SPIONNEWS.ID, MAKASSAR — Penerbangan Lion Air JT-747 dari Bandara Udara Sultan Hasanuddin Makassar menuju Denpasar Bali yang sedianya dijadwalkan berangkat pada pukul 18.55 WITA mengalami keterlambatan (delay) karena alasan operasional.
Penerbangan yang semula dijadwalkan berangkat pukul 18.55 WITA tersebut kemudian diinformasikan mengalami penyesuaian waktu keberangkatan menjadi sekitar pukul 20.00 WITA.

Keterlambatan tersebut dialami rombongan 31 mahasiswa Pascasarjana Universitas Dayanu Ikhsanuddin (Unidayan) Baubau yang sedang melaksanakan studi empiris di Kabupaten Badung, Bali.
Menariknya, kondisi tersebut tidak mengurangi semangat dan antusiasme para mahasiswa.

Waktu menunggu di bandara justru dimanfaatkan untuk menciptakan suasana yang semakin akrab di antara peserta rombongan.
Sambil menunggu kepastian keberangkatan, para mahasiswa terlihat saling berbincang, berdiskusi, bercanda, dan berbagi cerita mengenai pengalaman selama mengikuti rangkaian studi empiris.

Momen sederhana tersebut menjadi kesempatan bagi para peserta untuk lebih mengenal satu sama lain di luar suasana akademik yang selama ini mereka jalani.
Kebersamaan itu sekaligus memperlihatkan bahwa kegiatan studi empiris bukan hanya menjadi sarana untuk memperoleh pengalaman dan pengetahuan baru, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun solidaritas, kekeluargaan, dan jejaring antarmahasiswa Pascasarjana Unidayan.

"Delay penerbangan memang membuat waktu perjalanan menjadi lebih panjang, tetapi di sisi lain justru memberikan kesempatan kepada kami untuk lebih banyak berbincang dan membangun keakraban,” ujar salah seorang peserta rombongan.
Studi empiris 31 mahasiswa Pascasarjana Unidayan di Kabupaten Badung sendiri menjadi bagian penting dari proses pembelajaran akademik. Para mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk melihat secara langsung berbagai praktik tata kelola pemerintahan dan inovasi pelayanan publik yang berkembang di daerah tersebut.

Di tengah padatnya agenda akademik, perjalanan bersama seperti ini menjadi pengalaman tersendiri. Mulai dari keberangkatan, kegiatan lapangan, diskusi, hingga perjalanan kembali, seluruh peserta menghadapi berbagai situasi secara bersama-sama.
Termasuk ketika penerbangan JT-747 mengalami delay operational.
Alih-alih menjadikan keterlambatan sebagai keluhan, para mahasiswa menjadikannya sebagai momentum kebersamaan. Suasana di ruang tunggu pun berlangsung cair dan penuh keakraban.

Bagi rombongan tersebut, perjalanan studi empiris akhirnya bukan hanya tentang apa yang mereka pelajari di lapangan, tetapi juga tentang bagaimana mereka membangun hubungan sosial dan kebersamaan sebagai sesama insan akademik.
"Dari ruang kelas menuju lapangan, dan dari lapangan kembali bersama, setiap perjalanan selalu meninggalkan cerita. Bahkan sebuah delay pun dapat menjadi kenangan yang mempererat persaudaraan,” demikian suasana yang tergambar dari kebersamaan 31 mahasiswa Pascasarjana Unidayan tersebut.(RAL)




Editor : Rusly, S.Mn.

