“PARA OLIGARKI CHINA BEKERJA SAMA DENGAN PARA KETUA UMUM PARTAI POLITIK TELAH MENGHANCURKAN KONSTITUSI NEGARA DAN KEDAULATAN RAKYAT”
EPISODE 36
”Sekarang kita mulaii lagi membahas karakteristik Ketua Umum Partai Politik, perjalanan Partai serta hubungannya dengan Oligarki China. Bahwa hal ini sangat, penting karena ada kaitannya dengan Bobot, Bebet dan Bibit seorang Pemimpin didalam memimpin sebuah Partai Politik dalam hal menunjuk Pemimpin suatu Negara dan Pemerintahan yakni seorang Presiden agar Rakyat tidak memilih,”” Kucing Dalam Karang”. setiap 5 tahun.
Bahwa sebagaimana Penulis menjabarkan dalam Episode 34, Megawati Soekarno Putri menjabat sebagai Presiden berkat kejatuhan Presiden Abdurrahman Wahid Alias Gusdur.
Kalau seandainya Presiden Gusdur tidak dimakzulkan oleh MPR RI yang diketuai Amien Rais, kemungkinan besar Megawati Soekarno Putri tidak akan menjadi Presiden ke 5 Dengan demikian, kalau Prabowo Subianto berterima kasih kepada Joko Wi dengan kemenangan penuh kecurangan maka seharusnya Presiden Megawati Soekarno Putri berterima kasih kepada Gusdur dan Amien Rais.
Namun kalau mau berterima kasih, maka namanya bukan Bunda Megawati Soekarno Putri. Dan ini fakta, rasional. Sebab dalam Pemilihan Presiden/Wakil Presiden tahun 2004.
dimana Megawati Soekarno Putri berpasangan dengan KH, Hasyim Muzadi Megawati kalah dengan Susilo Bambang Yudhoyono yang berpasangan dengan Mohammad Jusuf Kalla sehingga kemarahan Megawati terhadap SBY yang saat Megawati sebagai Presiden SBY duduk sebagai Menko Polhukam tidak habis- habisan sampai sekarang dan ini fakta.
Begitu pula sewaktu Pemilihan Presiden/Wakil Presiden tahun 2009, dimana Megawati Soekarno Putri berpasangan dengan Prabowo Subianto, merekapun kalah dengan pasangan SBY dan Budiono Mantan Gubernur Bank Indonesia sehingga kemarahan Megawati semakin bertambah dan tidak habis sampai sekarang.
Sebab ada indikasi atau interpredtasi Megawati Putri Presiden Soekarno, mengapa harus kalah.Bahwa didalam membesarkan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, setiap Pemilihan Legislatif dan Pilpres, Megawati dalam kampanye selalu membawa Foto Soekarno.
Yang meng-komotasikan, seakan -akan PDIP itu Partai Presiden Soekarno. Apa lagi Gambar Logo Partai PDIP berwarna merah darah, merupakan warna kesukaan kaum muda karena menyala. Dan yang agak kontradiksi, PDIP meng-istilahkan Partai Wong Cilik tetapi kontradiksinya.
jangankan benar-benar Rakyat kecil, saya sendiri dari tahun 1996 diwaktu Megawati di Gulingkan Ketua Umum PDI Soerjadi, saya membawa kliping koran memuat berita PDI dan Megawati 28 Negara dari Buku Pintar Senior dan Junior untuk kepentingan para Pengacara Megawati dimana penulis sebagai Editor merangkap Wartawan di Buku Pintar pertama di Indonesia Karya Iwan Gayo yang tiap sore penulis membawa Kliping Koran tersebut selama 2 tahun atau sampai tahun 1998 di Rumah Megawati Jl.Kebagusab No.45 sebelum pindah di Teungku Umar Menteng Jakarta Pusat.
Beberapa kali Iwan Gayo dan Penulis minta bertemu Megawati tidak pernah mau. Apa lagi yang namanya Rakyat kecil atau Wong Cilik, Megawati tidak akan mau bertemu mereka terkecuali seorang Pejabat Tinggi maupun seorang Pengusaha Nasional.
Berhubung waktu itu sy cukup dekat dengan Taufiek Kiemas Suami Megawati Soekarno Putri, pernah mengemukakan niat Iwan Gayo dan sy bertemu Megawati untuk sekedar perkenalan karena kami sudah berjuang mengirimkan kliping koran selama 2 tahun tanpa biaya, namun tetap Megawati tidak mau bertemu dengan kami sehingga Iwan Gayo berseloroh bahwa beginilah karakteristik seorang Feodal maka dimana buktinya PDIP Partai Wong Cilik.
Masalah setiap Kampanye Megawati Soekarno Putri selalu membawa Foto Bung karno Bapaknya, harus diakui kalau Rakyat Indonesia masih banyak yang kurang cerdas, sehingga tidak bisa membedakan karakteristik Presiden Soekarno dengan karakteristik Megawati.
Artinya harus diakui Presiden Soekarno sangat dekat dengan Rakyat karena beliau memang merakyat dan seakan tidak bisa hidup tanpa Rakyat.
Sedangkan Megawati Soekarno Putri, bukan Soekarno sebab beliau sendiri adalah Anak Presiden yang patut diduga Wong Cilik hanya dimanfaatkan suaranya setiap 5 tahun, setelah itu mulai lagi Sepah Dibuang.
BERSANBUNG, …………?”
Buton, 16 Pebruari 2025.
by ABB..

