SPIONNEWS, BATAUGA – Belum lama ini beberapa kejadian viral di media sosial terkait dengan adanya para siswa yang menyegel sekolahnya sendiri dan tidak ingin bersekolah di sekolah tersebut di Pulau Siompu.
Terkait dengan hal ini pihak DPRD Kabupaten Buton Selatan memanggil seluruh Kepala Sekolah yang ada di Kabupaten Buton Selatan, SD, SMP, dan DPR juga memanggil Ketua PGRI Kabupaten Buton Selatan, Dinas Pendidikan Kabupaten Buton Selatan dan Kepala BKPSDM Buton Selatan.
Dalam rapat kerja anggota DPRD Kabupaten Buton Selatan, dipimpin langsung oleh ketua DPRD Kabupaten Buton Selatan dan PJ Sekda Buton Selatan, bersama dengan 12 anggota DPRD mempertanyakan terkait masalah tersebut dan solusi yang akan diambil nantinya.
Saat rapat kerja bersama salah satu Anggota DPRD Kabupaten Buton Selatan dari Partai Demokrat, H. Pomili Womal mengatakan, pola-pola yang diusulkan oleh pihak kepala sekolah memang tidak semuanya akan terpenuhi oleh pemerintah pusat terkait dengan bantuan PIP, untuk hari ini ada istilah online offline, tugas-tugas kepala sekolah harusnya bisa mampu dilakukan.
“Sekecil apapun yang kita lakukan, bantuan untuk anak itu, selesaikan dan tuntaskan karena itu merupakan ibadah, coba bayangkan ketika bapak Ibu sekalian diturunkan dari kepala sekolah maka kejadian itu akan gaduh juga” ungkapnya.
Ia menambahkan, harus ada ketajaman dalam membentuk karakter, kita harus mampu melakukan perubahan, kita harus mampu melahirkan inovasi baru, untuk siap melakukan perubahan.
“Bila hal itu sudah kita lakukan dan ada perubahan maka insya Allah ke depannya akan menjadi lebih baik, Hal ini karena pernah yang saya lakukan beberapa tahun lalu, saya juga pernah melakukan beberapa tahun lalu, kalau pernah jalan-jalan ke Desa Wakinamboru, ada gapura yang masih terlihat cantik itu adalah hasil saya 15 tahun yang lalu, Alhamdulillah sampai hari ini masih bisa berdiri” ujarnya.
Kata Pomili Womal, bila kita berniat untuk melakukan perubahan maka insya Allah selalu akan ada jalan, dirinya yang juga mengungkapkan Terima kasih karena hari ini bisa bertemu dengan wajah-wajah kepala sekolah dan bisa menitipkan peran penting kepala sekolah.
Salah satu kepala sekolah dari pulau Kadatua menuturkan proses pencairan pip yang dilakukan pihak sekolah memang membutuhkan waktu dan jalur yang cukup panjang sehingga dalam penyalurannya dan sampai ke tangan siswa kadang kala harus membutuhkan beberapa persyaratan dari pihak bank.
Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Kadatua, Arni, S.Pd, mengatakan “Proses penyaluran PIP yang ada di sekolah kami sama dengan sekolah-sekolah lain dan kami dari kepulauan, dengan proses yang pertama kami lakukan di sekolah yaitu, rapat dengan orang tua siswa, setelah kita mendapatkan daftar nama-nama siswa yang dari Dinas Pendidikan, terkait siswa yang menerima bantuan PIP” imbuhnya. Selasa, 16/9/2025.
Kata Arni setelah selesai rapat dengan orang tua siswa, bersama dengan komite, kami juga meminta persyaratan oleh pihak bank, terkait dengan bantuan PIP tersebut.
“Siap sekolah harus mempersiapkan ktp ibu dari siswa tersebut, sekolah juga mengeluarkan surat keterangan aktif belajar siswa dan surat kuasa, saya dengan persyaratan yang dimintai dari pihak bank” jelasnya.
Lanjutnya, bukan hanya sekali kamu melakukan pertemuan dengan pihak bank, karena ada juga siswa yang karena menerima bantuan tersebut di ketika berada di bangku SD, dan ada juga siswa yang belum pernah terima bantuan PIP, dan untuk siswa yang belum pernah menerima bantuan tersebut, biasanya kamu minta untuk membuka buku rekening baru.
“Selesai penginputan dan pengumpulan berkas di sekolah, baru kami menuju ke bank, terdaftar penerimaan tersebut siswa juga tidak hanya membuat 1 nomor rekening, kadang juga muncul 2 nomor rekening, seperti dari bank BRI Murhum, kode 0715, otomatis akan kami cairkan Bank BRI Batauga, untuk kode pos 0326, biasanya kami ambil di BRI cabang Baubau” imbuhnya.
Dirinya menjelaskan setelah pengumpulan berkas pun kami harus aktivasi dan menunggu yang akan dihubungi oleh pihak bank dalam melakukan pencairan dana PIP tersebut.
Di ruang yang berbeda, setelah rapat kerja DPRD Buton Selatan, Kepala Sekolah yang sempat siswanya viral di media sosial karena menyegel sekolahnya, mengungkapkan bahwa hal itu terjadi, saat itu, karena ada 1 buku rekening yang hilang, namun ternyata diambil oleh orang tua siswa tersebut melalui guru yang ada di sekolah.
“Saat itu buku rekening tersebut diambil oleh guru yang memang merupakan salah satu orang tua murid siswa yang menerima bantuan PIP tersebut, saya tidak mengetahui nya, hal inilah yang sebenarnya terjadi yang sempat viral saat itu, “tegasnya.
Setelah kejadian tersebut kepala sekolah meminta dan mengumpulkan para orang tua siswa yang menerima bantuan, dan menegaskan sekolah siap memfasilitasi semua berkas yang dibutuhkan oleh pihak bank, dan nantinya orang tua siswa yang akan mengurus nya ke bank terkait penyalur dana tersebut.
“Secara saya mengeluarkan aturan tersebut ternyata ada juga orang tua siswa yang tidak bisa melakukan pengaturan ke pihak bank” terangnya.
Sebagai kepala sekolah dirinya bertanggung jawab penuh terhadap penyaluran dana tersebut dan membantu orang tua siswa tersebut untuk bisa pergi ke bank dan membawakan berkas sampai pihak bank terkait, penyalur bantuan tersebut. (Ha)
Editor : Harry

