SPIONNEWS.ID, BAUBAU — Sebanyak 31 mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Dayanu Ikhsanuddin (Unidayan) Baubau melaksanakan studi empiris ke Kabupaten Badung, Provinsi Bali. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkaya wawasan akademik mahasiswa melalui pengamatan langsung terhadap praktik inovasi dan tata kelola pemerintahan daerah.
Kegiatan studi empiris tersebut mendapat perhatian dari Direktur Program Pascasarjana Unidayan, Prof. Dr. Andi Tenri Machmud, M.Si. Menurutnya, pembelajaran di tingkat pascasarjana tidak cukup hanya dilakukan melalui kajian teoritis di ruang perkuliahan, tetapi perlu diperkuat dengan pengalaman langsung di lapangan.
Studi empiris ke Kabupaten Badung dipandang penting karena mahasiswa dapat melihat secara langsung bagaimana konsep administrasi publik, inovasi pelayanan, pemanfaatan teknologi, serta tata kelola pemerintahan diterapkan dalam praktik pemerintahan daerah.
Program Pascasarjana Unidayan sendiri memiliki Program Studi Magister Ilmu Administrasi Negara yang dirancang untuk membekali mahasiswa dengan kemampuan memahami, menganalisis, dan merumuskan solusi terhadap berbagai persoalan administrasi publik. Program tersebut saat ini berstatus akreditasi Baik Sekali.
Menghubungkan Teori dengan Praktik
Studi empiris ini diharapkan dapat menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa untuk menghubungkan teori yang diperoleh selama perkuliahan dengan realitas penyelenggaraan pemerintahan.
Melalui observasi dan dialog dengan para pemangku kepentingan di daerah tujuan, mahasiswa dapat mengidentifikasi berbagai bentuk inovasi pemerintahan, mekanisme pelayanan publik, pemanfaatan teknologi informasi, serta strategi pemerintah daerah dalam meningkatkan efektivitas penyelenggaraan pemerintahan.
Pendekatan tersebut menjadi semakin relevan di tengah tuntutan reformasi birokrasi dan transformasi digital pemerintahan. Pemerintah daerah dituntut tidak hanya mampu menjalankan fungsi administratif, tetapi juga menghasilkan pelayanan publik yang cepat, efektif, transparan, responsif, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.
Badung sebagai Laboratorium Pembelajaran
Kabupaten Badung dipilih sebagai lokasi studi empiris karena dapat menjadi salah satu referensi pembelajaran mengenai praktik tata kelola pemerintahan daerah dan inovasi pelayanan publik.
Bagi mahasiswa Pascasarjana Unidayan, kunjungan lapangan semacam ini bukan sekadar kegiatan akademik di luar kampus. Lebih jauh, kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk melakukan proses learning by doing, yaitu memahami persoalan pemerintahan berdasarkan pengalaman dan kondisi nyata di lapangan.
Mahasiswa juga dapat melakukan perbandingan antara praktik tata kelola yang ditemukan di Badung dengan kondisi pemerintahan daerah di Sulawesi Tenggara, khususnya di wilayah Kepulauan Buton.
Perbandingan tersebut dapat menjadi bahan penting dalam penyusunan penelitian tesis maupun pengembangan gagasan kebijakan publik yang lebih kontekstual dengan kebutuhan daerah.
Mendorong Mahasiswa Menjadi Analis Kebijakan
Studi empiris juga diharapkan mampu membentuk cara berpikir mahasiswa agar tidak hanya menjadi penghafal teori administrasi publik, tetapi berkembang menjadi analis kebijakan dan pemecah masalah publik.
Dalam konteks tersebut, mahasiswa dituntut mampu mengidentifikasi persoalan, menemukan faktor penyebab, menganalisis berbagai alternatif kebijakan, serta memberikan rekomendasi berdasarkan bukti empiris. Hal ini sejalan dengan perkembangan Program Pascasarjana Unidayan yang terus mendorong peningkatan kualitas akademik dan relevansi pendidikan dengan kebutuhan masyarakat.
Unidayan juga terus memperkuat kapasitas akademiknya, antara lain melalui penambahan Guru Besar, termasuk Prof. Dr. Andi Tenri Machmud, M.Si., dalam bidang kepakaran sosiologi gender dan pemberdayaan masyarakat.
Dari Badung untuk Penguatan Tata Kelola di Buton
Hasil studi empiris diharapkan tidak berhenti pada pengalaman mahasiswa selama berada di Kabupaten Badung. Pengetahuan dan temuan lapangan tersebut dapat dikembangkan menjadi bahan diskusi akademik, penelitian, maupun rekomendasi kebijakan.
Dengan demikian, kegiatan studi empiris menjadi bagian dari proses membangun kapasitas sumber daya manusia yang mampu membawa gagasan inovasi tata kelola pemerintahan ke daerah masing-masing.
Bagi mahasiswa Pascasarjana Unidayan, pengalaman tersebut sekaligus menjadi momentum untuk melihat bahwa inovasi pemerintahan bukan hanya persoalan teknologi, tetapi juga menyangkut kepemimpinan, kelembagaan, kualitas sumber daya manusia, budaya organisasi, partisipasi masyarakat, serta kemampuan pemerintah merespons perubahan.
Pada akhirnya, studi empiris ke Badung diharapkan dapat memperkuat kompetensi mahasiswa Pascasarjana Unidayan dalam memahami praktik administrasi publik secara lebih komprehensif sekaligus melahirkan gagasan-gagasan inovatif yang dapat memberikan kontribusi bagi peningkatan kualitas tata kelola pemerintahan di daerah.
Studi empiris bukan sekadar perjalanan akademik, tetapi sebuah proses membawa mahasiswa keluar dari ruang kelas untuk melihat, menganalisis, dan memahami bagaimana pemerintahan bekerja dalam kehidupan masyarakat. (RAL)

Editor : Rusly, S.Mn.

