“Bandar Batauga Jadi Sentra Rumput Laut Terbesar di Buton Selatan, Harga Naik Dorong Ekonomi Lokal”
- Mei 2026
- April 2026
- Maret 2026
- Februari 2026
- Januari 2026
- Desember 2025
- November 2025
- Oktober 2025
- September 2025
- Agustus 2025
- Juli 2025
- Juni 2025
- Mei 2025
- April 2025
- Maret 2025
- Februari 2025
- Januari 2025
- Desember 2024
- November 2024
- Oktober 2024
- September 2024
- Agustus 2024
- Juli 2024
- Juni 2024
- Mei 2024
- April 2024
- Maret 2024
- Februari 2024
- Januari 2024
- Desember 2023
- November 2023
- Oktober 2023
- September 2023
- Agustus 2023
- Juli 2023
- Juni 2023
- Mei 2023
- April 2023
- Maret 2023
- Februari 2023
SPIONNEWS , Batauga — Rumput laut menjadi salah satu potensi kelautan yang tidak bisa diabaikan begitu saja, hal ini terlihat dari harga rumput laut di Kelurahan Bandar Batauga, Kecamatan Batauga, Kabupaten Buton Selatan, mengalami kenaikan dari Rp17.000 menjadi Rp20.000 per kilogram sejak tiga hari terakhir. Kabar baik ini membuat para petani kembali bergairah setelah sempat terpukul akibat anjloknya harga beberapa tahun lalu.

Ketika ditemui salah satu petani agar-agar Herman (55), mengatakan kenaikan harga tersebut sangat berarti bagi para pembudidaya.

“Alhamdulillah harga sudah naik jadi Rp20 ribu per kilo. Dengan kenaikan ini kami makin semangat, meski masa panen sudah hampir selesai,” ujarnya, Rabu (5/11/2025).
Ungkap Herman, masa panen akan berakhir pada November dan dimulai kembali sekitar Mei tahun depan karena faktor cuaca. Meski demikian, hasil panen tahun ini cukup menggembirakan.
“Minimal empat ton per orang sekali panen, bahkan bisa sampai delapan ton tergantung jumlah rakit,” tuturnya.
Ia menjelaskan, jumlah petani rumput laut di Kelurahan Bandar Batauga, kini tersisa sekitar 175 orang, menurun dari 325 orang pada tahun 2022. Penurunan itu terjadi setelah harga sempat anjlok hingga Rp8.000 per kilogram sekitar tiga tahun lalu.
“Kalau harga stabil seperti sekarang, semangat petani pasti tumbuh lagi,” terangnya.
Para petani juga berharap pemerintah daerah dapat membangun pabrik pengolahan rumput laut di Buton Selatan agar nilai jual meningkat dan harga lebih stabil.
“Kalau ada pabrik di sini bagus sekali. Produksi kami per musim bisa mencapai 500–700 ton,” jelas Herman.
Sebelumnya di tempat berbeda, hal senada disampaikan Kamelia (35), petani lainnya. Ia mengeluhkan biaya produksi yang terus meningkat, terutama untuk bahan baku rakit dan bibit.
“Sekarang bambu untuk rakit Rp35 ribu per batang, bibit Rp80 ribu per kilo. Kami berharap ada bantuan agar biaya bisa ditekan,” ujarnya saat ditemui saat mengikat rumput laut beberapa waktu lalu.
Sementara itu, Lurah Bandar Batauga, La Ode Halilu Muminin, menegaskan bahwa wilayahnya merupakan sentra penghasil rumput laut terbesar di Buton Selatan.
“Potensi ini harus terus dikembangkan. Kami berharap bisa membawa manfaat besar bagi masyarakat, meningkatkan perputaran ekonomi, dan pendapatan keluarga,” ungkapnya, Rabu, 5/11/2025.
Berdasarkan data Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Tenggara, produksi rumput laut di Kabupaten Buton Selatan pada 2023 mencapai 1.532 ton. Angka ini menjadikan sektor rumput laut sebagai salah satu komoditas unggulan perikanan budidaya di wilayah tersebut.
Provinsi Sultra sendiri mencatat total produksi mencapai lebih dari 309 ribu ton per tahun, menjadikannya salah satu produsen rumput laut terbesar di Indonesia bagian timur.
Dengan harga yang mulai membaik dan potensi produksi yang besar, masyarakat pesisir Batauga berharap budidaya rumput laut terus menjadi sumber penghidupan utama dan motor penggerak ekonomi lokal Buton Selatan. (**)
Editor: Harry
