SPIONNEWS.ID, BATAUGA – Salah satu pembangunan gedung pelayanan kesehatan bagi masyarakat Buton Selatan yaitu Laboratorium Kesehatan yang tadinya akan dibangun di Kabupaten Buton Selatan saat ini tidak bisa terlaksana dengan baik dikarenakan ada beberapa faktor penghambatnya.
Ketika dikonfirmasi, Kepala Dinas Kesehatan, La Ode Rusli, S.KM., M.Si menuturkan; “Memang pembangunan lapkesda ini sesuai dengan berita yang beredar dari beberapa media, dan sudah terkonfirmasi juga dengan saya, kami akui pembangunan lapkesda ini memang tidak bisa kita lanjutkan, ada beberapa masalah,” ungkapnya ketika ditemui di ruang kerjanya, Selasa (29/07/2025).
Ia pun menambahkan, memang ada beberapa masalah mulai dari tahapan perencanaannya, dimana penyampaian perencanaan dokumen dengan titik koordinat tanah yang sekarang itu tidak clear, tidak ada konektivitas yang disampaikan antara dokumen perencanaan, berita acara hibah dan koordinat yang ada saat ini. “Setelah kita periksa, ternyata titik koordinat yang dituju, konon setelah saya ketahui ternyata sudah berpindah-pindah tempat,” jelasnya.
Menurutnya, baru tidak ada justifikasi yang jelas, seandainya ada justifikasi dan berita acaranya jelas, dan permasalahannya sebenarnya ada pada lokasi pembangunan Lapkesdanya itu, ada dimana, antara status tanah dan lokasi yang ditentukan, dari sisi yuridis tidak sesuai, karena tidak clear and clear.
“Pada tahun 2023 status tanah yang ada pada yang ditunjuk sekarang, di samping dinas pertanian, diperuntukkan untuk pembangunan terminal tipe b, hal ini diketahui ketika gagal tender perencanaan karena status tanah ini belum clear. Terkait dengan peruntukannya maupun penerimaan hak akta hibah tanah dari Dinas Pertanian kepada Dinas Kesehatan,” tuturnya.
Untuk itu, Pihak Dinas Kesehatan Buton Selatan telah melakukan koordinasi dengan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, bagaimana solusinya ketika pembangunan Lapkesda ini batal di tahun ini, apakah bisa dilanjutkan di tahun depan?.
“Namun pihak kementerian menyatakan tidak bisa menjanjikan hal tersebut, apakah bisa tahun depan atau dua tahun lagi, karena anggaran dana tersebut bukan hanya Kabupaten Buton Selatan yang ada atau akan ambil, namun kabupaten lain juga membutuhkan hal tersebut, semua itu tergantung bagaimana lintas komunikasi dengan pihak kementerian nantinya,” bebernya.
Dijelaskannya; “Dengan adanya pembangunan lapkesda ini, bisa juga melakukan diagnosa pasien-pasien dan bisa mendukung juga kegiatan dalam pengambilan darah, jemaah haji, dan lainnya, sehingga pembangunan lapkesda memang sangat strategis, untuk dilakukan di daerah ini,” ucapnya.
Kata La Ode Rusli, dengan kondisi yang sudah diutarakan sebelumnya, maka pembangunan Lapkesda itu tidak bisa diselenggarakan, selain lokasinya yang belum clear untuk pembangunannya atau waktunya yang sangat mepet, tapi yang menjadi landasan adalah lokasinya yang menjadi masalah.
“Seandainya lokasinya clean and clear mungkin urusan waktu masih bisa dikondisikan, baik dokumen atau status yuridis bisa kita pertanggungjawabkan, mungkin pembangunannya masih bisa kita lakukan, itu maka kita juga tidak bisa melakukannya,” ungkapnya.
Menurutnya; “Kalau pembangunan Lapkesda ini tidak bisa diselenggarakan di tahun ini, maka pemeriksaan (kesehatan bagi masyarakat setempat,red) masih bisa dilakukan di Rumah Sakit Buton Selatan atau di Puskesmas, di sana sudah ada pelayanannya,” ujarnya.
Seandainya pembangunan Lapkesda ini berjalan, lanjut Kadis, fasilitasnya lengkap, baik medis atau pun sarana pendukung lainnya, bahkan sampai pengujian kapasitas udara juga ada di Lapkesda, dapat juga menguji sanitasi masyarakat, dan lain sebagainya yang berhubungan dengan kesehatan.
“Untuk anggaran pembangunannya kurang lebih 13 miliar lebih, di mana pembangunannya lengkap dengan peralatan laboratorium, dan bersumber dua anggaran untuk pembangunannya dari DAK tahun 2025, dan ada juga dana hibah yang berupa peralatan kesehatan untuk mendukung pembangunan lapkesda,” imbuhnya. (Ha)
Editor : Harry & Sdr. RAL

