Camat Sawerigadi Dukung Karya Buku Anak Desa Maperaha, Bisa Jadi Inspirasi Pembangunan

‎‎SPIONNEWS, Muna Barat - Camat Kecamatan Sawerigadi Muna Barat beri dukungan kepada anak daerah yang berkarya dan membantu pembangunan yang merata demi kesejahteraan masyarakat.‎‎

Hal seperti ini seperti gayung bersambut yang saling terhubung antara masa lalu, masa kini, dan masa depan. Sebuah memori di simpang jalan masa kecil terlintas, kita mengenang dan mengorek tentang kisah-kisah dulu. ‎‎Masih terasa nuansa desa di atas “Bumi Manusia”.

Ketika masih bersekolah di SD, kehidupan kita terasa bahagia. Bukan harta, takhta, atau kemewahan ekonomi, tetapi kita bisa bebas bermain apa saja sampai kadang lupa waktu.‎‎Pasalnya Camat Sawerigadi sekarang adalah, mantan guru SD Rasmin Jaya penerbit buku Transformasi dan Wacana di Era Distrupsi.‎‎

Dalam silaturahmi tersebut, Camat Sawerigadi La Sagala mengatakan bahwa ia sangat bangga melihat anak-anak didiknya dulu melahirkan sebuah karya akan dapat menjadi inspirasi untuk generasi muda serta bisa membantu proses ide-ide pembangunan yang ada di Muna Barat.

‎‎"Semoga semua harapan dan cita-cita bisa tercapai dan saya turut bangga dengan karya yang telah diukir di dalam sebuah buku perdana yang berjudul Transformasi dan Wacana di Era Disrupsi semoga ini menjadi inspirasi bagi generasi muda saat ini. Terus berkarya," Tegasnya.‎‎‎

Sementara, Penulis Buku, Rasmin Jaya mengatakan ia kembali bernostalgia seperti mengalir deras, membawa kisah-kisah desa yang tetap teguh meski dunia terus berubah. Seperti air, kita belajar untuk mengalir, melewati rintangan, dan tetap menemukan jalan menuju kebebasan.

Memang di masa itu, belum ada gegap gempita pesatnya perkembangan teknologi dengan tetek bengeknya.‎‎Pasalnya memang kita tinggal di pelosok desa yang masih asri, indah, nyaman, tanpa hiruk-pikuk perkotaan dan jauh dari industri pabrik yang mencemari desa tersebut, seperti gadis “perawan”, cantik dan selalu tersimpan dalam memori. Dan itu selalu menjadi inspirasi buat kita sebagai pemuda untuk lebih bermanfaat untuk daerah.‎‎

Meski sebagai anak yang lahir dari petani yang sibuk dengan aktivitas sehari-harinya, tentu punya tanggung jawab. Bagaimana ketika pulang sekolah harus pergi mencangkul, membabat, dan membantu pertanian orang tua yang mungkin hanya bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari.

‎‎"Dulu hanya bermodal keyakinan, keteguhan, kerja keras, dan doa untuk sekolah berharap ada kebaikan di hari esok meskipun di tengah keterbatasan ekonomi," Bebernya.

‎‎Ia juga menerangkan, sebagai masyarakat mekanik dalam istilah Émile Durkheim, gotong royong dan kebersamaan dalam desa tersebut tetap menjadi sesuatu yang nomor satu sebab di sana ada kesamaan nilai dan kesadaran kolektif.‎‎

"Ini adalah selayang pandang dari sebuah fenomena, bukan tentang orang lain, tapi tentang kita yang mungkin juga orang lain di luar sana yang merasakan hal serupa. Tetap optimis dan berjuang untuk mencapai tujuan," Tegasnya.‎‎

Rasmin Jaya bercerita, ada beberapa hal yang menarik dan paling berkesan yang tersirat maupun tersurat dari sebuah percakapan seorang anak dan orang tuanya. Singkat tapi bermakna. Mungkin saja atas kehidupan yang keras, membentuk karakter dan kepribadian hingga saat ini yang berjuang dan terus memantaskan diri melalui jalur pendidikan dan organisasi.

‎‎"Secercah harapan tentang hari esok, meskipun orang tua tidak menuntut kita harus seperti apa ke depan, tetapi paling tidak kita sebagai anak bisa berpikir, ‎memahami, mengilhami, dan mendalami setiap makna yang tersirat dari setiap ungkapan yang datang dari perasaan dan hati yang penuh harap," Harapnya.‎‎

Bagi banyak orang tua, menguliahkan anak itu butuh perjuangan berat. Jadi, ketika anaknya bisa sarjana, itu benar-benar sebuah pencapaian bagi mereka. Apalagi kalau mereka dulunya enggak punya kesempatan untuk bersekolah lebih baik. Menguliahkan anak sampai sarjana itu sebuah ‎pencapaian bagi mereka. ‎‎Kalau bagimu itu biasa saja, jangan ‎pakaikan ukuran bajumu ke tubuh mereka.

Ujarnya, Apalagi tubuh mereka yang setiap hari dibakar panas matahari, dihujani oleh hujan, dihadapkan dengan kerja-kerja yang tak mudah demi ‎anak kuliah.‎‎Meskipun harus menanggung cacian dan makian demi mengirimkan anaknya yang sementara berjuang kuliah dan menuntut pendidikan.

"Penghasilan orang tua setiap bulannya mungkin tak seberapa, tapi tekad, semangat, dan jiwa optimis membara di dalam dada demi melihat anaknya mencapai puncak kesuksesannya".‎‎Tegasnya.

Editor : Harry

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *