SPIONNEWS, Baubau – Langkah Kecil dari Buton untuk Sejarah Besar Nusantara, Koja Koja Voril Marpap Bersama La Ode Rauda Manarfa. Pada tahun 2017, saat tengah menempuh pendidikan doktoral di Institut Pertanian Bogor (IPB), La Ode Rauda Manarfa tidak hanya sibuk bejibaku dengan tugas-tugas perkuliahannya.
Ia membawa serta kerinduan dan kecintaannya pada tanah leluhur, Buton. Sebuah kecintaan yang mendorongnya bersurat langsung ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, khususnya kepada Direktorat Jenderal Kebudayaan.
Surat itu bukan sekadar tulisan, melainkan panggilan hati, ia meminta audiensi untuk menanyakan satu hal penting, yakni Mengapa sejarah Kesultanan Buton belum mendapat tempat yang layak dalam buku-buku sejarah nasional, sebagaimana kerajaan dan kesultanan lainnya di nusantara?
“Saat itu, saya langsung diarahkan ke Kasubid Kesejarahan dan berdiskusi dengan pejabat yang ditunjuk. Saya sampaikan harapan besar kami, agar kiranya sejarah nenek moyang kami di Buton bisa tercatat dan diajarkan di sekolah-sekolah,di seluruh Indonesia, ” kenang Rauda.
Pertemuan itu, spontan membuka mata dan pikirannya. Sang pejabat menyampaikan bahwa agar sejarah suatu daerah bisa masuk dalam kurikulum, perlu ada kajian ilmiah yang kuat. Harus ada seorang profesor yang meneliti, menyusun laporan akademik, dan mengusulkannya secara resmi ke kementerian.Bagi La Ode Rauda Manarfa, informasi itu bukan penghalang, melainkan petunjuk.
“Sebagai mahasiswa dan masyarakat biasa, ini adalah kabar penting yang harus ditindaklanjuti,” tegasnya.
Harapan itu kini menemukan momentum. Menteri Kebudayaan saat ini, Bapak Fadli Zon, berencana menulis ulang sejarah Indonesia.
Yang membanggakan, ketua tim penulisan adalah Prof. Susanto Zuhdi, sejarawan yang pernah menulis disertasi bertema Buton berjudul “Labu Rope Labu Wana.”
Pada tahun 2025 ini, La Ode Rauda Manarfa kembali menggaungkan suara yang sama, Sejarah Buton harus dicatat dalam buku sejarah dan kebudayaan Nusantara. Ia meyakini posisi Buton yang strategis sebagai jalur rempah menjadikannya aktor penting dalam sejarah pelayaran dan perdagangan Nusantara.
“Dulu Buton hanya dikenal sebagai penghasil aspal. Padahal, sejarah kita sangat kaya. Bila diajarkan di sekolah, generasi muda akan tumbuh dengan rasa bangga dan percaya diri karena tahu daerahnya berkontribusi dalam sejarah bangsa,” ujarnya penuh harap.
Rauda mengingatkan, kita tak perlu menunggu menjadi hebat untuk mulai berbuat. Delapan tahun lalu, ia telah memulai langkah kecil namun bermakna demi sejarah Buton.
“Buton punya banyak momen luar biasa. Lihat saja Sultan Himayatuddin Muhammad Sayidi atau Oputa Yi Koo, yang telah melakukan perang gerilya melawan Belanda di Gunung Siontapina, jauh seratus tahun sebelum Jenderal Sudirman! Bahkan sebelum konsep trias politica ala Montesquieu dikenal luas, Kesultanan Buton sudah menerapkan sistem demokrasi kerajaan,” tambahnya.
Bagi La Ode Rauda Manarfa, bergabungnya Buton ke dalam NKRI bukan paksaan, melainkan pilihan sadar karena cinta terhadap Indonesia.
Ia mengenang kisah kakeknya, La Ode Manarfa, yang menjadi Kepala Distrik Gu sekitar April 1945.
“Beliau memimpin pengibarkan bendera merah putih di depan kantor distrik Gu yang kini menjadi Kantor Koramil. Itu bukti cinta rakyat Buton kepada negeri ini,” tuturnya dengan bangga.
Menutup pernyataannya, La Ode Rauda Manarfa mengajak seluruh pemangku kepentingan di Kepulauan Buton, dari para bupati, walikota, hingga pemuka adat, untuk bersatu suara dan bertindak.
“Saya mohon, datanglah ke Kementerian Kebudayaan. Sampaikan aspirasi kita bahwa Buton layak ditulis dalam tinta emas sejarah Indonesia. Temui Prof. Susanto Zuhdi, beri beliau apresiasi dan semangat. Karena sejarah kita layak dikenang, bukan dilupakan.” tutupnya. (Voril)
Editor : Harry
















