Tahun 2001 silam, Universitas Muhammadiyah Buton resmi berkiprah di negeri khalifatul khamis

Oleh : Alwin Kader IMM

Berbekalkan semangat amar makruf nahi munkar, gejolak penolakan kepada bendera Muhammadiyah yang awalnya diklaim membelakangi islam mampu diruntuhkan hingga klaim tersebut menjelma menjadi harapan baru bagi Masyarakat setempat kala itu.

Berlandaskan fastabiqul khoirat (berlomba lomba dalam kebaikan) ekspansi pelebaran sayap dakwah Muhammadiyah tergolong massif berkat konsistensi dan kerja kerja iklas para tokoh pendahulu Muhammadiyah Buton kala itu.saat ini, Universitas Muhammadiyah Buton menginjak usia 25 tahun, Adalah merupakan usia yang masih tergolong mudah namun capaian capaian mengharumkan menggemah hingga kepelosok pelosok, dengan usia yang masih tergolong mudah universitas Muhammadiyah sudah mampu bersaing hingga masuk dalam deretan kampus swasta terbaik se provinsi Sulawesi Tenggara.

tak hanya itu, Universitas Muhammadiyah Buton juga kerap mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah pusat, salah satunya Universitas Muhammadiyah Buton perna tersorot karena menjadi salah satu dari beberapa universitas swasta yang menerima alat pembelajaran elektronik hingga mencapai ribuan unit lansung dari pemerintah pusat.

Meskipun tak sepenuhnya mulus, sebagian Gambaran dari capaian capaian yang membanggakan tersebut tentunya tidak lahir dan ada begitu saja, semua dapat terlihat berkat management, diplomasi, ikhtiar serta keiklasan para pimpinan Universitas Muhammadiyah Buton memimpin dari periode ke periode hingga saat ini.

Hari ini, Universitas Muhammadiyyah Buton sedang memasuki moment yang serius setelah ditetapkannya pembentukan panitia pemilihan rektor (panlih) yang secara tidak langsung telah mampu dipastikan bahwa masa kepemimpinan rektor hari ini telah hampir mencapai masa purna.

Dan disinilah moment serius itu mulai menjadi layak untuk diperbincangkan, setelah panitia pemilihan rektor (panlih) resmi terbentuk beberapa nama nama figure yang akan meneruskan kepemimpinan rektor saat ini telah mengudara dan menjadi perbincangan hangat di tiap tiap sudut amal usaha Muhammadiyah hingga ke pojok pojok meja kopi, salah satu alternatif untuk bisa mengidentifikasi hal tersebut dapat dilihat dari siapa yang telah ber status lector kepala sebab hal tersebut merupakan salah satu syarat mutlak untuk menjadi bakal calon rektor (balon Rek).

Namun yang menjadikan hal ini krusial bukan mengarah pada siapa yang terlebih dulu menyandang status sebagai lector kepala, bukan juga pada siapa yang telah lama mengabdikan diri di Muhammadiyah, bukan pula pada sesiapa yang memiliki integritas tertinggi menuju pusaran kontestasi kali ini, namun yang menjadikan ini krusial ialah setelah terhendusnya beberapa nama yang kabarnya telah siap mendeklarasikan diri sebagai bakal calon rektor (balon Rek).

Namun masih diduga memiliki keterkaitan/ketelibatan dalam sengketa asset tanah Muhammadiyah dengan ukuran yang mencapai beberapa hektar/persegi di wilayah wabagere yang Dimana persoalan ini memiliki keterkaitan kuat pada dugaan korupsi 3,12 miliar yang terjadi di Muhammadiyah Buton yang disuarakan kader IMM baubau pada beberapa bulan yang lalu. Kembali merujuk pada persoalan sengeta asset yang dimaksud, telah bukan lagi menjadi rahasia sebab isu tersebut menjadi top trending fundamental internal universitas Muhammadiyah Buton dari awal tahun 2026 hingga sekarang.

Upaya pengungkapan dalam sengketa asett tanah muhammadiyyah tersebut telah dilakukan berjalan hingga berbulan bulan namun bukannya mendapatkan kepastian hukum malah justru semakin rancu setelah merambat dan mentok pada dugaan indikasi yang melibatkan beberapa nama petinggi di Universitas Muhammadiyah Buton, bahwa dalam dugaan tersebut menginstrumenkan telah terjadi pembagian asset tanah Muhammadiyah untuk kepentingan pribadi/atas nama perseorangan (dzalim).

Tentunya dugaan ini belum bisa diklaim sepenuhnya benar sebab belum ada putusan inkra yang melegitimasi nahwa nama nama tersebut terbukti seccara hukum keterlibatnya dalam sengketa yang dimaksud, namun tidak boleh juga diklaim sebaliknya, sebab nama nama tersebut masih berhembus kemana mana dengan predikat terduga kuat memiliki keterlibatan dalam Tindakan dzalim tersebut.

Dan yang menjadikan ini sangat fundamental bukan mengarah pada seputaran sengketah asset tanah tersebut namun ada pada nama nama kandidat yang telah megudara yang di gadang gadang siap terjun dalam kontestasi pilrek kali ini. merujuk pada informasi yang berhembus dari beberapa nama yang telah mengudara ada nama- nama yang diduga terlibat dalam sengketa asset tanah Muhammadiyah juga telah membulatkan tekad untuk mencalonkan diri sebagai rektor Universitas Muhammadiyah Buton.

Kita ketahui bersama bahwa Muhammadiyah memberikan kebebasan kepada semua warganya untuk mengemban Amanah pada struktur manapun dalam amal usaha muhammadyyah selama itu memenuhi syarat syarat yang telah ditentukan, namun perlu pula diperhatikan bahwa diluar ketentuan yang ditetapkan kita telah terlebih dahulu diajarkan bahwa dalam menentukan pimpinan dalam muhammadiyyah/amal usaha muhammadiyyah harus tidak terlepas dari kriteria yang ada dalam kepemimpinan profetik Muhammadiyah.

Bahwa melihat sosok calon pemimpin bukan hanya mengacu dari satu sudut pandang ilmiah seperti jenjang akademisi misalnya, namun menentukan sosok seorang calon pimpinan juga harus selaras dengan risalah risalah islam yang tentunya non ilmiah salah satunya tentang seberapa komitmennyas ia menjaga Amanah (Qs.An-Nisa ayat 58, Qs. Al-Mu’minun ayat 8, Qs. Al-Ahzab ayat 72).

Hari ini sebagian nama-nama yang mengudara untuk menuju kontestasi pilrek masih dalam radar terduga pada keterlibatan terhadap sengketa tanah Muhammadiyah dan yang paling mind blowing adalah oknum yang di duga kuat sebagai pemeran utama pada dua sumber masalah besar yang menggemparkan Muhammadiyah Buton belangan ini seperti isu pada dugaan korupsi 3,12 miliar lalu pada dugaan bagi bagi asset tanah Muhammadiyah, diduga terhembus pula Namanya untuk ikut serta dalam kontestasi pilrek kali ini.

Sekalipun belum terbukti secara hukum namun sebagai warga Muhammadiyah kita perlu menjadikan ini pertimbangan secara kolektif karena sebaliknya pula dugaan ini belum tentu tidak benar dikarenakan masih dalam tahapan pengungkapan.

pada situasi ini warga Muhammadiyah seolah terpenjara dalam sebuah paradox, secara persyaratan telah terpenuhi namun diluar dari pada itu seolah terdapat kecenderungan yang merujuk pada dugaan keterlibatan pada persoalan itu yang sampai hari ini belum menemukan titik terang. sehingga tidak sedikit yang mengutarakan perspektif negative pada beberapa nama yang masih tersandung dalam dugaan tersebut.

Dalam kondisi inilah peran panitia pemilihan rektor (panlih Rek) sangat dibutuhkan. Panlih diharapkan objektif yang selanjutnya pula wajib mempertimbangkan paradox yang menjadi kausalitas warga Muhammadiyah ambigu.

Bukan untuk membatasi hak warga Muhammadiyah dalam menentukan posisi mengemban amanahnya namun dengan dugaan yang masih hangat ini benar adanya, panlih diharapkan bijak dalam menyeleksi para kandidat yang akan masuk dalam pusaran kontestasi pilrek, karena dalam kepemimpinan profetik Muhammadiyah, sangat diharapkan sosok calon pemimpin selaras dengan risalah islam.

Lalu kepada nama nama yang bersangkutan, sangat diharapkan apabila benar ingin mencalonkan diri sebagai rektor Universitas Muhammadiyah Buton, adakalanya dugaan yang melibatkan nama dalam sengketa tanah muhammadiyyah itu diselesaikan/dibersihkan agar tidak menimbulkan keresahan, ketakutan dan pesimis pada benak warga Muhammadiyah, karena akan lebih konkret jika masuk dalam pusaran kontestasi dengan keaadan integritas tak premature.

Untuk Muhammadiyah Buton berkelanjutan,berkemajuan. Fastabiqul khoirat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *