SPIONNEWS.ID, MALUKU – Kematian Teguh Asida akibat penikaman di Desa Poka, Kecamatan Teluk Ambon, pada 12 September 2026 masih menyisakan tanda tanya bagi keluarga.
Hingga Jumat (9/10/2026), keluarga mengaku belum mengetahui identitas pelaku dan mendesak kepolisian memberikan kejelasan mengenai perkembangan penanganan perkara tersebut.
Alina, ibu korban, bersama keluarga berharap kasus yang telah ditangani Polsek Teluk Ambon itu mendapat perhatian serius dari Kapolres Ambon.
Mereka menginginkan penyelidikan berjalan hingga fakta mengenai peristiwa yang merenggut nyawa Teguh terungkap.
Bagi keluarga, ketidakjelasan mengenai siapa pelaku menjadi persoalan yang terus membayangi setelah kehilangan anggota keluarga mereka.
Mereka mengaku telah berulang kali mendatangi Polsek Teluk Ambon untuk menanyakan perkembangan kasus, tetapi masih menantikan informasi yang dinilai memberikan kepastian.
Paman Korban (sawal) menyebut dirinya telah sekitar tiga hingga empat kali mendatangi kepolisian untuk mempertanyakan penanganan perkara tersebut. Keluarga berharap upaya itu tidak berhenti pada kunjungan dan pertanyaan, tetapi diikuti perkembangan penyelidikan yang dapat dijelaskan kepada mereka.
“Kami menuntut keadilan untuk Teguh. Anak kami sudah meninggal dunia akibat penikaman, tetapi sampai sekarang kami belum mengetahui siapa pelakunya. Kami berharap kasus ini mendapat perhatian serius,” demikian inti tuntutan yang disampaikan pihak keluarga.
Keluarga juga berharap setiap petunjuk yang berkaitan dengan kejadian diperiksa secara menyeluruh, termasuk bukti yang berpotensi membantu penyidik merekonstruksi peristiwa sebelum korban meninggal dunia.
Mereka meminta proses tersebut dilakukan secara profesional dengan mengedepankan bukti dan keterangan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Desakan agar Kapolres Ambon turun tangan bukan dimaksudkan untuk mendahului proses hukum, melainkan sebagai harapan keluarga agar penanganan perkara memperoleh perhatian dan memberikan kepastian. Mereka ingin mengetahui langkah yang telah ditempuh penyidik, kendala yang dihadapi, serta upaya untuk mengidentifikasi pihak yang bertanggung jawab.
Dalam perkara yang menyebabkan hilangnya nyawa seseorang, kejelasan proses penegakan hukum menjadi penting bagi keluarga korban. Namun, penetapan seseorang sebagai pelaku harus tetap didasarkan pada alat bukti dan prosedur hukum yang berlaku.
Bagi Alina dan keluarga, harapannya tetap sama: kematian Teguh Asida mendapat kejelasan, pihak yang bertanggung jawab dapat diungkap berdasarkan bukti, dan keadilan dapat ditegakkan sesuai hukum.
Editor : EB

