MUSIM PANEN AGAR-AGAR BANDAR BATAUGA: TERGANGGU IKAN MALALEA, NAMUN HARGA MELONJAK DUA KALI LIPAT

SPIONNEWS, BATAUGA — Semangat warga pesisir Bandar Batauga tetap membara meski menghadapi tantangan di tengah musim panen agar-agar. Beberapa lahan budidaya sempat mengalami kerusakan akibat serangan ikan kecil yang dikenal secara lokal sebagai ikan Malalea, yang memakan tanaman agar-agar sebelum masa panen tiba. Meski demikian, hasil panen tahun ini tetap disambut sukacita karena harga jual melonjak signifikan dibanding tahun sebelumnya, membawa harapan perbaikan penghidupan bagi para pembudidaya.

Basri, salah satu petani agar-agar di Bandar Batauga, mengakui keberadaan gangguan tersebut. “Benar, ada sebagian tanaman yang rusak dimakan ikan Malalea. Ikan-ikan kecil ini datang berkelompok dan memakan bagian agar-agar yang masih muda, sehingga pertumbuhannya terganggu atau bahkan putus sebelum dipanen,” ujarnya. Selasa, 6/10/2026.

Namun tantangan tersebut tidak menyurutkan harapan, karena hal lain justru membawa kabar gembira: harga beli agar-agar dari petani saat ini jauh lebih baik dibanding tahun lalu.

Ia menambahkan, Harga jual agar-agar kering saat ini berkisar antara Rp 32.000 hingga Rp 36.000 per kilogram, naik lebih dari dua kali lipat dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya berkisar Rp 16.000 hingga Rp 23.000 per kilogram. Lonjakan harga ini menjadi penyeimbang sekaligus penyemangat tersendiri bagi para petani, meskipun hasil panen per satuan lahan sedikit berkurang akibat serangan ikan.

Katanya, Musim panen agar-agar di perairan Bandar Batauga berlangsung setiap bulan, dimulai dari bulan Mei hingga November setiap tahun, beriringan dengan perubahan arah angin dari Musim Timur menuju Musim Barat. Di samping gangguan ikan Malalea, tantangan lain yang kerap dihadapi petani adalah munculnya jamur yang menempel pada batang agar-agar, yang dapat menurunkan kualitas dan kuantitas hasil panen jika tidak segera ditangani.

Di tengah segala tantangan tersebut, semangat kebersamaan warga Bandar Batauga tetap menjadi kekuatan utama. Setiap kali masa panen tiba, warga bergotong royong — mengikat bibit ke tali, memeriksa lahan, hingga menjemur hasil panen hingga kering sempurna. Kegiatan ini juga melibatkan anak-anak, yang turut membantu membanting dan merapikan tali, sehingga mereka pun ikut merasakan manfaat dari hasil kerja keras bersama.

“Anak-anak yang membantu membanting tali mendapat upah Rp 200 per tali, sedangkan jasa mengikat bibit agar-agar dihargai Rp 1.000 per tali. ” jelas Basri. Nilai-nilai kebersamaan ini membuat budidaya agar-agar bukan sekadar mata pencaharian, melainkan perekat persaudaraan di tengah masyarakat pesisir.

Para petani berharap harga yang menguntungkan ini dapat bertahan hingga akhir musim panen bulan November nanti. Mereka juga berharap dapat menemukan cara-cara sederhana untuk mengurangi kerugian akibat ikan Malalea dan jamur, agar di musim-musim mendatang hasil panen semakin melimpah dengan harga yang tetap baik.

"Untuk bisa mencapai 1 Ton, petani Agar-agar harus mencapai 10 Rakit dengan pajang rakit masing-masing 9x3 m" Ujarnya. (Ha)

Editor : Harry

(Ha)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *