
SPIONNEWS, BUTON SELATAN, — Pulau Siompu kembali menorehkan sejarah pelestarian budaya luhur. Sebanyak 80 perempuan muda mengikuti prosesi adat Pingitan yang digelar secara besar-besaran, berlangsung sejak 14 hingga 19 September 2026. Acara sakral ini dilaksanakan bersama-sama, menggunakan 10 buah rumah sebagai tempat pingitan, dan melibatkan lebih dari 100 peserta anak perempuan.

Tradisi yang Tak Pernah Pudar
Pingitan — atau dalam istilah lokal disebut Posuo — bukan sekadar seremonial biasa. Tradisi ini diwariskan secara turun-temurun sejak masa Kerajaan hingga Kesultanan Buton, berakar pada nilai-nilai luhur masyarakat Wolio. Penyelenggaraannya tidak bersifat tetap; dilakukan 3 atau 5 tahun sekali, tergantung hasil musyawarah adat serta jumlah peserta yang memenuhi syarat.
Kali ini menjadi istimewa karena salah satu peserta datang jauh dari Kota Baubau: Nazwa Rizwana Aila, gadis yang lahir dan tumbuh di kota namun memiliki darah keturunan murni Siompu Lontoi. Ia pulang ke tanah leluhur untuk mengikuti prosesi sakral ini.
“Nazwa Rizwana Aila, sebagai masyarakat adat Buthuni Wolio yang tinggal di Kota Baubau Namun Lahir di Siompu, ikut dalam prosesi tersebut. Naik masuk pingitan pada tanggal 15, secara teratur mulai dari kepala badan sampai kaki selama 4 hari 4 malam. Begitu juga sebaliknya, turun teratur mulai dari kepala badan hingga kaki,” ungkap Orang Tua Amir, ayah dari Nazwa Rizwana, yang turut mendampingi putrinya.
Makna di Balik 4 Hari 4 Malam
Selama empat hari empat malam, para gadis menjalani prosesi penuh ketertiban dan kesakralan:
✅ Naik masuk pingitan — diawali dengan pembekalan nilai adat, sopan santun, dan kewajiban seorang perempuan Buton
✅ Prosesi teratur — gerakan dan tata cara dilakukan secara bertahap, dari kepala hingga kaki, mencerminkan keteraturan hidup yang seimbang
✅ Turun dari pingitan — dilakukan pula secara berurutan, menandakan kesiapan kembali ke tengah masyarakat sebagai pribadi yang lebih dewasa, bijaksana, dan bertanggung jawab
Titipan Leluhur untuk Generasi Terus Berlanjut
Orang Tua Amir menegaskan, seni dan budaya yang dijalani ini bukan sekadar tontonan, melainkan titipan sifat dan rasa yang dititipkan para leluhur Buthuni dari Wolio.
“Seni budaya ini bertumpu pada sifat dan rasa yang dititipkan leluhur Buthuni dari Wolio, sejak zaman Kerajaan dan Kesultanan hingga kini. Untuk generasi penerus sampai akhir zaman, ini tetap diabadikan,” tegasnya.
Kehadiran Nazwa dari Kota Baubau menjadi bukti bahwa ikatan darah dan tanah kelahiran tidak terputus meski jarak memisahkan. Ia pulang bukan sekadar mengikuti upacara, melainkan menegaskan jati diri: di mana pun berada, akar budaya tidak boleh dilupakan.
Harapan: Warisan Tetap Hidup
Pulau Siompu hari ini membuktikan bahwa budaya tidak harus pudar oleh zaman. Di tengah arus perubahan, pintu pingitan tetap terbuka, rumah-rumah adat tetap digunakan, dan para gadis tetap belajar menjadi penerus bangsa yang berakar pada kearifan leluhur.
“Semoga generasi setelah kami terus menjaga ini. Bukan untuk kami saja, melainkan untuk anak cucu yang belum lahir. Ini warisan yang tak ternilai harganya,” harap warga Siompu.
Pingitan telah usai, namun semangat yang ditanamkan di dalamnya akan terus hidup — mengalir di setiap langkah para gadis yang kini siap melangkah, membawa nama baik Siompu, menjaga nama Buton, dan melestarikan cahaya budaya yang tak akan pernah padam.
Para gadis-gadis muda dari pulau siompu tidak hanya yang tinggal di pulau simpul namun dari berbagai daerah yang sempat Merantau dan anak-anak gadisnya dibawa pulang kembali ke Pulau Sempu untuk mengikuti acara kegiatan tersebut. (Ha).

