Puluhan guru dari Kota Ambon, Kota Tual, dan beberapa wilayah lainnya hadir untuk mengikuti pelatihan yang berfokus pada penguatan kapasitas fasilitasi pembelajaran serta pengembangan ide perubahan di lingkungan sekolah. Para peserta diajak untuk memahami pendekatan pembelajaran yang lebih partisipatif dan berpihak kepada kebutuhan murid.
Selama pelatihan berlangsung, peserta mengikuti berbagai aktivitas seperti diskusi kelompok, refleksi pengalaman mengajar, simulasi pembelajaran, hingga penyusunan rencana aksi yang dapat diterapkan di sekolah masing-masing. Lima co-fasilitator dari IGI Maluku turut mendampingi jalannya kegiatan bersama anggota IGI lainnya yang aktif terlibat dalam setiap sesi pelatihan.
Kegiatan ini juga menjadi ruang pertemuan berbagai komunitas pendidikan dan pemberdayaan masyarakat dari tingkat lokal maupun nasional. Kolaborasi tersebut dinilai penting untuk memperkuat ekosistem pendidikan yang lebih terbuka terhadap inovasi, keberagaman, dan pengembangan potensi siswa sesuai konteks sosial budaya Maluku.
Ketua IGI Maluku, Ode Abdurrachman, menyampaikan bahwa pendidikan saat ini membutuhkan guru yang tidak hanya mampu mengajar, tetapi juga mampu menjadi penggerak perubahan di tengah masyarakat.
Menurutnya, melalui kegiatan seperti ini para guru dapat saling belajar, bertukar pengalaman, dan membangun jejaring kolaborasi untuk menciptakan pembelajaran yang lebih relevan dengan perkembangan zaman.
“Perubahan besar selalu dimulai dari ruang-ruang kecil, termasuk ruang kelas. Karena itu guru harus terus diberi ruang untuk tumbuh, berinovasi, dan membangun pembelajaran yang memerdekakan murid,” katanya.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat melahirkan lebih banyak inisiatif perubahan di sekolah dan komunitas pendidikan di Maluku sehingga tercipta pembelajaran yang lebih inklusif, kreatif, dan berorientasi pada masa depan generasi muda.(RAL)
Editor: Rusly, S.Mn.

