
Meski isu ini telah mencuat sejak awal April, fakta di lapangan menunjukkan belum ada satu pun poin tuntutan yang terealisasi. Pemdes Tritiro masih memilih bungkam, sementara gerakan mahasiswa yang sempat mengancam akan “menduduki kantor desa” pun terlihat masih tertahan dalam konsolidasi internal.
Sorotan dari KOMUNITAS DUSSEL TRITIRO
Menanggapi stagnansi ini, Kardi, salah satu pengurus komunitas DUSSEL (Dusun Selatan) TRITIRO, angkat bicara. Ia menyayangkan sikap pasif dari kedua belah pihak yang dianggap justru merugikan kepentingan masyarakat desa secara umum.
“Kami melihat ada upaya penguluran waktu yang disengaja. Transparansi bukan hadiah dari Kades, melainkan hak konstitusional warga yang dijamin UU Desa,” ujar Kardi dalam keterangannya.

Editor : Alfin Hidayat

