Oleh : Ahmad Salatin
SPIONNEWS.ID, MALUKU – September yang kelabu kembali mengingatkan kita pada satu kenyataan pahit: nasib para guru honorer di negeri ini masih jauh dari kata sejahtera. Ironisnya, mereka adalah sosok yang paling berjasa melahirkan generasi bangsa, namun justru hidup dalam ketidakpastian dan perlakuan yang tidak adil.
Ketidakadilan yang Nyata
Keluhan lain yang muncul adalah praktik ketidakadilan dalam perekrutan tenaga P3K. Seorang guru di Maluku Tengah mencontohkan, istri kepala sekolah yang baru satu tahun mengajar, bahkan jarang hadir di sekolah, bisa langsung diterima sebagai P3K. Sementara guru honorer lain yang sudah mengabdi belasan tahun tetap dipinggirkan.
“Apakah kami bukan anak Indonesia? Apakah kami tidak bisa membaca dan menulis hanya karena kami tidak dekat dengan pejabat?” keluh mereka.
Hal ini bukan sekadar persoalan gaji, tetapi soal keadilan. Guru honorer yang sudah belasan tahun mengajar seharusnya mendapat penghargaan lebih, bukan justru diperlakukan ibarat sampah.
Panggilan Hati Nurani
Di Maluku, sejumlah guru honorer dengan lantang menyampaikan keluh kesah mereka kepada Spion News. Mereka mengaku lelah diperlakukan tidak manusiawi, digaji rendah, bahkan kerap menunggu berbulan-bulan untuk menerima hak mereka. “Kami ibarat bekerja dengan sisa-sisa belanja para pemimpin negeri ini,” tutur seorang guru dengan getir.
Bayangkan, gaji seorang guru honorer hanya sekitar Rp600 ribu per bulan, bahkan ada yang dihitung setara Rp1.500 per hari. Nilai itu jauh lebih rendah dari upah seorang penjaga toilet umum. Lebih memilukan, honor yang kecil itu pun sering kali baru cair setelah tiga hingga enam bulan menunggu.
Di SMP 23 Maluku Tengah, seorang guru honorer menuturkan dengan lirih, “Sekolah ibarat sebuah istana, di dalamnya berkumpul anak-anak bangsa. Kami mengabdi bukan hanya demi gaji, tetapi demi masa depan Indonesia.”
Namun pengabdian yang besar itu nyaris tak pernah mendapat pengakuan yang setimpal. Bahkan, banyak guru honorer merasa takut menyuarakan hak mereka, seakan-akan negeri ini kembali ke zaman di mana suara rakyat dianggap ancaman.
Pemerintah Harus Mendengar
Presiden, Menteri Pendidikan, hingga DPR seharusnya membuka mata. Guru adalah fondasi peradaban. Dari tangan mereka lahirlah pejabat, polisi, tentara, hingga menteri. Jika guru honorer terus diperlakukan seperti ini, kita sedang menanam bom waktu: ketidakadilan yang pada akhirnya akan meruntuhkan semangat bangsa.
Kita tidak boleh lagi melihat guru honorer dengan sebelah mata. Mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang nyata, bukan hanya sekadar slogan di spanduk peringatan Hari Guru.
Penutup
Tulisan ini bukan sekadar keluhan, tetapi jeritan hati yang mewakili ribuan guru honorer di pelosok negeri. Mereka hanya meminta satu hal: keadilan. Bukan belas kasihan.
Negeri ini masih butuh mereka, karena tanpa guru tidak akan ada generasi yang cerdas, berkarakter, dan berdaya saing. Sudah saatnya pemerintah membuktikan keberpihakan. Jika tidak, sejarah akan mencatat bahwa kita pernah melupakan para pahlawan sejati bangsa ini.
Penulis adalah Pemerhati pendidikan & Lingkungan
Editor : Redaktur SpionNews.id Maluku

