Oleh: Remby Derlen
SPIONNEWS.ID, MALUKU – Dua hari menjelang perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Indonesia yang ke-80, kita dihadapkan pada realitas pahit. Kemerdekaan yang seharusnya menjadi momentum untuk merayakan kebebasan dan kemakmuran, justru menjadi pengingat bagi rakyat kecil tentang ketidakadilan yang mereka alami. Iming-iming kemerdekaan yang selalu digaungkan setiap tahun, kini hanya menjadi bualan manis bagi mereka yang berkuasa.
Kebijakan penguasa yang mengeksploitasi lahan demi kepentingan pribadi dan kelompok, telah menodai hasil perjuangan para leluhur yang telah berjuang untuk kemerdekaan dan kedaulatan tanah air. Rakyat kecil yang seharusnya menjadi prioritas utama dalam pembangunan, justru menjadi korban dari kebijakan yang tidak berpihak kepada mereka.
Di hari yang sama ketika kita memperingati perjuangan para pahlawan, masyarakat kecil menangis atas tanah dan rumah yang digusur demi kepentingan negara. Pertanyaan yang mengemuka adalah, apa arti kemerdekaan jika rakyatnya tidak merdeka? Apakah perayaan kemerdekaan ini hanya menjadi ritual tahunan yang tidak memiliki makna bagi rakyat kecil?
Kemerdekaan yang sejati adalah kemerdekaan yang membebaskan rakyat dari ketidakadilan, kesewenang-wenangan, dan penindasan. Oleh karena itu, kita perlu mempertanyakan kebijakan penguasa yang tidak berpihak kepada rakyat kecil dan menuntut keadilan serta kesetaraan bagi semua. Kemerdekaan harus menjadi milik semua, bukan hanya milik mereka yang berkuasa.
Penulis adalah Mahasiswa Universitas Pattimura Ambon.
Editor : Redaktur SpionNews.id Maluku

