SPIONNEWS, BUTON SELATAN – Ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di wilayah Kabupaten Buton Selatan kian mengkhawatirkan seiring masuknya musim kemarau yang disertai cuaca panas ekstrem. Menyikapi situasi krusial ini, Gerakan Pemuda Daerah Buton Selatan (G-PEMDA BUSEL) mengambil langkah cepat dengan mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk memperkuat benteng pertahanan lingkungan melalui aksi nyata.
Kondisi vegetasi yang mengering akibat paparan terik matahari yang menyengat dalam beberapa pekan terakhir dinilai menjadi pemicu utama tingginya risiko kebakaran. Sedikit saja kelalaian manusia, dapat berakibat fatal pada hangusnya puluhan hektar lahan hijau yang menjadi penopang ekosistem daerah.
Melihat urgensi tersebut, Ketua G-PEMDA BUSEL, Jamiludin, S.H., menyatakan bahwa penanganan bencana karhutla saat ini tidak bisa lagi dilakukan dengan cara-cara biasa atau hanya mengandalkan satu pihak. Menurutnya, di tengah ancaman cuaca panas yang membakar ini, semangat kolaborasi multi-pihak adalah kunci utama untuk menyelamatkan bumi Buton Selatan.
“Tugas ini bukan hanya tugas TNI, POLRI Dan Pemerintah Daerah Buton Selatan, melainkan tugas kita semua. Cuaca yang sangat panas ini membuat lahan kita seperti korek api yang siap menyala kapan saja. Jika kita tidak bersatu dan berkolaborasi secara masif, kita akan terlambat,” tegas Jamiludin dalam rilis persnya pada Sabtu (5/9).
Sebagai bentuk tindakan konkret di lapangan, G-PEMDA BUSEL memperkenalkan dan mengajak masyarakat luas untuk mengadopsi gerakan prinsip 3M. Langkah taktis ini dirancang agar mudah dipahami dan dipraktikkan oleh warga hingga ke tingkat desa dan kelurahan :
Mencegah: Menghentikan total praktik pembukaan lahan dengan cara dibakar, tidak membuang puntung rokok yang masih menyala secara sembarangan di area semak kering, serta menghindari pembuatan api unggun di sekitar kawasan hutan.
Melaporkan: Membangun sistem deteksi dini berbasis warga, di mana masyarakat diminta segera melaporkan setiap kemunculan titik asap sekecil apa pun kepada pemerintah desa, aparat penegak hukum, atau posko pemadam kebakaran terdekat.
Memadamkan: Mengobarkan semangat gotong-royong untuk melakukan aksi pemadaman awal secara mandiri menggunakan alat seadanya yang aman, guna mencegah api meluas sebelum tim pemadam utama tiba di lokasi.
“Kepada rekan-rekan pemuda se-Buton Selatan, mari kita jadikan momentum ini untuk membuktikan bahwa pemuda adalah garda terdepan pelindung daerah. Luangkan waktu kita untuk ikut memantau area rawan di desa masing-masing. Bagi para pelancong dan pengendara, tolong dengan sangat, matikan puntung rokok Anda secara sempurna sebelum dibuang. Puntung kecil yang Anda sepelekan bisa menjadi bencana besar bagi ribuan kepala keluarga,” tambahnya.
Dampak dari karhutla bukan hanya merusak alam, melainkan juga mengancam kesehatan masyarakat akibat polusi asap, mematikan sumber mata air, serta merugikan sektor pertanian yang menjadi tumpuan ekonomi warga Buton Selatan.
“Melalui semangat kolaborasi ini, mari kita rapatkan barisan. Jaga hutan kita, karena hutan adalah napas kita. Jangan biarkan masa depan anak cucu kita tertutup oleh pekatnya kabut asap. Satu tindakan pencegahan kecil yang kita lakukan hari ini, akan menyelamatkan jutaan kehidupan dan keindahan alam Buton Selatan di masa depan,” pungkas Jamiludin.(**)
Editor: Harry

