Rindu “Wahai Tempo Dulu”, Warga Seram Utara Desak Pemulihan Nilai Adat dan Kepemimpinan yang Adil

Oleh: Ahmad Salatin

MALUKU, SPIONNEWS.ID – Di tengah kehidupan yang kian berubah, masyarakat adat di Negeri Wahai menyuarakan kerinduan mendalam terhadap nilai-nilai kebersamaan, toleransi, dan budaya yang pernah menjadi jati diri daerah tersebut.

Dalam pertemuan dengan media SPIONNEWS, sejumlah tokoh masyarakat, pemuda, dan perwakilan perempuan mengungkapkan kegelisahan mereka atas kondisi sosial yang dinilai jauh berbeda dari masa lalu. Mereka menggambarkan Wahai sebagai negeri yang dulunya dikenal ramah, menjunjung tinggi budaya orang basudara, serta menjadi pusat aktivitas pemerintahan dan pertemuan tokoh-tokoh penting sejak awal kemerdekaan.

“Di mana Wahai tempo dulu? Di mana kebersamaan orang tua-tua dulu? Di mana nilai toleransi antaragama yang dulu begitu kuat?” ungkap salah satu tokoh masyarakat dengan nada penuh keprihatinan.

Secara historis, wilayah Seram Utara dikenal sebagai kawasan kaya sumber daya alam, mulai dari hasil perkebunan seperti cengkeh, pala, kelapa, hingga hasil hutan dan laut yang memberi kontribusi besar bagi daerah maupun negara. Bahkan, kawasan ini pernah menjadi salah satu penyumbang utama pendapatan daerah.

Kontribusi Negeri Wahai juga terlihat dari penerimaan program transmigrasi pemerintah pusat, serta keberadaan kawasan strategis seperti Taman Nasional Manusela yang menjadi bagian penting dalam konservasi dan pembangunan nasional.

Namun ironisnya, menurut warga, besarnya kontribusi tersebut tidak sebanding dengan kondisi sosial dan tata kelola yang mereka rasakan saat ini.

Dalam dialog tersebut, masyarakat menyampaikan sejumlah tuntutan mendasar, di antaranya:

Perlunya pemimpin adat yang jujur dan amanah

Penguatan kembali hak-hak adat yang diwariskan turun-temurun

Kesepakatan bersama dari tiga marga besar: Marawalihitu, Roupessy, dan Laulama

Penegasan musyawarah adat sebagai dasar utama dalam pengambilan keputusan

Salah satu tokoh masyarakat berinisial UL bahkan menyampaikan bahwa kekecewaan yang selama ini terpendam telah berubah menjadi luka batin yang mendalam.

“Apakah hukum masih berlaku di negeri ini? Masih adakah pemimpin yang adil dan membela hak-hak rakyat?” ujarnya dengan nada tegas.

Pernyataan-pernyataan tersebut mencerminkan kegelisahan kolektif masyarakat adat yang merasa nilai budaya mulai tergerus, sementara keadilan dan kepemimpinan dinilai belum berpihak pada rakyat.

Di akhir pernyataan, warga berharap adanya perhatian serius dari pemerintah serta seluruh elemen masyarakat untuk mengembalikan marwah Negeri Wahai sebagai negeri adat yang menjunjung tinggi nilai kebersamaan, keadilan, dan budaya leluhur.

Bagi mereka, Wahai bukan sekadar wilayah administratif, melainkan simbol peradaban orang basudara yang kini tengah diuji oleh zaman. (Sub Biro Maluku Tengah)

Editor : EB

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *