Oleh : Rasmin Jaya (Penulis Buku Transformasi dan Wacana di Era Distrupsi)
Sejak kecil, aku telah mengenal buku sebagai bagian dari kehidupanku. Ketika anak-anak lain menghabiskan waktu bermain dengan berbagai permainan tradisional, aku mulai mengenal dunia melalui lembaran-lembaran buku.
Sejak di desa hanya itu yang bisa mengusir kejenuhan kita selain dari pada bermain bersama teman-teman.
Bagiku, buku bukan sekadar kumpulan kertas yang berisi tulisan, melainkan jendela yang membawaku melihat dunia yang lebih luas.
Aku mungkin tidak memiliki segalanya sejak kecil. Namun, aku percaya bahwa ilmu pengetahuan adalah salah satu kekayaan yang tidak mudah dirampas oleh keadaan.
Dari buku, aku belajar mengenal kehidupan, memahami perbedaan, menumbuhkan harapan, dan membayangkan masa depan yang lebih baik. Perjalanan bersama buku tentu tidak selalu mudah.
Ada kalanya rasa bosan datang, ada saatnya pelajaran terasa sulit dipahami, dan ada pula masa ketika kenyataan tidak sejalan dengan harapan.
Namun, perlahan aku menyadari bahwa setiap halaman yang kubaca adalah langkah kecil menuju pemahaman yang lebih besar. Waktu terus berjalan. Masa kanak-kanak berganti menjadi masa remaja, hingga akhirnya aku memasuki dunia perkuliahan.
Di bangku kuliah, aku menemukan bahwa belajar bukan hanya tentang menghafal teori atau memperoleh nilai yang baik.
Belajar adalah tentang membentuk cara berpikir, mempertajam kepekaan, membangun karakter, dan mempersiapkan diri untuk menghadapi persoalan kehidupan yang sesungguhnya.
Buku-buku yang dahulu menemaniku sejak kecil kini memiliki makna yang semakin
dalam. Aku tidak lagi membaca hanya untuk mengetahui sesuatu, tetapi juga untuk mempertanyakan, menganalisis, dan menemukan jawaban atas berbagai persoalan.
Aku mulai memahami bahwa semakin banyak ilmu yang kupelajari, semakin banyak pula hal yang perlu kupahami.
Sebab, pada akhirnya, keberhasilan bukan hanya tentang seberapa banyak buku yang telah dibaca atau setinggi apa pendidikan yang telah diraih.
Keberhasilan juga tentang seberapa jauh ilmu yang dimiliki mampu mengubah diri sendiri, membantu sesama, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Perjalananku mungkin
masih panjang. Masih banyak buku yang belum kubaca, ilmu yang belum kupahami, dan
pengalaman yang belum kutemui. Namun, selama rasa ingin tahu tetap hidup dan semangat belajar terus tumbuh, aku percaya bahwa setiap langkah kecil akan membawaku lebih dekat kepada cita-cita.
Sejak kecil aku belajar melalui buku. Saat remaja, aku tumbuh bersama pengetahuan.
Dan kini, ketika menempuh pendidikan di bangku kuliah, aku semakin yakin bahwa buku bukan hanya teman perjalanan, melainkan bekal untuk memahami kehidupan dan membangun masa depan.
Karena seseorang yang tidak pernah berhenti belajar akan selalu memiliki kesempatan
untuk bertumbuh, berubah, dan menjadi lebih baik. Jangan pernah meremehkan seorang anak yang tumbuh bersama buku.
Barangkali hari ini ia hanya membaca dalam diam, tetapi kelak pengetahuan yang dikumpulkannya dapat menjadi cahaya bagi diri, keluarga dan masyarakat di sekitar.
Kebiasaan membacalah menjadi inspirasi buat saya prilbadi sehingga harus sedikit menulis, mulai merangkai kata demi kata hingga menjadi sebuah tulisan Panjang. Tetapi dalam waktu yang sama tak sedikit pun kepercayaan diri untuk mempublikasinya sehingga alternatif nya adalah membuat blog dan menjadi konsumsi pribadi.
Waktu terus berjalan, cara pandang berubah, cakrawala untuk terus memperkaya
pemahaman pengetahuan dan keilmuan semakin bertambah.
Di topang oleh aktivitas organisasi yang menjadikan kita semakin progresif tidak hanya berjuang di jalanan tetapi mulai meramaikan dan menghiasi percakapan public dengan berbagai tulisan dan argumentasi tajam.
Tak jarang, beberapa FB saya harus kena blokir. Tapi semua itu selalu ada gairah untuk selalu menulis, membaca, berdiskusi, menulis lagi. Semua pada akhirnya akan menemukan versi terbaik dan bentuk yang utuh.
Tentang semangat untuk mencoba adalah konsistensi yang harus terus menerus di
pertahankan. Tak peduli bagaimana pun kau menertawakan tulisanmu yang belepotan, semuanya itu adalah proses belajar.
Menulis apa saja, jangan terlalu berharap bahwa bacaanmu akan di baca ataupun bermanfaat untuk orang lain.
Mulai dulu dari diri sendiri, hukum alam berkerja. Siapapun yang bersungguh sungguh akan mencapai titik puncak kesuksesan apa lagi kita yang setiap harinya harus di perhadapkan dengan berbagai kekurangan dan keterbatasan misalnya ekonomi, akses bacaan, ataupun tempat tinggal kamar kos yang tak layak huni.
Tetapi orang tak akan peduli dan melihat itu bagaimana dengan proses yang di jalani, kreativitas yang kita lakukan, kesadaran untuk selalu berbuat yang terbaik maka tanpa sadar orang akan menjadikan kita cerminan dan inspirasi untuk bidang yang kita tekuni.
Di sebuah kamar kos sederhana, aku belajar memahami arti perjuangan. Kamar yang tidak begitu luas, dengan dinding yang menjadi saksi bisu perjalanan hari demi hari, adalah tempat aku merangkai mimpi dan menata masa depan.
Di tempat itulah, buku-buku menjadi teman yang setia menemani kesunyian.
Tidak ada perpustakaan pribadi yang megah. Tidak ada ruang belajar yang mewah dengan fasilitas lengkap.
Hanya sebuah meja sederhana, beberapa buku yang tersusun
seadanya, alat tulis, dan semangat yang berusaha kujaga agar tidak padam. Namun, dari ruang kecil itulah, pikiranku menjelajahi dunia yang luas.
Ketika malam tiba dan suasana kos mulai sunyi, aku membuka buku, membaca halaman demi halaman, mencatat hal-hal penting, dan mencoba memahami ilmu yang belum
sepenuhnya kumengerti.
Terkadang rasa lelah datang setelah menjalani aktivitas perkuliahan seharian. Terkadang pula kerinduan kepada keluarga menyelinap di antara baris-baris bacaan. Ada saatnya aku merasa sendiri, seolah perjalanan ini terlalu panjang untuk ditempuh.
Hari ini, aku mungkin hanya seorang mahasiswa dengan kamar kos kecil dan tumpukan buku di atas meja.
Namun, aku tidak ingin mengukur masa depanku dari kesederhanaan tempatku tinggal. Saya ingin mengukurnya dari kesungguhan dalam belajar, keberanian dalam menghadapi tantangan, dan manfaat yang kelak dapat kuberikan kepada sesama.
Di kamar kos sederhana ini, aku tidak hanya membaca buku. Saya sedang membaca kehidupan, menulis masa depan, dan membangun diriku sendiri—satu halaman, satu pelajaran, dan satu perjuangan dalam satu waktu.
Dan selama masih ada buku yang dapat kubuka serta harapan yang dapat kujaga, aku akan terus belajar. Karena aku percaya, suatu hari nanti, perjuangan yang berlangsung dalam kesunyian ini akan menemukan maknanya.
“Kamar kosku mungkin sederhana, tetapi mimpi yang tumbuh di dalam nya tidak pernah sederhana. Di antara buku-buku dan kesunyian malam, aku sedang mempersiapkan diri
untuk masa depan yang ingin kuwujudkan.”Kataku dalam hati.
Tentang semangat untuk mencoba adalah konsistensi yang harus terus menerus di
pertahankan. Tak peduli bagaimana pun kau menertawakan tulisanmu yang belepotan, semuanya itu adalah proses belajar. Menulis apa saja, jangan terlalu berharap bahwa bacaanmu akan di baca atau pun bermanfaat untuk orang lain.

