SERAM, SPIONNEWS.ID – Bahasa lokal atau bahasa daerah di wilayah Kesui Watubela, Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), dinilai semakin mengalami degradasi di tengah kuatnya penggunaan bahasa Indonesia, dialek Melayu Ambon, serta pengaruh perkembangan media digital.
Kondisi tersebut menjadi perhatian Asrun Tatroman, S.Pd, yang mengamati perkembangan penggunaan bahasa daerah di lingkungan pendidikan, khususnya di SMP Negeri 18 Sumelang, Kecamatan Tamher Warat.
Menurut Asrun, peserta didik saat ini cenderung lebih nyaman menggunakan bahasa Indonesia maupun dialek Melayu Ambon dalam komunikasi sehari-hari. Kondisi tersebut secara perlahan berdampak terhadap kemampuan generasi muda dalam memahami dan menggunakan bahasa ibu mereka.
“Bahasa daerah bukan sekadar alat komunikasi, tetapi identitas, sejarah, dan nilai-nilai leluhur masyarakat,” ujar Asrun.
Ia menegaskan, ketika sebuah bahasa daerah kehilangan penuturnya, yang terancam hilang bukan hanya kosakata, tetapi juga pengetahuan lokal, cara pandang, sejarah dan jati diri masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun.
“Ketika satu bahasa daerah hilang, maka hilang pula cara pandang, pengetahuan lokal, dan jati diri sebuah komunitas. Karena itu, sekolah harus menjadi garda terdepan pelestarian bahasa daerah, dan itu membutuhkan dukungan nyata dari pemerintah daerah,” katanya.
Sementara itu, berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu tokoh masyarakat Desa Rumadun, Baco Rumakur, pada 26 September 2026, kondisi penggunaan bahasa lokal di wilayah setempat disebut telah mengalami penurunan cukup jauh.
Baco menjelaskan, bahasa lokal mulai terkikis dalam kehidupan sehari-hari. Generasi muda juga dinilai semakin banyak yang tidak lagi menguasai bahasa daerah sebagaimana generasi sebelumnya.
Persoalan tersebut semakin kompleks karena hingga kini masih terdapat keterbatasan bahan ajar tertulis bahasa daerah yang standar dan sesuai dengan kebutuhan sekolah.
Selain itu, keterbatasan guru yang memiliki kompetensi khusus dalam pengajaran bahasa daerah serta minimnya ruang praktik berbahasa daerah di lingkungan sekolah menjadi tantangan tersendiri.
Dorong Penguatan Muatan Lokal
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Asrun mendorong adanya penguatan kurikulum muatan lokal dengan menetapkan bahasa daerah sebagai bagian dari pembelajaran yang terstruktur dan memiliki alokasi waktu yang jelas.
Ia juga mengusulkan penyusunan bahan ajar berupa buku bahasa daerah, kamus sederhana, serta kumpulan cerita rakyat yang disusun melalui kerja sama sekolah dengan tokoh adat, tokoh masyarakat dan akademisi.
Menurutnya, peningkatan kapasitas guru juga penting dilakukan melalui pelatihan dan pendampingan. Tokoh adat maupun penutur asli bahasa daerah dapat dilibatkan sebagai narasumber atau mitra sekolah.
Selain pembelajaran formal, sekolah juga dapat menetapkan satu hari dalam setiap pekan sebagai hari berbahasa daerah.
Kegiatan budaya seperti lomba pidato, cerita rakyat, nyanyian dan pembacaan puisi menggunakan bahasa daerah juga dinilai dapat menciptakan ruang bagi peserta didik untuk kembali menggunakan bahasa lokal.
Asrun turut mendorong keterlibatan keluarga dan masyarakat. Menurutnya, pelestarian bahasa tidak cukup dilakukan di sekolah, tetapi harus dimulai dari lingkungan keluarga dengan membiasakan anak menggunakan bahasa ibu dalam kehidupan sehari-hari.
Dokumentasi digital terhadap tuturan, cerita rakyat dan lagu-lagu daerah juga dinilai penting agar kekayaan bahasa dan budaya Kesui Watubela dapat menjadi arsip bagi generasi mendatang.
Minta Perhatian Pemkab SBT
Asrun secara khusus meminta perhatian Bupati Seram Bagian Timur dan jajaran pemerintah daerah terhadap kondisi bahasa lokal di wilayah kepulauan, termasuk Kesui Watubela.
Ia berharap pemerintah daerah dapat menerbitkan kebijakan yang memberikan perlindungan dan ruang pengembangan bahasa daerah dalam dunia pendidikan.
Selain itu, diperlukan dukungan anggaran untuk pelestarian bahasa dan budaya daerah, terutama bagi sekolah-sekolah yang berada di wilayah kepulauan dan memiliki keterbatasan akses.
Asrun juga mendorong Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten SBT memberikan perhatian terhadap pembinaan bahasa daerah di SMP Negeri 18 Sumelang Tamher Warat dan, jika memungkinkan, menjadikannya sebagai salah satu sekolah percontohan dalam program revitalisasi bahasa lokal.
Kerja sama dengan Balai Bahasa Provinsi Maluku, perguruan tinggi, tokoh adat dan lembaga masyarakat juga dinilai penting untuk melakukan pendataan, dokumentasi, penyusunan bahan ajar hingga pengembangan metode pembelajaran bahasa daerah.
“Pelestarian bahasa daerah adalah tanggung jawab bersama. Sekolah, keluarga, tokoh adat, masyarakat dan pemerintah harus mengambil bagian agar bahasa lokal Kesui Watubela tetap hidup dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya,” pungkasnya.
Editor : EB

