Oleh : Amidan Rumbouw
SPIONNEWS.ID, MALUKU – Kampus Universitas Pattimura (UNPATTI) saat ini tengah berada di persimpangan antara kebenaran dan kebohongan. Di balik wajah akademik yang seharusnya menjadi simbol ilmu pengetahuan dan integritas, terselip potret kelam birokrasi yang sarat kepentingan. Situasi ini menuntut hadirnya sosok-sosok berani yang tidak hanya bicara, tetapi siap melawan arus demi tegaknya keadilan.
Di tengah situasi tersebut, muncul sosok Berty Wairisal seorang pegawai yang memilih langkah berisiko tinggi demi membongkar kebusukan yang selama ini tertutup rapat di internal kampus. Niat beliau untuk mengungkap kejahatan di tubuh UNPATTI bukanlah sekadar keberanian sesaat, melainkan bukti bahwa masih ada orang-orang yang memegang teguh nilai kebenaran meski harus melawan sistem.
Baca Juga : Petinggi Unpatti Dalam Ancaman BW

Keberanian seperti ini adalah nilai plus yang jarang dimiliki oleh birokrat kampus di era sekarang. Banyak yang memilih diam karena takut kehilangan jabatan, gaji, atau kenyamanan. Namun, Berty Wairisal memilih jalur yang berbeda jalur yang terjal dan penuh ancaman, tapi menyimpan kehormatan yang tidak ternilai.
Kebenaran sering kali menjadi barang langka di tengah pusaran kekuasaan. Di UNPATTI, ada kelompok-kelompok tertentu yang justru bekerja keras untuk menutup rapat aib dan kesalahan yang terjadi. Mereka duduk di posisi strategis, memegang akses informasi, dan menggunakan kekuasaan untuk menjaga kepentingan pribadi.
Fenomena ini bukan hanya menggerogoti integritas kampus, tapi juga merusak kepercayaan publik terhadap dunia pendidikan tinggi. Bagaimana mungkin sebuah institusi yang seharusnya menjadi teladan justru memelihara kebohongan demi melindungi segelintir orang?
Kelompok ini ibarat benteng yang menghalangi sinar kebenaran masuk ke dalam ruang birokrasi UNPATTI. Mereka menjalin jaringan saling melindungi, sehingga kasus-kasus yang mestinya diungkap malah terkubur bersama ancaman terhadap siapa saja yang mencoba membongkarnya.
Namun sejarah selalu mencatat, bahwa setiap benteng kebohongan pasti akan retak jika ada yang berani mengetuknya dengan kebenaran. Pa Berty telah memulai ketukan itu. Meski satu orang melawan banyak, langkah awalnya memberi pesan jelas, kebusukan tidak akan bisa selamanya disembunyikan.
Harapan terbesar kini ada pada munculnya pegawai-pegawai lain yang memiliki keberanian serupa. Satu suara mungkin bisa diabaikan, tapi sepuluh suara akan mengguncang, dan seratus suara akan meruntuhkan tembok kebohongan yang selama ini berdiri kokoh.
UNPATTI membutuhkan gerakan dari dalam dari orang-orang yang tahu persis lika-liku birokrasi kampus, yang merasakan langsung tekanan, dan yang paham di mana kebusukan itu bersarang. Tanpa itu, kebenaran hanya akan menjadi bisikan yang tenggelam di tengah hiruk pikuk politik kampus.
Setiap pegawai yang berani bersuara bukan hanya sedang membela dirinya sendiri, tetapi juga membela masa depan kampus, membela mahasiswa, dan membela kehormatan dunia pendidikan. Keberanian ini akan menjadi warisan moral yang jauh lebih berharga dari sekadar gelar atau jabatan.
Tentu perjuangannya tidak mudah. Akan ada fitnah, tekanan, bahkan upaya balas dendam. Namun, sejarah selalu berpihak pada mereka yang memilih jalan kebenaran. Mungkin mereka kalah di awal, tapi tidak menutup kemungkinan mereka akan menang di akhir.
Semoga keberanian Berty Wairisal menjadi pemantik bagi lahirnya gelombang perlawanan terhadap kebusukan di UNPATTI. Karena hanya dengan menyingkap aib yang disembunyikan, kampus ini bisa kembali pada jati dirinya sebagai rumah ilmu pengetahuan yang jujur, bersih, dan bermartabat.
Penulis adalah Mahasiswa UNPATTI Fakultas Ilmu Sosial & Ilmub Politik
Editor : Redaktur SpionNews.id Maluku

