Ketergantungan Produk AS Dan Kebijakan Trump Beresiko Menghancurkan Industri Lokal Indonesia

Oleh: Yogi Finanda Putra Silawane Mahasiswa Universitas Pattimura Ambon

SPIONNEWS.ID,MALUKU – Keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump  yang memakai non-tarif menempatkan Indonesia pada posisi yang tidak menguntungkan. Sementara Indonesia menetapkan tarif 19% yang tampak tinggi, itu belum cukup untuk melindungi pasar dalam negeri dari manipulasi sistem perdagangan global

Mengutip pernyataan Trump yang di lansir dari BBC news” saya telah berbicara dengan presiden indonesia yang hebat presiden indonesia yang pintar, populer, dan kuat adalah bentuk penghinaan kepada Presiden maupun Negara Indonesia karena keputusan non tarif ini merugikan para pelaku UMKM karena produk lokal akan kalah saing dengan produk AS

Kita diposisikan hanya sebagai konsumen besar bagi produk AS, sementara tak ada kebijakan timbal balik yang adil dalam hal tarif , ini adalah ketimpangan dan sangat berbahaya karena memperkuat dominasi asing pada sektor-sektor vital seperti energi dan industri aviasi.”

kebijakan Trump ini sangat berpengaruh dan beresiko untuk Indonesia. Resiko fiskal meningkat karena Indonesia harus memberi subsidi lebih banyak (misalnya untuk energi yang diimpor dari AS)

Baca Juga : Macan Yang Tunduk Pada Keadaan Politik

Industri dalam negeri tertekan, karena produk impor dari AS bisa lebih murah dan menguasai pasar lokal. Ketergantungan pada produk AS membuat Indonesia kehilangan kemandirian, terutama di sektor penting seperti energi dan penerbangan.

Kebijakan tersebut memang mengurangi tarif dari 32% menjadi 19%, tapi di balik angka itu tersembunyi beban besar bagi Indonesia. Alih-alih untung, kita justru menghadapi risiko fiskal yang melonjak, tekanan terhadap industri lokal, serta ancaman ketergantungan pada produk asing, khususnya dari sektor strategis seperti energi dan aviasi.

Komitmen pembelian produk Amerika serikat hanya terlihat manis di atas kertas, namun berpotensi menjadi beban struktural dalam jangka panjang. Indonesia tidak boleh hanya berdiri sebagai pasar.

Sudah waktunya memperkuat produksi dalam negeri, memperluas mitra dagang di luar AS, dan menciptakan sistem ekonomi yang lebih tangguh dan mandiri (ABR)

Gambar : SK

Editor : EB

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *