MASIH BELAJAR

  • Puisi 6 tahun lalu.

Oleh: La Ode Muhammad Syamsir

Tujuh puluh dua purnama seperti baru dini hari.
Lencana ungu melekat bersama toga hitam berdiri.
Memicu dzarrah tumbuh menggerogoti hati.
Padahal ia tak lebih dari untaian tali.
Hanya berpindah dari kanan ke kiri.

Tak ada bedanya warna pelangi.
Kala masih menghujat merasa gelas penuh terisi.
Tak lebih kosong dari tetesan air di ujung jarum besi.
Merasa hebat di tengah samudra buku padat berisi.
Puas saat melihat diri pertama kali.

Apa mau hati ini.
Tanya diri sendiri.
Memandang cermin retak berdiri.
Menempel secarik cita-cita berlari.
Lulus atau belajar lagi.

Kembali pada tubuh hari ini.
Tangan sibuk mengais harta penuh jari-jari.
Lalu kapan majelis berkaki lagi.
Dan belajar bersama kembali.

Kotamara-Baubau, 24 April 2019.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *