Dinas PUPR Buton Selatan, Sudah Merespon Keluhan Masyarakat Terkait Jalan Raya Rusak

SPIONNEWS, Batauga – Sorotan masyarakat terkait dengan jalan yang ada di Kabupaten Buton Selatan menjadi bagian daripada perhatian kepedulian masyarakat kepada daerah, kritikan yang sering diungkapkan melalui media sosial dengan memperlihatkan aksi masyarakat menambal jalan yang berlubang dengan bahan seadanya, menjadi perhatian khusus pemerintah daerah melalui Dinas Terkait.

Viralnya video yang ada di Sampolawa maupun di Siompu, merupakan aksi nyata kepedulian bersama untuk bisa membantu pemerintah dalam melihat titik utama jalan yang selama ini dilalui namun berpotensi mengakibatkan rawan kecelakaan bagi penguna jalan tersebut.

Ketika dikonfirmasi Plt. Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Buton Selatan Iwan Mulyawan menjelaskan, memang kalau kita bicara anggaran, untuk infrastruktur anggaran untuk membangun jalan dan apa semua memang terbilangnya sedikit.

“Kemungkinan besar untuk kita bisa meneladani semua keluhan masyarakat, Pemda mungkin tidak bisa, namun bila kita melihat dari postingan masyarakat terutama yang berada di Pulau Siompu terkait jalan, saat ini Pemerintah Daerah masih dalam proses tahap perencanaan” Tuturnya.

Katanya, kemarin dari anggaran yang ada yang sudah diporsikan sekitar 1 miliar untuk jalan Siompu, dan setelah kita turun lapangan untuk mengukur dan mengkalkulasi estimasi anggaran yang ada mungkin hanya bisa tercapai hingga 800 meter.

“Namun setelah kita melakukan survei harga material di lokasi, untuk mencapai target 800 meter kami sepertinya tidak mampu, berdasarkan harga material mungkin hanya bisa mencapai 400 meter” Ungkapnya, Selasa, 28/4/2026 di ruang kerjanya.

Lanjutnya, karena harga material sangat tinggi bisa mencapai satu juta, untuk harga batu kapur atau batu pecah, untuk harga per karung semen, bisa mencapai Rp25.000, sampai 30.000 setelah dikonversi Satu kubik bisa mencapai hampir mencapai 1 juta, dan hal ini sangat mempengaruhi target yang hendak dicapai.

“Sebenarnya kami sudah lama mau aksi namun karena harga bahan yang begitu tinggi membuat kami harus mengkalkulasi ulang, karena kondisi ini bisa membuat kami tidak mencapai target” Tegasnya.

Ungkapnya, di satu sisi harga satuan untuk pemerintah daerah dengan harga satuan di daerah lokal, yang tidak sesuai dengan harga lokal yang nantinya ketika diperiksa bisa berakibat fatal, Oleh karena itu kami mencoba untuk mencari solusi lain agar bisa mencapai target dengan anggaran yang telah disediakan.

” Kami mencoba estimasi dengan ukuran jalan luas 3 m, dengan panjang jalan 100 meter, misalnya menghabiskan anggaran 100 juta, dan Bila lebar 4 M bisa mencapai anggaran sebesar 120 juta, maka dengan estimasi yang kita coba analisis akan kita kalkulasi, dengan harga kondisi bahan yang mahal target yang akan dilaksanakan tidak akan mencapai, dengan Sisi Lain harga satuan akan bermasalah nantinya” Terangnya.

Maka, Lanjut, Iwan, Kami mencoba menganalisis alternatif kedua dengan menggunakan timbunan, dengan kondisi yang ada di Kabupaten Buton Selatan Hanya dua wilayah yang memiliki potensi untuk diambil timbunan dalam melaksanakan pembuatan jalan, yang ada di Wa Begere, dan timbunan yang ada di antara Majapahit , bila kita datangkan bahan tersebut berdasarkan analisis konsultan, timbunan yang akan digunakan sekitar 290 ret, dengan nilai harga satu red mencapai Rp200.000, belum ditambah dengan harga angkut penyeberangan menggunakan ferry, bisa mencapai angka Rp.80.000

“Dan setelah diukur kembali hanya menambah 100 m dari bahan baku yang pertama setelah dianalisis, dengan menggunakan batu pecah hanya mencapai 400 meter sedangkan menggunakan timbunan hanya bisa mencapai 500 meter” Ujarnya.

Maka Kami mencoba mencari alternatif lain yang bisa mendekati target yang dibutuhkan. Dengan mencari lokasi Timbunan yang ada di pulau Siompu, dan ternyata tidak ada juga. Oleh sebab itu, merupakan masalah yang terjadi saat ini, berdasarkan anggaran memang sudah ada namun berdasarkan bahan baku material masih dalam proses.

“Kami juga mencoba untuk menganalisis bagaimana ketika kita mencoba mengupas aspal tersebut dan melakukan pengaspalan ulang, namun secara teknis tentunya ada tambahan pekerjaan dengan membuat saluran air atau biasa disebut bahu jalan, agar aspal yang dibuat bisa bertahan lama, Karena bila tidak air yang ada di atas bisa tergenang dan merusak aspal tersebut” imbuhnya.

Oleh sebab itu saat ini kita coba memastikan sehingga apa yang akan kita bangun, Namun kita melihat hasil dari apa yang telah kita kerjakan dapat bertahan lebih lama.

“Maka saat ini Kami sedang mencari dari tiga alternatif yang ada, sehingga ketika dikerjakan bisa mencapai target yang ditentukan, sehingga jalan tersebut bisa termanfaatkan dengan baik dan kualitas bisa bertahan lama” Ungkapnya. (Ha) Editor : Harry

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *