SPIONNEWS, Buton Tengah – Yang hari ini sebagai Daerah dengan slogan sebagai Kota Pendidikan diwarnai dengan polemik Revitalisasi Bangunan Sekolah.
Belakangan diketahui polemik ini berawal beredarnya beberapa rilisan pers terkait dugaan Intimidasi pada proyek Revitalisasi Bangunan Sekolah.
“Kami menyoroti perihal polemik Revitalisasi Pembangunan Sekolah ini bukan tanpa sebab, karena kami menganggap ada yang menjanggal dengan apa yang hari ini tersebar luas sebagai informasi yang dikonsumsi publik terkhusus di Buton Tengah. Apa yang menjadi hasil advokasi kami dilapangan justru berbanding terbalik dengan informasi yang disebarkan”ujarnya .
Menurut, Gery Prasetyo (Ketua SAMURAIS) Salah satu aktivis Buton Tengah, yakni Gery Prasetyo turut angkat bicara sebab pihaknya menganggap bahwa ada pihak yang di dzolimi atau dirugikan dalam masalah ini.
“Kami menganggap ini sebenarnya adalah miskomunikasi yang sebenarnya bisa diselesaikan tanpa harus membias kemana-mana. Tapi yang terjadi hari ini adalah pihak konsultan yang seharusnya menangani pekerjaan tersebut justru merasa diFitnah, dimana mereka seolah-olah dianggap meminta proyek dan mengintimidasi pekerjaan tersebut.” Tegasnya (Gery Prasetyo).
Selama proses perencanaan dan pengusulan anggaran revitalisasi pihak konsultan mengaku telah bekerja secara sukarela (ikhlas) dengan Tim sebanyak 22 Orang yang di bagi 7 kecamatan selama 30 Hari bekerja membantu pihak sekolah guna memenuhi kriteria sebagai sekolah calon penerima bantuan Revitalisasi.
Dimana sekolah yang menjadi sasaran survei tersebut adalah TK, SD dan SMP. Dengan jumlah sebanyak 68 sekolah yang disurvei dan dari 68 sekolah tersebut 62 diantaranya diusulkan sebagai sekolah calon penerima bantuan.
Bantuan konsultan pra desain ini mencakup Survey Awal Kondisi Sekolah untuk menilai tingkat kerusakan sekolah yang penilaiannya per item pekerjaan yang kemudian di tuangkan dalam form PUPR yang ditanda tangani oleh Pihak Dinas Pendidikan, Dinas PUPR , dan konsultan itu sendiri sebagai tim survei.
“Selama ini kami ikhlas membantu sekolah untuk bisa masuk dalam sekolah calon penerima revitalisasi pendidikan bahkan mengorbankan waktu, Tenaga dan biaya operasional sendiri tanpa membebani pihak manapun agar sekolah bisa mendapatkan anggaran revitalisasi dari pemerintah pusat. Sekarang setelah anggaran ada, kami justru dituduh yang tidak-tidak, bahkan difitnah memaksa meminta proyek sementara kami dalam posisi ini mempertanyakan yang sekiranya adalah Hak kami.” Tutur pihak Konsultan yang enggan disebut identitasnya.”Secara persuasif saya juga sudah mengkonfirmasi apa yang menjadi claim Pihak Konsultan yang merasa difitnah ini dengan memastikannya diKepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan sebelumnya.
Beliau mengakui bahwa Tim tersebut telah membantu dan terlibat pada saat proses pengelolaan program bantuan revitalisasi tersebut semasa beliau menjabat sebagai Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Buton Tengah.
Namun untuk perkembangan terkait hal itu beliau sampaikan untuk mempertanyakan ke Kepala Dinas saat ini.” Tambah Gery Prasetyo dalam memastikan keAkuratan claim Tim yang telah diFitnah tersebut. (**)
Editor : Harry

