SPIONNEWS.ID, MALUKU – Aktivis Maluku asal Pulau Seram, M. Saleh Keluan, merespons sorotan aktivis Maluku Muhamad Zein Kosso terkait pekerjaan jalan dan jembatan yang ditangani BPJN Maluku di Pulau Seram.
Saleh menilai, kritik terhadap pembangunan infrastruktur merupakan bagian penting dari fungsi kontrol publik. Namun, kritik tersebut harus dibangun berdasarkan kondisi lapangan yang utuh, objektif, serta disertai gagasan konstruktif demi mempercepat pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat.
Menurut Saleh, kondisi jalan di Pulau Seram, mulai dari Kelimury hingga Waipia, termasuk sejumlah ruas jalan lingkar Pulau Seram, secara umum telah memberikan manfaat nyata bagi aktivitas masyarakat.
“Jangan sampai kita hanya melihat persoalan pada satu titik, kemudian menyimpulkan keseluruhan pekerjaan. Kita harus melihat kondisi secara menyeluruh, karena jalan dan jembatan di Pulau Seram merupakan urat nadi ekonomi dan mobilitas masyarakat,” ujar Saleh.
Ia juga menyoroti persoalan longsor, patahan jalan, serta kerusakan yang muncul akibat cuaca dan kondisi geografis Pulau Seram. Menurutnya, persoalan tersebut membutuhkan respons cepat dari pemerintah dan pengelola infrastruktur.
Saleh menyebut Kasatker II BPJN Maluku, Toci Leuwol, sebagai pihak yang selama ini dinilainya menunjukkan perhatian terhadap penanganan persoalan jalan dan jembatan di wilayah Pulau Seram.
“Ketika terjadi persoalan di lapangan, yang paling penting adalah bagaimana negara hadir dan persoalan masyarakat segera ditangani. Kita melihat ada upaya untuk merespons kondisi jalan dan jembatan yang mengalami gangguan, sehingga aktivitas masyarakat tetap berjalan,” katanya.
Bagi Saleh, pembangunan infrastruktur tidak boleh hanya dilihat dari hasil pekerjaan secara fisik, tetapi juga dari seberapa besar manfaatnya terhadap kehidupan masyarakat.
Jalan yang baik, kata dia, berarti membuka akses pendidikan, kesehatan, perdagangan, pertanian, perkebunan, hingga memperlancar hubungan antarkampung dan antarkecamatan.
KRITIK HARUS MELAHIRKAN SOLUSI
Saleh mengajak seluruh masyarakat, pemuda, OKP, serta LSM di Maluku agar terus melakukan kontrol terhadap pembangunan. Namun, ia mengingatkan bahwa kritik harus menjadi energi perubahan, bukan sekadar perdebatan.
“Silakan kita mengkritik. Tetapi kritik yang baik adalah kritik yang juga menawarkan jalan keluar. Jangan sampai kita terlalu sibuk mencari kesalahan, tetapi lupa menyumbangkan pikiran untuk memperbaiki keadaan,” tegasnya.
Menurut mantan pengurus BADKO HMI Maluku-Maluku Utara itu, pembangunan Pulau Seram membutuhkan partisipasi seluruh elemen masyarakat.
Pemerintah membutuhkan kontrol publik, sementara masyarakat juga membutuhkan ruang untuk menyampaikan aspirasi dan gagasan secara objektif.
“Pulau Seram tidak boleh dibangun dengan prasangka. Pulau Seram harus dibangun dengan data, pengawasan, keberanian mengkritik, sekaligus keberanian memberikan apresiasi ketika ada pekerjaan yang memang memberi manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
JALAN ADALAH URAT NADI MASYARAKAT SERAM
Saleh menilai pembangunan dan pemeliharaan jalan serta jembatan di Pulau Seram merupakan pekerjaan strategis. Sebab, tanpa konektivitas transportasi yang memadai, masyarakat akan kesulitan mengakses pusat ekonomi, pendidikan, pelayanan kesehatan, dan pemerintahan.
Ia mengatakan masyarakat harus melihat pembangunan infrastruktur sebagai investasi jangka panjang bagi masa depan Pulau Seram.
“Bayangkan kalau akses jalan tidak tersedia. Masyarakat akan kesulitan membawa hasil pertanian dan perkebunan, anak-anak kesulitan mengakses pendidikan, dan pelayanan kesehatan juga ikut terdampak. Karena itu, jalan bukan sekadar beton dan aspal. Jalan adalah akses kehidupan masyarakat,” kata Saleh.
Ia pun meminta BPJN Maluku tetap menjaga kualitas pekerjaan, memperkuat pengawasan, serta memastikan setiap pembangunan benar-benar memenuhi standar teknis dan memberikan manfaat jangka panjang.
Editor : SPIONNEWS.ID MALUKU

