(Founder Komunitas Pustaka Jendela Semesta)
Bagaikan gayun bersambut, yang saling terhubung, antara masa lalu, masa kini dan masa depan. Sebuah memori di simpang jalan masa kecil terlintas, kita mengenang yang mengorek tentang kisah-kisah dulu, masih terasa nuansa desa di atas Bumi Manusia.
Ketika masih bersekolah di SD, kehidupan kita terasa bahagia, bukan harta, tahta atau kemewahan ekonomi tetapi kita bisa bebas bermain apa saja sampai kadang lupa waktu, beragam permainan tradisional turut menghiasi masa kecil kita, poase, pobhaguli, poboi, pogapo, pokatemba temba, dan yang lainnya.
Kita yang lahir dari sebuah pelosok Desa kecil, Maperaha, Kecamatan Sawerigadi, Muna Barat yang mayoritas masyarakatnya bergerak di sektor pertanian, yang masih kental dengan kulturnya.Memang di masa itu, belum gagap gempitanya pesatnya perkembangan teknologi, gejet, dan beragam game lainnya dengan teteg bengeknya.
Pasalnya memang, kita tinggal di pelosok desa yang masih asri, indah, nyaman, tanpa hiruk pikuk perkotaan dan jauh dari industri pabrik yang mencemari dari desa tersebut, seperti gadis "Perawan", cantik dan selalu tersimpan dalam memori.
Gadis desa, kembang desa dan anak-anak yang lahir dari petani yang sibuk dengan aktivitas sehari harinya, tentu punya tanggung jawab, bagaimana ketika pulang ke sekolah harus pergi mencangkul, membabat, dan membantu pertanian orang tua yang mungkin hanya bisa mencukupi kebutuhan sehari hari.
Tapi bagi kita, yang mungkin juga masih banyak orang di luaran sana yang merasakan hal demikian, ketika kebunnya jauh dari pemukiman warga, harus berjalan kaki, berkilo-kilo meter, melewati hutan rimba yang di huni banyak ular, lemba, kuburan, kali yang di huni buaya tetapi karena mungkin sudah sangat bersahabat dengan alam rasanya seperti hal yang biasa, tak ada rasa takut sekecekil apapun. Ketika senja mulai terbenam, matahari sore malam pun tiba.
Kadang harus tidur di kebun di malam minggu sebab esoknya libur , menjaga jagung dan tanaman lainnya dari hewan pemakan tumbuhan. Hanya bermodal keyakinan, keteguhan, kerja keras dan doa, berharap ada kebaikan di hari esok meskipun ketika menyusuri malam di dalam kebun hanya mengandalkan rembulan yang menyinari dan tumpuan kayu yang di bakar di bawah pondok-pondok Rumbia.
Kebun kita yang jaraknya sekitar 6 - 7 KM kadang harus bertarung dengan banyak tantangan. Dulu ada yang familiar, seekor hewan yang setiap malam masuk di dalam kebun, Wewi Kabu dalam bahasa Indonesia " Babi Batuk" tapi kadang-kadang ada ular yang secara tiba-tiba naik di atas pondokan. Meskipun demikian, orang tua kita sudah teruji dan punya nyali akan hal seperti itu. Segala apapun, hasil kebun tetap di syukuri, memanggil warga dan masyarakat untuk menikmatinya, detumbu dan beragam jenis model di buat.
Sebagai masyarakat mekanik dalam istilah Emile Durkheim gotong royong dan kebersamaan tetap menjadi sesuatu yang nomor satu, sebab di sana ada kesamaan nilai dan kesadaran kolektif.
Ini adalah selayang pandang dari sebuah fenomena, bukan tentang orang lain, tapi tentang kita yang mungkin juga orang lain di luar sana yang merasakan hal serupa. Tapi, ada beberapa hal yang menarik dan paling berkesan yang tersirat maupun tersurat dari sebuah percakapan seorang anak dan orang tuanya.
"Koemo pedamu nsaidi, rampahano Insaidi notolaomo, sikolamu fekatata membalighomu dua mie, sokaetaha namisi gholeo mburimaino"Singkat tapi bermakna, mungkin saja, atas kehidupan yang keras, membentuk karakter dan kepribadian hingga saat ini yang berjuang dan terus memantaskan diri melalui jalur pendidikan dan organisasi.
Secerca harapan tentang hari esok, meskipun orang tua tidak menuntut kita, harus seperti apa kita ke depan tetapi paling tidak kita sebagai anak bisa berpikir, memahami, mengilhami dan mendalami setiap makna yang tersirat dari setiap ungkapan yang datang dari perasaan& hati yang penuh harap.
Unsamo kaawu nsaidi numamisie kamarasaino dunia, koemo hintumu. Pasolahae dua ingka sohintumu, madakaawu gholeo mburimaino.Bagi banyak orangtua, kuliahin anak itu butuh perjuangan berat, Jadi, ketika anaknya bisa sarjana, itu benar-benar sebuah pencapaian bagi mereka.
Apalagi kalau mereka dulunya enggak punya kesempatan untuk bersekolah lebih baik. Bisa kuliahin anak sampai sarjana itu sebuah pencapaian bagi mereka.
Kalau bagimu itu biasa saja, jangan pakaikan ukuran bajumu ke tubuh mereka. Apalagi tubuh mereka yang setiap hari dibakar panas matahari, di hujan oleh hujan, dihadapkan dengan kerja-kerja yang tak mudah demi anak kuliah.
Fekiri lagi tula tula kamokula nefemoini, dorelamo lagi daedesoa netetangga meskipun harus menanggung cacian, makian, kabisaraki namie demi untuk mengirimkan anaknya yang sementara berjuang, kuliah dan menuntut pendidikan.
Penghasilan orang tua setiap bulannya mungkin tak seberapa, tapi tekad, semangat dan jiwa optimis membara di dalam dada demi melihat anaknya mencapai puncak kesuksesannya.(*)

