Oleh : Amidan Rumbouw
SPIONNEWS.ID, MALUKU – Pernyataan salah satu Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Pattimura Ambon, Berty Wairisal menjadi pukulan keras terhadap citra Unpatti sebagai universitas ternama di Maluku. Sikapnya yang berani mengungkap adanya dugaan praktik suap dan gratifikasi menandakan bahwa adanya persoalan serius yang selama ini mungkin hanya menjadi bisik-bisik di kalangan internal di birokrasi kampus. Jika benar semua itu terbukti, maka nama besar Unpatti yang selama ini yang dibanggakan akan tercoreng di mata publik.
Berty Wairisal menyoroti sikap salah satu oknum pejabat Unpatti yang dinilainya justru lepas tangan dalam persoalan utang Rp150 juta yang dilaporkan oleh Dominggus. Alih-alih mencari solusi atau membuka ruang dialog, pejabat tersebut malah mendorong proses hukum terhadap pihak pelapor. Sikap seperti ini menunjukkan adanya budaya menghindari tanggung jawab di lingkungan birokrasi kampus.
Baca Juga : Aksi Demonstrasi Pemuda LIRA Maluku Kecam Oknum LO Terhadap Pedagang Asongan
Sehingga rasa Kekecewaan itu muncul, dan kekecewaan dari Berty bukan hanya persoalan pribadi, melainkan cerminan dari rasa frustrasi terhadap tata kelola lembaga pendidikan yang seharusnya menjadi contoh integritas. Baginya, Universitas bukan hanya tempat belajar, tetapi juga tempat menanamkan nilai kejujuran, keadilan, dan keberanian untuk mengoreksi kesalahan.
Ketika Berty menyatakan siap membongkar seluruh praktik suap dan gratifikasi di kampus Unpatti, itu adalah tantangan besar bagi para petinggi kampus. Pesan tersebut jelas, tidak akan ada ruang damai untuk menutupi pelanggaran. Jika pihak berwenang enggan memproses kasus ini, maka ia sendiri yang akan mengambil langkah hukum.
Sikap ini memang berisiko besar karena melawan oknum berpengaruh di institusi ternama bukanlah perkara mudah. Namun, keberanian seperti inilah yang sering kali menjadi titik awal perubahan.
Sejarah mencatat, pembenahan besar biasanya dimulai dari segelintir orang yang berani bersuara, meski harus menghadapi tekanan dari segala arah.
Bila kasus ini benar-benar dibuka di ruang publik, masyarakat Maluku akan melihat sisi lain dari institusi pendidikan yang mereka kenal. Transparansi akan menjadi ujian besar apakah Unpatti memilih membersihkan diri, atau justru menutup rapat aib internalnya.
Sikap Pak Berty telah menunjukkan bahwa kebenaran harus disuarakan, walaupun itu menantang petinggi kekuasaan. Artinya dalam konteks ini, diam adalah bentuk pembiaran, dan pembiaran adalah pengkhianatan terhadap prinsip keadilan. Jika lembaga pendidikan saja terjerat praktik kotor, maka generasi muda akan tumbuh dalam budaya yang salah.
Keberanian Berty Wairisal adalah pesan bagi siapa saja yang mencintai kebenaran. jangan pernah gentar melawan penyalahgunaan kekuasaan, meski pelakunya adalah orang-orang yang kita kenal atau hormati. Sebab, rasa hormat tidak boleh mengalahkan nilai kebenaran.
jika kita lihat dari sisi sosialnya, perjuangan ini bukan hanya soal satu orang atau satu kasus, tetapi tentang membersihkan institusi yang seharusnya menjadi mercusuar ilmu dan moralitas, dan Jika langkah ini berhasil maka Unpatti tidak hanya akan memulihkan citranya, tetapi juga mengirim pesan kuat ke seluruh Maluku bahwa keadilan masih hidup, dan keberanian akan selalu menemukan jalannya.
Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pattimura
Editor : Redaktur SpionNews.id Maluku

