil laut, diharapkan tumbuh dari inisiatif siswa yang terdidik dan terampil, sehingga ketahanan pangan lokal di Buton Selatan semakin kuat dan mandiri dari generasi muda. (Ha)

Editor : Harry

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *