110 GADIS IKUTI PINGITAN MASSAL DI SIOMPU MENJAGA WARISAN BUDAYA DAN MENEMPAKAN GENERASI BERAKHLAK

SPIONNEWS, SIOMPU — Sebanyak 110 gadis mengikuti tradisi adat Pingitan Massal atau Kaombo yang digelar masyarakat Desa Lontoi-Karae, Kecamatan Siompu, Kabupaten Buton Selatan, Sulawesi Tenggara. Tradisi ini menjadi bukti nyata upaya menjaga keberlangsungan nilai-nilai adat dan budaya masyarakat Buton yang diwariskan secara turun-temurun.

Rangkaian kegiatan berlangsung selama sembilan hari sembilan malam, mulai tanggal 15 hingga 23 September 2026. Prosesi dilaksanakan di sejumlah rumah warga serta Baruga Desa Lontoi-Karae, menyatukan warga dalam kebersamaan yang sarat makna spiritual dan kultural.

Makna Pingitan: Penyucian dan Pendewasaan Diri, Dalam tradisi masyarakat Buton, pingitan atau posuo merupakan ritual sakral yang berkaitan dengan proses penyucian dan pendewasaan diri bagi gadis remaja atau karia yang memasuki usia dewasa maupun menjelang pernikahan.

“Seumpama bayi dalam kandungan, sejak awal itulah pembinaan akhlak bagi seorang hamba dibina.”kata Amir, salah satu orang tua Yang anaknya ikut dalam acara Kaombo.

Menurut Amir, Selain makna adat yang mendalam, prosesi ini juga menjadi ruang pembelajaran hidup: nilai moral, tata krama, spiritualitas, serta kesiapan mental dan fisik bagi para gadis untuk menjalani kehidupan sebagai orang dewasa. Selama masa pingitan, para gadis ditempatkan di ruang khusus yang disebut suo dan didampingi oleh perempuan yang lebih senior, yang dipanggil bisa’. Mereka mengikuti rangkaian ritual adat sekaligus menerima nasihat dan pembekalan menyeluruh.

“Setelah masa pingitan selesai, para gadis dibimbing di Baruga Galampana Parabela tempat yang dahulu aktif di masa Kerajaan dan Kesultanan Buton. Di sana mereka belajar membedakan perbuatan baik dan buruk di tengah masyarakat. Jika menjumpai ucapan atau perilaku yang tidak pantas, mereka berhak melakukan rumbiti memberikan denda berupa mengalungkan selendang kepada oknum tersebut sebagai tanda pelanggaran aturan kesopanan” Imbuhnya, Selasa, 22/9/2026.

Jejak Leluhur, Asal-Usul Siompu, Kegiatan ini juga mengangkat kembali kisah asal mula penghuni Pulau Siompu yang bersumber dari tradisi lisan Lontoi. Dahulu pulau ini belum berpenghuni, hingga ditemukan dua orang seorang wanita bernama Lontoi dan adik laki-lakinya Kaimbulawa yang terdampar di pulau ini. Mereka ditemukan oleh nelayan dari daratan Buton yang juga pejabat kerajaan, yang kerap datang memasang bubu di perairan Siompu.

Lontoi dan Kaimbulawa dikatakan memiliki bahasa sendiri, yang menjadi cikal bakal bahasa lokal pulau ini serta asal mula penyebutan wilayah Kadie dan Limbo pertama di Siompu. Kemudian menyusul kelompok masyarakat lain seperti Biwinapada dan Molona, yang membentuk komunitas yang berkembang hingga kini.

Baruga di Siompu Barat pun merupakan gabungan beberapa desa Lamombaka, Lamaninggara, Molona, Mbanua, Katampe serta wilayah Lawakamo yang mencakup Lalole, Watuampara, Kamoali, dan Mokobea. Baruga Molona tercatat sebagai salah satu peninggalan budaya yang dijaga dalam basis data.

Malam Puncak Dihadiri Wakil Bupati dan Jajaran Pemda

Malam puncak Pingitan Massal berlangsung khidmat dan dihadiri langsung oleh, Wakil Bupati Buton Selatan La Ode Risawal, Camat Siompu, Para Kepala OPD lingkup Pemkab Buton Selatan, Parabela Desa Kaimbulawa dan Parabela Desa Lontoi, Para Kepala Desa se-Kecamatan Siompu, Tokoh masyarakat serta perangkat adat lainnya

Seluruh rangkaian kegiatan ini merupakan hasil kerja sama Pemerintah Desa Lontoi bersama Lembaga Adat Desa, sebagai wujud nyata kepedulian dalam menjaga keberlangsungan tradisi yang masih hidup di tengah masyarakat.

Tarian Syukur dan Makanan Para Bidadari, Rangkaian acara ditutup dengan doa syukur yang dilanjutkan pertunjukan tarian yang penuh makna,

  • Tarian Linda dibawakan para peserta pingitan di hadapan para tokoh adat, agama, dan masyarakat.
  • Tarian Pomencei — dalam bahasa Biwinapada disebut Fomani, di Sampolawa dikenal sebagai Mangaru, di Wolio sebagai Galamgi — satu makna dalam beragam sebutan.
  • Tarian Kolosal Perang — ungkapan syukur dan kemenangan, menegaskan persatuan warga Siompu.

Satu momen menyentuh hati terjadi ketika disajikan makanan dalam wadah keranjang bambu berpadu anyaman daun kelapa berbentuk lesung kecil konon merupakan wadah makanan ratu atau bidadari dari kahyangan. Saat menyantapnya, para peserta justru mengalungkan selendang sebagai tanda korumbi atau kesadaran diri atas “pelanggaran” menyantap makanan mulia tersebut simbol kerendahan hati dan pengakuan akan kebesaran Pencipta.

Keesokan paginya, para gadis menyuapi para tokoh adat dan pemuka masyarakat sebagai wujud bakti, rasa hormat, dan pengabdian tulus.

Warisan untuk Generasi Mendatang, Pelaksanaan Kaombo ini bukan sekadar pesta adat, melainkan upaya sadar untuk meneruskan tradisi kepada generasi muda, sehingga nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya tetap dikenal, dihayati, dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

“Jangan saudaraku dikelabui dengan sebuah ungkapan cari tahu dulu maknanya. Inilah warisan yang harus dijaga, agar jati diri kita tak hilang ditelan zaman.”imbuhnya.

Di Pulau Siompu, budaya bukan sekadar kenangan masa lalu, melainkan cahaya penuntun masa depan menumbuhkan generasi yang berakhlak, bersatu, dan bangga akan asal-usulnya.

Sumber: Keterangan tokoh adat, Pemerintah Desa Lontoi, liputan kegiatan
Lokasi: Desa Lontoi-Karae, Kecamatan Siompu, Kabupaten Buton Selatan
Tanggal Kegiatan: 15–23 September 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *