HUT Lakambau ke‑20: Ir. Hugua Ajak Jadikan Sejarah Budaya Buton Selatan Sebagai Sumber Kesejahteraan Masa Depan

SPIONNEWS, BUTON SELATAN— Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara, Ir. Hugua, hadir dalam puncak peringatan Hari Ulang Tahun ke‑20 Kelurahan Lakambau dan menyampaikan pesan mendalam tentang pentingnya menjadikan warisan sejarah leluhur sebagai identitas sekaligus kekuatan ekonomi bagi masyarakat Buton Selatan.

Dalam amanahnya, Ir. Hugua menyentuh luasnya jejak sejarah yang menyatukan wilayah‑wilayah di Sulawesi Tenggara, termasuk hubungan kekerabatan antara Wakatobi, Bonerate, Liwu, serta Buton Selatan. “Bukan hanya Buton Selatan saja yang ada di Lippo, ada juga Wakatobi, ada Bonerate, ada Liwu. Kita tidak boleh terlalu banyak hanya bicara sejarah Majapahit tanpa menghubungkannya dengan kesejahteraan nyata,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa warisan budaya bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan modal besar yang dapat berubah menjadi kekuatan ekonomi ke depan. “Sejarah ini harus mampu menjadi duit, menjadi kekuatan ekonomi, membawa kesejahteraan serta meningkatkan pendapatan keluarga dan masyarakat kita,” tegasnya.

Menurut Ir. Hugua, peringatan HUT Lakambau ke‑20 bukan berarti berakhir hari ini. Ia berharap rangkaian acara adat ini terus dilanjutkan dari tahun ke tahun dan tetap menjadi jati diri masyarakat Lakambau serta Buton Selatan. “Sekali lagi terima kasih banyak. Mudah‑mudahan acara ke depan kita tetap bertemu dan melanjutkan ini, karena inilah identitas kita,” katanya.

Di akhir amanah, Ir. Hugua juga menyatakan secara resmi pembukaan rangkaian kegiatan malam yang akan diisi oleh para pemuda Lakambau. “Malam nanti ada acara para pemuda, saya nyatakan dibuka dengan resmi,” ungkapnya.

Kehadiran Ir. Hugua melengkapi semangat puncak HUT Lakambau ke‑20 yang sebelumnya diwarnai tapak tilas ke Makam Raja La Maindo, ritual adat Tuturani, kepedulian terhadap anak yatim‑piatu, serta ajakan menjaga Keraton Buton agar bergema hingga tingkat internasional. Ia berharap sinergi antara Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara, Pemerintah Kabupaten Buton Selatan, lembaga adat, tokoh masyarakat, Forkopimda, serta generasi muda semakin diperkuat.

Dengan begitu, warisan leluhur tidak hanya hidup dalam upacara adat, tetapi juga tumbuh menjadi ekonomi budaya yang nyata bagi Buton Selatan dan Sulawesi Tenggara.

Rangkaian peringatan Hari Jadi Kelurahan Lakambau ke‑20 memasuki puncak penuh makna. Acara yang telah berjalan selama tujuh hari sejak tanggal 24 Oktober 2026 ini bukan sekadar seremonial, melainkan momentum untuk mempererat persatuan, menjaga adat budaya leluhur, serta membangun masyarakat yang lebih sejahtera.

Kegiatan diawali dengan Tapak Tilas ke Makam Raja La Maindo, kemudian berlanjut ke serangkaian ritual adat yang dihadiri oleh berbagai unsur pemangku kepentingan. Turut hadir Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara Dr. Ir. Hugua, Bupati Buton Selatan yang diwakili oleh Sekretaris Daerah Buton Selatan, Sultan ke‑41, Forkopimda, Asisten I, Asisten II, Asisten III, serta Lurah Lakambau saat ini adalah La Ode Muhammad Insan Al Arif Rihan

Menurut Lurah Lakambau Ir. LM Insan Al Arif menyebutkan, Dalam amanah adat yang disampaikan, para tokoh adat mengupas hikmah mendalam dari ritual leluhur Negeri Buton. Dijelaskan bahwa tradisi memberi makan dan merawat anak yatim‑piatu bukan sekadar amal biasa, melainkan cerminan dari kesadaran spiritual leluhur. Mereka mengambil hikmah dari kisah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam yang sejak kecil yatim‑piatu, begitu pula zuriat Nabi Sayyidina Hasan, Husein, hingga Imam Zainal Abidin.

“Leluhur kita di Buton memandang penting persoalan anak yatim‑piatu. Dalam pandangan adat dan spiritualitas kita, anak yatim‑piatu berada dalam kesendirian yang mengingatkan kita pada keesaan Allah SWT sebagaimana tertuang dalam Surat Al Ikhlas,” ungkap salah satu tokoh adat dalam rangkaian acara.

Ia menambahkan bahwa memberi makan serta merawat anak yatim‑piatu adalah wujud nyata cinta kasih masyarakat. Bagi leluhur, kepedulian terhadap anak yatim‑piatu menjadi cermin bahwa keberkahan negeri lahir dari rasa solidaritas yang tulus.

Dengan dorongan keinginan luhur, seluruh elemen yang hadir berharap peringatan ini menjadi pengingat bahwa Kelurahan Lakambau harus terus tumbuh sebagai negeri yang menjaga warisan adat sekaligus hadir untuk yang lemah. Kehadiran Forkopimda, unsur pemerintah daerah, tokoh adat, serta masyarakat diharapkan memperkuat sinergi agar nilai‑nilai leluhur tetap hidup di tengah kehidupan modern.

Rangkaian tujuh hari peringatan ini pun diharapkan tidak berhenti setelah acara selesai, tetapi berlanjut menjadi gerakan nyata berupa kepedulian sosial, pelestarian budaya, serta persatuan masyarakat Lakambau.

Editor : Harry

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *