Gazebo Literasi SD Inpres Pelita Jaya Disorot, Kepala Sekolah Beri Klarifikasi Soal Pembiayaan

SERAM, SPIONNEWS.ID – Pembangunan gazebo literasi di sejumlah sekolah dasar di Kabupaten Seram Bagian Barat mendapat sorotan dari tokoh pemuda sekaligus pemerhati pendidikan, La Maarup Tomia, S.Pd. Sorotan tersebut terutama berkaitan dengan dugaan beban pembiayaan yang harus ditanggung orang tua murid.

Salah satu yang disorot adalah pembangunan gazebo literasi di SD Inpres Pelita Jaya, Kecamatan Seram Barat, Kabupaten Seram Bagian Barat.

Maarup menilai program literasi di sekolah seharusnya tidak justru menimbulkan beban baru bagi orang tua murid, terutama apabila pembiayaan pembangunan fasilitas tersebut berasal dari kontribusi orang tua.

Menanggapi sorotan tersebut, pihak SD Inpres Pelita Jaya memberikan klarifikasi mengenai proses pembangunan gazebo literasi.

Kepala sekolah menjelaskan bahwa rencana pembangunan tempat baca tersebut dibahas dalam pertemuan bersama orang tua murid. Pertemuan itu dilakukan antara lain karena adanya rencana kunjungan monitoring literasi dari Bappeda Provinsi Maluku.

Menurut pihak sekolah, dalam pertemuan tersebut orang tua mengusulkan pembuatan tempat baca sebagai bagian dari kebutuhan literasi di lingkungan sekolah.Pihak sekolah mengaku tidak menentukan bentuk maupun besaran biaya pembangunan gazebo. Orang tua diberikan ruang untuk merencanakan sendiri pembangunan tersebut.

“Perencanaannya semuanya dari orang tua dan kami tidak mencampuri dengan bahan atau keuangannya,” demikian penjelasan pihak sekolah.

Sekolah juga menyebutkan bahwa dalam pertemuan tersebut pihaknya menyarankan agar pembangunan dibuat sederhana dan tidak harus menggunakan bahan yang mahal. Bahkan penggunaan gaba-gaba disebut dapat menjadi salah satu alternatif.

Dengan mekanisme tersebut, pihak sekolah mengaku tidak mengetahui secara pasti berapa biaya yang dikeluarkan orang tua untuk satu unit gazebo.

Pihak sekolah juga menegaskan bahwa pembangunan gazebo tersebut tidak tercantum dalam Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS).

“Pada RKAS kami tidak menganggarkan, apalagi ada mau kunjungan sehingga kami mengambil alternatif untuk bantuan orang tua,” jelas pihak sekolah.

Terkait dugaan adanya keluhan dari orang tua murid karena pembiayaan pembangunan gazebo, pihak sekolah menyatakan hingga saat ini tidak pernah menerima keluhan tersebut.

“Selama pertemuan dan sampai sekarang saya tidak pernah dengar keluhan dari orang tua. Saat pertemuan juga kami tidak memaksakan untuk dibebani,” ujar pihak sekolah.

Namun demikian, sorotan terhadap pembiayaan fasilitas literasi tetap menjadi perhatian karena menyangkut hubungan antara kebutuhan peningkatan budaya baca di sekolah dengan kemampuan ekonomi orang tua murid.

Di sisi lain, pembangunan fasilitas literasi yang melibatkan orang tua perlu dilakukan secara transparan dan berdasarkan kesepakatan, tanpa adanya tekanan atau kewajiban yang dapat membebani wali murid.

Sorotan La Maarup Tomia maupun klarifikasi pihak sekolah tersebut menjadi bagian penting untuk melihat secara utuh bagaimana pelaksanaan program literasi dan pembangunan fasilitas pendukungnya di sekolah.

SPIONNEWS.ID akan terus melakukan konfirmasi kepada pihak-pihak terkait untuk memastikan informasi mengenai pembangunan gazebo literasi, mekanisme pembiayaan, serta bentuk keterlibatan orang tua murid.

Editor : EB

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *