SPIONNEWS, BAUBAU – Sepuluh tahun sejak diresmikan, Jembatan Biru yang menghubungkan Pulau Makasar, Puma, dengan daratan Kota Baubau kini dalam kondisi memprihatinkan. Hingga Agustus 2026 belum ada pemugaran maupun perbaikan signifikan pada struktur dan tiang penyangga.
Jembatan ini diresmikan pada 5 Juli 2017 di masa pemerintahan Gubernur Sultra Nur Alam. Namun warga sudah mulai menggunakannya sejak 2016 karena dianggap jalur tercepat menuju pusat kota.
Sebelum ada jembatan, warga Puma hanya bergantung pada perahu jonson dan katinting untuk ke Baubau.
Jadi urat nadi ekonomi warga
Tokoh pemuda Kelurahan Sukanaeyo, Ali Iskandar Majid, menyebut kehadiran jembatan bukan sekadar akses, tapi sudah menjadi penggerak ekonomi masyarakat Pulau Makasar.
“Kendaraan roda empat seperti pick up, angkutan umum, sampai mobil pribadi tiap hari melintas di sini. Jembatan biru adalah satu-satunya jalur penghubung Puma dan Baubau. Sudah seharusnya Pemkot Baubau segera melakukan perbaikan untuk menghindari hal-hal yang tidak kita inginkan,” ujar Ali saat ditemui, Selasa 18/8/2026.
Kondisi memprihatinkan
Menurut Ali, kerusakan semakin parah dari tahun ke tahun. Saat dilintasi kendaraan roda empat, badan jembatan terasa goyang seolah akan runtuh.
Penyebabnya, sebagian besar tiang penyangga sudah terkikis air laut dan keropos. Ditambah lagi, sejumlah besi pembatas jembatan raib dicuri orang tak bertanggung jawab, sehingga sisi jembatan tidak aman bagi pengendara.
“Kalau dibiarkan tanpa perbaikan ringan maupun pemugaran, ini bisa membahayakan pengendara dan mengancam keberlangsungan jembatan itu sendiri,” tegasnya.
Warga menanti aksi pemerintah
Warga Pulau Makasar mengaku sudah berulang kali menyampaikan keluhan ke pihak legislatif dan eksekutif. Namun sampai saat ini belum ada kepastian kapan perbaikan akan dilakukan.
Mereka berharap Pemkot Baubau segera turun tangan sebelum infrastruktur vital ini benar-benar tidak bisa digunakan. (**)
Editor : Harry

