Anak Nelayan Menembus Batas Tradisional

SPIONNEWS.ID, BATAUGA – Sosok yang satu ini, biasanya akrab disapa dengan panggilan Kawan Ali. Anak ke-8 dari 11 bersaudara ini dilahirkan dari cinta kasih Ayah La Gumana dan Ibu Wa Piatu di Dusun Waitibu Desa Tihulale Kecamatan Kairatu Kabupaten Maluku Tengah Provinsi Maluku pada 10 Juli 1982, dan diberi nama lengkap La Alianto.

Ayah Kawan Ali, La Gumana tesebut telah meninggal dunia pada 2006 lalu dan Ibu Kawan Ali, Wa Piatu itu hingga saat ini masih hidup dan tinggal bersama neneknya Kawan Ali dari ibunya tersebut yang bernama Wa Naya serta cucu-cucunya dari anak-anak kakaknya Kawan Ali, Wa Erna (44), yaitu; Wa Ona (20), La Dipin (18) dan Arumi (15). Mereka semua itu tinggal saat ini di Lingkungan Kakambero Kelurahan Masiri Kecamatan Batauga, Kabupaten Buton Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara.

Kawan Ali itu, kebanyakan menghabiskan masa kecilnya di Dusun Waitibu tersebut. Di kampung inilah Kawan Ali bersama teman-temannya kebanyakan menghabiskan masa kecilnya dengan bermain-mainan ala permainan anak zaman tahun 90-an pada umumnya. Letak Geografis Dusun Waitibu itu berlokasi di Pesisir Pantai Pulau Seram, sehingga Kawan Ali di setiap kesempatannya selalu bermain di pantai bersama kawan-kawan sebayanya.

Sebagai anak nelayan mereka pun dituntun untuk bisa berenang dan menyelam di pesisir pantai tersebut. Hal ini mereka lakukan secara otodidak, sehingga tidak mengherankan kebanyakan dari mereka sudah mahir dalam berenang dan menyelam di pantai yang tenang maupun berombak dalam usia belia. “Ketika itu, kalau lagi saya mau berenang dari pantai yang dangkal ke daerah pantai yang dalam, kita harus mempersiapkan diri dengan memakai alat bantu seadanya, seperti dahan kayu atau dahan sagu kering,” ujarnya.

Aktivitas seperti itu sering kali mereka lakukan mulai dari usia anak-anak hingga remaja, apalagi di dusun itu, kebanyakan penduduknya bermata pencaharian sebagai seorang nelayan tradisional. Pasalnya, ketika di pagi hari pada saat itu, kalau kita ingin mendapatkan ikan, maka di pagi hari kita harus ke pantai Waitibu untuk menunggu para nelayan yang pulang dari melaut mencari ikan. “Kebiasaan melaut para nelayan kami di Dusun Waitibu pada saat itu, kalau mereka pulang pagi, berangkatnya subuh dan kalau mereka pulang sore, maka perginya melaut siang hari,” ucapnya.

Akibat tragedi 98 dan 99 yang melanda Provinsi Maluku, sehingga Kawan Ali kecil bersama keluarganya harus meninggalkan Dusun Waitibu, mengungsi ke Pulau Buton. “Kami mengungsi ke Buton dengan menggunakan Perahu Layar Tradisional Buton yang dikenal oleh orang Maluku dengan istilah Kapal Boat dengan penggerak utamanya adalah layar, namun di Daerah Buton kapal sejenis itu dikenal dengan nama Bang’ka yang dinakodahi oleh Saudaraku La Saenudin,” imbuhnya, sembari menjelaskan, Saudara La Saenudin adalah Kakak Tertua dari Kawan Ali.

Lebih lanjut, Kawan Ali menjelaskan, keseluruhan penumpang dari perahu layar yang dinakodahi oleh Saudara La Saenudin adalah keluarga dekat Kawan Ali. “Di atas kapal itu, ada Paman Yusuf berserta anggota keluarganya, La Asman dan Wa Rita berserta anggota keluarganya, Paman Sudin berserta istri dan anggota keluarganya, Abang Muda berserta anggota keluarganya dan anggota yang lainnya,” ucapnya. (bersambung)

Editor : Rusly, S.Mn.

2 thoughts on “Anak Nelayan Menembus Batas Tradisional

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *