Ketua Karangtaruna Kota Baubau : Joget dan Indonesia Emas 2045

Spionnews.id – Baubau, Senin, 14/7/ 2025 – Pandangan Perihal Acara Joget Menuju Indonesia Emas 2045, Indonesia tengah menata langkah besar menuju negara maju yang berdaya saing tinggi, berkarakter kuat, dan berlandaskan nilai-nilai luhur bangsa.

Di tengah semangat pembangunan tersebut, semua elemen budaya—termasuk acara joget—perlu dilihat secara jernih dan kritis. Joget bukan sekadar goyangan dan hiburan, tapi juga refleksi dari cara pandang masyarakat terhadap moral, identitas budaya, serta arah peradaban.

Ketua Karangtaruna Kota Baubau, Aidin menyatakan, Dalam aspek ekonomi, acara joget memang menciptakan lapangan kerja sementara : kru panggung, penyanyi, penyewa sound system, pedagang, dan lainnya. Ini adalah bentuk ekonomi kreatif dan hiburan yang menghasilkan perputaran uang dalam waktu singkat. Namun, jika kita selaraskan dengan visi pemerintah yang ingin menjadikan Kota Baubau, kota budaya yang ramah,cerdas, sejahtera dan bermartabat.

“Tanggapan atas Isu Pengangguran, Menghentikan satu jenis acara bukan berarti membunuh ekonomi lokal. Solusinya bukan mempertahankan acara yang meresahkan, tetapi mengalihkan potensi ekonomi ini ke bentuk hiburan atau kegiatan budaya yang edukatif dan bermanfaat” tegasnya.

“Contohnya : Festival budaya daerah, Pagelaran seni Islami atau seni tradisional, Bazar UMKM lokal dan Konser musik akustik yang tetap menghibur namun tertib dan bernilai” jelasnya.

Ia menambahkan, Aspek Sosial acara joget seringkali dikaitkan dengan norma norma negatif. Ini bisa mengikis nilai sosial dan norma kesopanan yang berlaku dalam masyarakat, terutama di lingkungan yang menjunjung tinggi adat dan etika.

” Dampaknya, Generasi muda bisa terpapar budaya hedonisme dan permisif, Perpecahan sosial bila ada kelompok yang pro-kontra terus-menerus berseteru serta Menurunnya rasa aman warga sekitar” Ungkapnya.pada awak media ini.

Tambahnya, Aspek Lingkungan , acara joget ini juga sering dikaitkan dengan polusi suara yang mengganggu orang yang sedang beristirahat dimalam hari. baik lansia, anak kecil, dan orang yang sedang sakit.

“Harapan saya Acara joget tidak bisa dipandang hitam-putih. Ia bisa menjadi hiburan, bisa pula menjadi masalah. Tergantung bagaimana bentuk, waktu, tempat, dan konteks pelaksanaannya” ungkapnya.

Ujarnya, Masyarakat perlu bijak dalam menyikapi dan menata acara joget. Pemerintah daerah juga berperan penting dalam mengatur kegiatan ini melalui regulasi yang berdampak seimbang, yang menghormati nilai nilai budaya, menjunjung tinggi moral, dan menjaga ketertiban umum.

“Untuk menyelaraskan Visinya Jadi, Acara joget semestinya menjadi sarana ekspresi yang membangun, bukan justru menimbulkan keresahan di masyarakat” sarannya…(An).

Editor : Harry

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *