SPIONNEWS.ID, Malang – Kegiatan Bhumi Goes to School 2026 sukses dilaksanakan pada Senin, 20 April 2026 di SMA Nasional Malang. Program ini merupakan salah satu agenda kerja UKM BHUMI berisi mahasiswa pemerhati dan pencinta lingkungan dari berbagai fakultas di Universitas Negeri Malang (UM) yang berfokus pada edukasi lingkungan bagi siswa sekolah menengah.
Mengusung tema “From Organic Waste to Climate Solution: Edukasi dan Praktik Pengelolaan Sampah Organik di Lingkungan Sekolah”, kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa mengenai emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari sampah organik serta mendorong upaya pengurangannya melalui pengolahan sampah menjadi eco enzyme.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan, sambutan, serta pelaksanaan pre-test untuk mengukur pengetahuan awal siswa. Selanjutnya, peserta mendapatkan materi terkait emisi dari sampah organik dan dampaknya terhadap lingkungan, yang kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab interaktif. Untuk menjaga antusiasme, kegiatan diselingi dengan ice breaking sebelum memasuki sesi inti.

Pada sesi berikutnya, siswa menerima pemaparan materi sekaligus demonstrasi dan praktik langsung pembuatan eco enzyme. Dalam sesi ini, siswa tidak hanya menyaksikan proses, tetapi juga terlibat aktif dalam praktik, sehingga mampu memahami tahapan pembuatannya secara lebih mendalam. Antusiasme peserta terlihat dari keaktifan mereka dalam bertanya dan berpartisipasi selama kegiatan berlangsung.
Kegiatan ditutup dengan post-test sebagai bentuk evaluasi serta dokumentasi bersama. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman siswa terkait pentingnya pengelolaan sampah organik serta keterampilan dasar dalam membuat eco enzyme secara mandiri. Selain itu, kegiatan ini juga memberikan pengalaman langsung kepada siswa dalam mengolah sampah menjadi sesuatu yang bernilai guna.
Pembina kegiatan, Vivi Novianti, menyampaikan harapannya terhadap keberlanjutan edukasi lingkungan ini. Ia menekankan bahwa bumi dapat terhindar dari permasalahan sampah jika manusia tidak bersikap konsumtif dan menerapkan prinsip 3R, yaitu reduce (mengurangi), reuse (menggunakan kembali), dan recycle (mendaur ulang).
“Bumi bisa tidak dipenuhi sampah jika manusia tidak konsumtif dan menerapkan 3R terhadap sampah yang dihasilkannya. Hal ini akan menjadi pilihan dan kebiasaan jika diajarkan serta dilatihkan sejak dini, mulai dari lingkungan keluarga, sekolah, hingga masyarakat,” ujarnya.
Lebih lanjut, Vivi juga menegaskan pentingnya peran pemerintah dalam mendukung upaya tersebut. “Kehadiran pemerintah sangat penting sebagai regulator, fasilitator, dan motivator yang menjadi tulang punggung dalam transisi menuju masyarakat yang menerapkan gaya hidup frugal dan sadar lingkungan,” tambahnya.
Melalui kegiatan ini, diharapkan siswa dapat mulai mengambil langkah kecil dengan mengelola sampah organik di lingkungan sekitar serta berkontribusi dalam aksi hijau demi terciptanya lingkungan yang lebih baik.
Liputan : La Nare

