“Menggali Spirit Pembaruan dan Nilai Keberanian dalam Gerak Keilmuan Bersama M. Yusnan”
Spionnews.id – Baubau, Selasa, 15 /7/2025 – Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PK IMM) Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Buton kembali menunjukkan peran intelektual dan ideologisnya dengan menggelar kegiatan nonton bareng dan diskusi film Sang Pencerah.
Kegiatan ini bukan sekadar hiburan atau tontonan biasa, melainkan sebuah medium pembelajaran kolektif untuk menalar jejak perjuangan dan pemikiran K.H. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah.
Film Sang Pencerah karya Hanung Bramantyo yang diputar dalam kegiatan ini bukan hanya mengisahkan biografi seorang tokoh, tetapi memuat pesan kuat tentang semangat pembaruan (tajdid), keberanian melawan kebekuan tradisi, serta konsistensi dalam menegakkan nilai-nilai Islam berkemajuan.
Dalam suasana akademik yang dibalut dengan semangat kekeluargaan, kader-kader IMM Sekota Baubau diajak untuk tidak hanya menjadi penonton pasif, tetapi juga menjadi penafsir aktif terhadap pesan-pesan yang disampaikan dalam film.
Kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran historis dan ideologis kader terhadap akar gerakan Muhammadiyah, sekaligus merefleksikan peran mahasiswa hukum dalam memperjuangkan keadilan dan perubahan sosial.
Saat dikonfirmasi, Ketua PK IMM FH UMButon Reva menyampaikan, bahwa kegiatan ini adalah bagian dari proses pembentukan karakter kader yang kritis, progresif, dan berjiwa pembaru.
“Melalui penalaran terhadap Sang Pencerah, kita diajak kembali memahami esensi perjuangan: bukan sekadar melawan ketidakadilan, tapi juga mendobrak kebekuan pemikiran yang membelenggu umat. Semangat inilah yang harus terus menyala dalam setiap gerak kita sebagai kader IMM dan calon intelektual hukum,” ungkapnya.
Diskusi yang digelar setelah pemutaran film menjadi ruang dialektika yang hangat, di mana para peserta menyampaikan pandangan dan interpretasinya masing-masing. Beberapa peserta menyoroti bagaimana relevansi perjuangan K.H. Ahmad Dahlan dengan tantangan keumatan dan kebangsaan hari ini, termasuk dalam konteks reformasi hukum, pluralisme, dan tantangan globalisasi.
Dalam penyampaian materinya, M. Yusnan mengajak para peserta untuk tidak hanya memaknai Sang Pencerah sebagai dokumentasi sejarah, tetapi sebagai cermin perjuangan ideologis yang relevan hingga hari ini.
Ia menekankan pentingnya keberanian intelektual dalam melawan arus stagnasi dan kebodohan yang kerap berselimut tradisi yang tidak rasional.“K.H. Ahmad Dahlan bukan hanya pembaru dalam konteks agama, tapi juga reformis sosial yang meletakkan pondasi perubahan lewat pendidikan, pemikiran, dan aksi nyata. Semangat inilah yang harus diteladani kader IMM hari ini,” ujar Yusnan dalam pemaparannya.
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa PK IMM FH UMButon tidak berhenti hanya pada aktivitas seremonial, tetapi terus mendorong kadernya untuk berpikir tajam, bersikap kritis, dan bertindak solutif.
Melalui pendekatan budaya dan media seperti film, IMM menunjukkan bahwa dakwah dan gerakan intelektual bisa dikemas secara kreatif namun tetap substansial.
Menalar Sang Pencerah bukan hanya membaca sejarah, tapi juga menghidupkan kembali semangat pembaruan dalam diri setiap kader. Semangat untuk terus belajar, berdialog, dan berani mengambil sikap demi terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Itulah warisan gagasan yang terus dihidupkan oleh PK IMM FH UMButon. (An)
Editor : Harry

