Sebuah Aksi Kecil untuk Harapan Besar: Langkah Sunyi Komunitas Green Busel di HUT Buton Selatan ke-11

SPIONNEWS, BATAUGA – Di tengah gegap gempita HUT Buton Selatan ke-11 yang dipusatkan di Lapangan Lakarada beberapa waktu lalu, sebuah gerakan senyap mencuri perhatian—bukan dengan sorotan, melainkan dengan pesan lingkungan.

Mereka adalah Komunitas Green Busel, (Gerakan Relawan untuk Edukasi dan Konservasi Lingkungan) yang hadir bukan untuk meramaikan panggung, melainkan untuk membendung perilaku nyampah yang sudah membudaya, sekaligus menyelamatkan ruang publik dari lautan sampah.

Aksi Sunyi di Tengah Keramaian

Sejak pukul 18.30 WITA, satu persatu relawan mulai berdatangan. Berbekal peralatan sederhana seperti palu, balok, kantong sampah, dan spanduk edukatif, mereka menyasar beberapa titik strategis di area perayaan.

Mereka menancapkan pancang dan menggantungkan kantong sampah dan banner edukasi lingkungan bertuliskan “Ayo Tertib Sampah” & Letakkan Sampah Pada Tempatnya” .Di malam itu juga, beberapa relawan bahkan sempat menemui MC acara untuk menyisipkan pesan-pesan lingkungan dalam narasi panggung.

“Kami berharap kesadaran soal kebersihan ini bisa digaungkan di sela hiburan,” ujar Junaldin, Kordinator relawan.

Fakta yang Masih Jauh dari Harapan

Pagi harinya saat kegiatan selesai dan ribuan pengunjung menghilang, kenyataan miris menampakkan dirinya. Sampah membanjiri seluruh area Lakarada.

Plastik makanan, gelas air mineral, dan pembungkus makanan tercecer hampir di setiap sudut. Tempat sampah yang disediakan relawan tak mampu menampung seluruh limbah.

Sementara dari pihak Event Organizer (EO), belum terlihat adanya upaya penyediaan tempat sampah tambahan. Di malam hari, janji MC untuk menyuarakan pesan lingkungan tak pernah terdengar sepanjang acara. Seruan relawan teredam keramaian. Banyak pengunjung tampak tidak peduli, bahkan pura-pura tak melihat tempat sampah yang sudah tersedia.

Lebih dari Sekadar Sampah. Penampakan Pagi itu Adalah Wajah Perilaku Kita

“Yang terlihat memang hanya sampah. Tapi yang tidak terlihat lebih menyedihkan: kesadaran publik yang rendah, minimnya dukungan penyelenggara acara, dan hilangnya komitmen edukatif dalam perayaan besar daerah ini,” ungkap Junaldin, relawan lingkungan asal Sampolawa ini.

Komunitas Green Busel menegaskan, ini bukan sekadar soal bersih atau kotor. Ini tentang wajah pendidikan dan kedewasaan masyarakat. Ini tentang keseriusan Pemda menggelar acara. Tentang bagaimana kita memperlakukan ruang publik, dan tentang bagaimana EO sebagai penyelenggara acara memiliki tanggung jawab sosial dan ekologis dalam setiap langkah perencanaan.

Harapan ke Depan: Edukasi, Antisipasi, Kolaborasi

Di usia Buton Selatan yang ke-11, sudah saatnya pengelolaan acara publik bertransformasi. Bukan hanya menjadi panggung hiburan, tapi juga menjadi wadah edukasi dan partisipasi.

Bukan hanya memanggil artis atau hiburan, tapi juga memfasilitasi perilaku kolektif yang lebih bijak terhadap lingkungan. Oleh karena itu, Komunitas Green Busel berharap ke depan:

Setiap perayaan besar wajib merancang strategi pengelolaan sampah sejak awal.

EO dan MC benar-benar berperan aktif dalam menyuarakan kampanye kebersihan,

* Sarana kebersihan disediakan secara memadai dan terintegrasi,*

Dan masyarakat melalui komunitas lingkungan dilibatkan untuk edukasi dan antisipasi berkelanjutan.

“Kita tak akan pernah sampai pada cita-cita Busel Bersih seperti program Pak Bupati, jika kita hanya mengandalkan petugas kebersihan di akhir acara, dan mengabaikan tanggung jawab bersama sejak awal. Kegiatan seperti ini hanya menjadi sarana menyalurkan dan mewariskan kebiasaan buruk lintas generasi. Generasi tua seenaknya nyampah, dan generasi muda akan melihat bahwa nyampah sembarangan itu boleh di tempat umum” tegas YAMIN, salah satu inisiator komunitas Green Busel.

*Penutup: Suara Hijau yang Perlu Didengar*

Aksi Komunitas Green Busel mungkin tak terlihat di headline, tak terdengar dari panggung, dan tak disorot kamera. Tapi di balik itu, mereka sedang membangun kesadaran yang jauh lebih penting dari sekadar tontonan. Mereka percaya, perubahan dimulai dari langkah kecil yang konsisten.

Semoga di perayaan berikutnya, Buton Selatan tak hanya merayakan usia, tapi juga kedewasaan dalam menjaga bumi tempat kita berpijak, dan berusaha mengedukasi ‘manusia-manusianya’ di setiap momen yang ada.(**)

Editor : Harry

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *