SPIONNEWS.ID, MALUKU – Dari tanah Maluku, pemuda dan mahasiswa menyerukan gerakan “Pulangkan Merah Putih ke Jakarta” sebagai bagian dari momentum 81 tahun Kemerdekaan Indonesia. Seruan tersebut sekaligus dibarengi dengan dorongan untuk menggelar Kongres Masyarakat Maluku Sedunia sebagai ruang konsolidasi diaspora dan lintas generasi.
Bagi para penggagas aksi, dua agenda tersebut tidak berdiri sendiri. “Pulangkan Merah Putih” diposisikan sebagai simbol penyampaian kegelisahan sekaligus refleksi terhadap perjalanan bangsa selama 81 tahun. Sedangkan kongres didorong sebagai ruang untuk mempertemukan masyarakat Maluku dari berbagai daerah dan negara guna membicarakan masa depan Maluku.
Koordinator Lapangan aksi, Fadel Rumakat, mengatakan gerakan tersebut bukan sekadar aksi simbolik.“Seruan Pulangkan Merah Putih ke Jakarta bukan sekadar aksi simbolik. Ini adalah cara kami menyampaikan pesan kepada negara bahwa setelah 81 tahun Indonesia merdeka, masih ada persoalan keadilan yang harus dibicarakan secara serius,” kata Fadel 12/08/2026
Menurut dia, Maluku memiliki posisi penting dalam sejarah perjalanan Republik Indonesia. Namun, posisi tersebut harus berjalan beriringan dengan keadilan dalam pembangunan, kebijakan fiskal, pengelolaan sumber daya alam, serta penghormatan terhadap martabat masyarakat Maluku.“Maluku adalah bagian penting dari sejarah republik, tetapi kami ingin memastikan bahwa sejarah itu juga berbanding lurus dengan keadilan dalam pembangunan, fiskal, pengelolaan sumber daya, dan penghormatan terhadap martabat masyarakat Maluku,” ujarnya.
Fadel mengatakan salah satu agenda yang hendak didorong adalah Kongres Masyarakat Maluku Sedunia.“Kami mendorong Kongres Masyarakat Maluku Sedunia sebagai ruang konsolidasi diaspora dan lintas generasi. Kami ingin orang Maluku dari Ambon, Seram, Buru, Kei, Aru, Tanimbar, Maluku Utara, maupun diaspora di berbagai belahan dunia duduk bersama merumuskan agenda besar Maluku,” katanya.
Ia menegaskan kongres tersebut tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial.“Kongres ini harus menjadi ruang berpikir tentang masa depan, bukan sekadar seremoni,” ujar Fadel.
Kemerdekaan dan Pertanyaan dari KepulauanPenggagas aksi, Usman Bugis, mengatakan peringatan 81 tahun kemerdekaan semestinya menjadi momentum untuk melakukan evaluasi terhadap perjalanan bangsa.“Momentum 81 tahun kemerdekaan harus menjadi kesempatan untuk melakukan evaluasi terhadap perjalanan bangsa. Kami ingin bertanya secara terbuka, apa makna kemerdekaan bagi masyarakat Maluku hari ini,” kata Usman.
Ia menilai kemerdekaan harus dirasakan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, termasuk masyarakat yang tinggal di wilayah kepulauan.“Jangan sampai kemerdekaan hanya dirayakan dengan upacara dan pengibaran bendera, tetapi persoalan ketimpangan, keterisolasian dan ketidakadilan yang dirasakan masyarakat kepulauan terus berulang,” ujarnya.
Menurut Usman, “Pulangkan Merah Putih” merupakan bahasa simbolik untuk menyampaikan pesan kepada pemerintah pusat.“Pulangkan Merah Putih ke Jakarta adalah pesan moral dan kebangsaan. Kami ingin negara melihat bahwa ada keresahan dari generasi muda Maluku yang harus dijawab dengan kebijakan, dialog dan tindakan nyata,” katanya.
Usman menegaskan suara pemuda Maluku harus dibawa ke ruang nasional.“Kami tidak ingin suara ini berhenti di Ambon. Kami ingin membawanya menjadi agenda nasional,” ujarnya.
Kongres untuk Menyatukan Diaspora
Sementara itu, Risman Soulissa, salah satu penggagas aksi, mengatakan masyarakat Maluku memiliki diaspora yang tersebar luas di berbagai wilayah Indonesia maupun mancanegara.“Maluku memiliki diaspora yang sangat besar. Mereka tersebar di berbagai kota di Indonesia dan di berbagai negara. Tetapi potensi besar itu membutuhkan ruang konsolidasi,” kata Risman.
Karena itu, ia mendorong Kongres Masyarakat Maluku Sedunia menjadi ruang pertemuan lintas generasi.“Kongres Masyarakat Maluku Sedunia harus menjadi forum yang mempertemukan diaspora, generasi tua, generasi muda, akademisi, budayawan, tokoh masyarakat dan berbagai elemen Maluku,” ujarnya.
Menurut Risman, persoalan Maluku tidak cukup dibicarakan secara sektoral dan terpisah-pisah. Diperlukan agenda bersama yang dirumuskan melalui proses konsolidasi masyarakat.“Kami ingin kongres ini menjadi ruang lintas generasi untuk membicarakan Maluku secara lebih objektif dan strategis. Kita tidak boleh terus-menerus hanya membicarakan persoalan Maluku secara terpisah-pisah,” katanya.
Ia menambahkan agenda yang lahir dari kongres harus dapat diperjuangkan melalui jalur demokrasi dan konstitusional.“Harus ada agenda bersama yang lahir dari masyarakat Maluku sendiri, kemudian diperjuangkan melalui ruang-ruang demokrasi dan konstitusional,” ujar Risman.
Bukan Sekadar Seremoni Kemerdekaan
Para penggagas aksi memandang momentum 81 tahun kemerdekaan sebagai kesempatan untuk membuka kembali percakapan mengenai posisi masyarakat kepulauan dalam pembangunan nasional.Sejumlah persoalan seperti ketimpangan pembangunan, fiskal daerah, konektivitas antarpulau, pengelolaan sumber daya alam, pendidikan, kebudayaan, serta masa depan generasi muda dinilai membutuhkan perhatian yang lebih serius.Maluku, sebagai wilayah kepulauan, memiliki tantangan pembangunan yang berbeda dengan daerah daratan. Karena itu, kebijakan nasional dinilai perlu memperhitungkan karakter geografis dan sosial masyarakat kepulauan.
Dalam konteks tersebut, konsolidasi masyarakat Maluku dianggap penting agar berbagai kepentingan tidak berjalan sendiri-sendiri.Kongres Masyarakat Maluku Sedunia diharapkan dapat menjadi titik temu antara Maluku di tanah asal dan diaspora Maluku yang selama ini hidup di berbagai daerah dan negara.Diaspora dinilai memiliki modal sosial, pengetahuan, pengalaman dan jaringan yang dapat menjadi kekuatan apabila diarahkan dalam agenda bersama.Kritik dalam Kerangka Kebangsaan
Para penggagas juga menegaskan bahwa kritik terhadap kebijakan negara harus ditempatkan dalam kerangka demokrasi.Seruan “Pulangkan Merah Putih” tidak dimaksudkan sebagai penolakan terhadap simbol kebangsaan, tetapi sebagai simbol kritik dan refleksi terhadap bagaimana kemerdekaan diterjemahkan dalam kehidupan masyarakat.
Bagi mereka, Merah Putih merupakan simbol yang justru ingin dikembalikan kepada pusat kekuasaan sebagai pesan bahwa keadilan dan pemerataan harus menjadi bagian nyata dari kemerdekaan.
Risman mengatakan agenda tersebut tetap berada dalam koridor kebangsaan.“Bagi kami, 81 tahun Indonesia merdeka harus menjadi momentum untuk memperkuat kembali komitmen kebangsaan sekaligus memperjuangkan keadilan bagi Maluku,” katanya.Ia mengatakan Maluku memiliki potensi untuk mengambil peran lebih besar dalam masa depan Indonesia.“Kami percaya Maluku bisa menjadi bagian penting dari masa depan Indonesia, sepanjang negara membuka ruang yang adil dan masyarakat Maluku mampu membangun konsolidasi yang kuat,” ujar Risman.
Dari Ambon, seruan itu kini diarahkan untuk menjadi agenda yang lebih luas. “Pulangkan Merah Putih” menjadi simbol kegelisahan generasi muda, sementara Kongres Masyarakat Maluku Sedunia diharapkan menjadi ruang untuk mengubah kegelisahan tersebut menjadi konsolidasi gagasan.Pada usia 81 tahun Republik Indonesia, pemuda dan mahasiswa Maluku ingin memastikan suara dari kepulauan tidak hanya terdengar saat perayaan kemerdekaan. Mereka ingin suara tersebut masuk ke dalam percakapan nasional mengenai keadilan, pemerataan pembangunan, dan masa depan masyarakat Maluku.
Editor : EB

