PERJALANAN SULUK DAN HASILNYA

Oleh : RUSLY, S.Mn.

SPIONNEWS.ID, Batauga, Buton Selatan – Lebih kurang kita telah dapat memahami apa yang dimaksud dengan suluk itu serta apa tujuannya. Disini kita melihat bagaimana perjalanan suluk seseorang itu untuk mencapai tujuannya dan apa hasil yang dicapainya.

Sesuai substansi penulisan ini tentang Sara Pataanguna, perlu menyinggung sedikit masalah suluk ini karena sangat erat kaitannya dengan akhlaq atau budi pekerti manusia, dimana budi pekerti itu menjadi barometer kesucian jiwa rokhaniah untuk mencapai tingkatan manusia yang suci bersih zahir bathinnya yaitu Insan Kamil. Insan Kamil inilah yang dimaksud sebagai Khalifah Tuhan di bumi Kesulthanan Butuuni (Buton).

Sebaliknya khalifah itu tidak lain ialah orang yang suci bersih jiwanya dari karat dan noda dosa yang diperbuat. Untuk mencapai sebagai manusia sempurna, harus menjalani proses pembersihan hati (reformasi mental spiritual, sehingga berkepribadian dan berketerampilan yang baik) dengan jenjang dan tahapan tertentu.

MUJAHADAH

Yang dimaksud dengan mujahadah itu adalah perjuangan dalam melawan hawa nafsu iblisiyah yang mengotorkan hati dari segala sifat dan tabi’at tercelah. Untuk mengikis sifat-sifat tersebut harus dengan cara amalan zikir (ingat dan setia kepada Allah SWT dan Muhammad SAW). Mengamalkannya harus dengan kemauan hati yang keras berjuang melawan hawa nafsu syaitaniah yang menyebabkan karat yang menyelubungi hati atau jiwa atau qalbu itu.

Ibarat besi yang berkarat, maka untuk mengikis karatnya itu harus dipanaskan lalu dia dipukul. Bagi hati yang telah berkarat maka pemanasnya tiada lain adalah dengan kemauan dan kekerasan hati dan pemukulnya tiada lain adalah zikirullah dengan tidak berhenti sampai habis melebur. Karena karat itulah yang membuat manusia bertabiat buruk dan tercelah yang menjadi tali pengikat atau penutup hati yang menyelubungi sehingga lalai dari mengingat Allah SWT. Karat itulah yang mencemarkan dan menggelapkan qalbu menjadi gelap gulita tak bercahaya lagi karena kemungkaran dan kejahilan.

Zikir itu sebagai pencuci, sebagai pelebur, sebagai pembersih dan sebagai air api yang dapat melepaskan semua karat hati agar supaya menjadi bersih dan terang kembali cahayanya. Dengan demikian barulah dapat orang untuk membiasakan mujahadah. Jika secara berterusan melakukannya Insya Allah hati akan berangsur berganti corak dan rupa secara pelan-pelan dari cemar kepada jernih dan bersih. Hal itu sesuai perkembangan perjalanan secara berjenjang dari nafsu.

Tanya  :           Apakah nafsu itu dan bagaimana rupa nafsu itu?

Jawab :           Secara umum biasanya kita mengartikan identik dengan syaithan.

Kedua kata itu berbeda sebutan tetapi merupakan kata sifat yang berarti sama.

Dalam ilmu Tasawwuf sesuai pemahaman syari’at kata nafsu atau syaithan itu menunjukkan asma’. Dari asma’ atau nama sifat itu tiada lain adalah hasil perbuatan yang dapat diidentifikasi, namun dia akuntabel pada perilaku yang bertentangan dengan keberadaan yang tidak berwujud.

Dengan demikian jelas bahwa tempat kediaman syaithan itu di dalam hati atau qalbu. Maka dapatlah difahami bahwa yang akan dibersihkan itu adalah hati atau qalbu yang Latifatur Rabbani, yang dalam istilah bahasa Tasawwuf disebut Tazkiyatun Nafs. Dengan jalan melakukan Tazkiyah dengan tidak berkeputusasaan Insya Allah hati akan menjadi suci bersih dan memungkinkan dalam mempercepat jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Adapun Tazkiyatun Nafs atau pembersihan nafsu itu ada tujuh jenjang atau tingkatan. Tiap tingkatan nafsu itu memerlukan tahapan waktu untuk mencapainya, baik secara pribadi maupun melalui tuntunan Guru atau Mursyid. Perubuhan tingkatan itu hanya dapat dijelaskan oleh Mursyid yang mumpuni dan dapat menuntun ke jalan kebenaran tersebut.

Oleh sebab itu setiap orang yang mengikuti Tarikat harus patuh dan taat mengikuti petunjuk, tidak boleh sesuka hati, sebab tidak mengetahui apa yang didapatkan dalam suluknya.Dengan demikian jika dilakukan secara pribadi itu hanya merupakan amal biasa, karena didalam hatinya tidak terlintas untuk memperhatikan perkembangan yang diperolehnya.

Adapun tingkatan nafsu itu ada tujuh yaitu ialah :Nafsu Ammarah; Nafsu Lawwamah; Nafsu Mulhammah; Nafsu Mutmainnah; Nafsu Radliah; Nafsu Murdliah, dan Nafsu Al Kamil.

KESATU (KE-1) PERJALANAN NAFSU AMMARAH

Telah diketahui bahwa mujahadah adalah perjuangan, yaitu sebuah perjalanan dalam membersihkan nafsu hati yang kotor. Mujahadah dalam tingkat nafsu ini adalah tahapan yang sangat susah untuk dikendalikan karena sifatnya masih bolak-balik. Misalnya khianat, khasad, dengki, loba, tamak, angkuh, sombong, takabur lagi sangat birahi (rakus) dengan kehidupan mewah keduniaan, dan lain-lain yang serupa dengan itu demi kepuasan zahiriah (jasmaniah). Semua ini berada pada tingkat nafsu Ammarah, yang hatinya sedikitpun tidak pernah mau memikirkan untuk tenggang rasa terhadap sesama manusia. Yang penting baginya senang dengan menghalalkan segala cara untuk mencapai kepentingannya. Untuk membersihkan hati kotor seperti ini biasanya zikirnya hanya sekedar dibibir tetapi hatinya melenceng memikirkan yang lain dan mengembara kesana kemari tanpa tujuan. Caranya dia harus berupaya keras agar ucapan zikirnya itu dipadukan kehatinya dengan terus menerus.

Misalnya bibir kita mengucapkan kalimat “Laillahaillallah”, maka kita orang Indonesia mengartikakannya “Tiada Sesembahan Selain Allah” dalam hati kita. Perlu diketahui bahwa nafsu Ammarah inilah sejahat-jahat dan sehina-hina nafsu (keinginan untuk berbuat), karena sangat suka untuk berbuat kejahatan yaitu perilaku yang tidak disenangi oleh orang awam (masyarakat banyak) seperti tersebut diatas. Tabiat hati nafsu ini paling mudah tergoda oleh syaithan. Baik dan jahat itu sama baginya dan tidak pernah merasa duka atau menyesali perbuatannya.

Merugikan orang lain sangat disukainya dan merasa gembira dan lega jika orang lain teraniaya olehnya. Contohnya, bila meninggalkan shalat ia tidak pernah merasa rugi bahkan orang sedang shalat di Masjid, dia enak-enak saja lalu-lalang dengan berteriak-teriak di sekitar Masjid. Melihat orang rajin ke Masjid dicaci dengan mengatakan Kyai atau Pak Haji. Mengambil hak orang seperti menipu atau mencuri dia sangat gembira dan senang sebagaimana firman Allah, yang artinya: “Sesungguhnya nafsu Ammarah itu sangat menyuruh untuk berbuat jahat”.

Sebahagian tanda-tanda nafsu Amarah ini antara lain seperti : Bakhil; Tamak dan loba pada harta dunia; Sobong, angkuh dan takabur; Luas berangan-angan; Senang dengan kemegahan dunia; Ingin terkenal walau merugikan orang lain; Hasad dan dengki; Dendam kusumah; Khianat dan niat jahat; Lalai tabiat kepada Allah SWT. Siapa yang ada salah satu tanda dalam hati seperti yang kita sebut diatas, itulah orangnya, dan lekas-lekaslah bertaubat sebab sifat nafsu Amarah itu tidak terkecuali apakah dia penjahat atau ilmuwan dan sebagainya.

KEDUA (KE-2) PERJALANAN NAFSU LAWAMMAH

Adapun nafsu Lawammah itu selalu mengeritik diri sendiri jika dia tergelincir kelembah angkara murka dan dosa, maka dia cepat-cepat bertaubat dan memohon keampunan dari Allah SWT. Tingkatan nafsu ini lebih baik sedikit dari nafsu Ammarah, namun sekali-sekali dia masih tergoda dengan dosa dan kejahatan. Tetapi dia akan segera beristighfar kepada Allah SWT dengan penyesalan. Allah SWT berfirman, yang artinya : “Dan aku bersumpah dengan nafsu Lawwamah (pencerca dan pengkritik) diri”.

Contohnya, jika dia meninggalkan shalat, dia aka merasa takut serta menyesal karena terbayang hukum Allah SWT terhadap dirinya, sehingga dengan serta merta dia bermohon keampunan sebanyak-banyaknya kepada Allah SWT dengan perasaan yang sungguh-sungguh. Begitu pula dengan perbuatan tercela lainnya.

Adapun sifat kasar dari nafsu Lawwamah itu antara lain ialah: Mencela kesalahan diri sendiri; Dia berfikir dalam tafakur; Merasa takut bila berbuat kesalahan; Mengeritik apa saja yang bersifat kejahatan yang dilihat; Merasa heran pada diri sendiri yang disangka baik (ujub); Berbuat baik supaya dipuji orang (ria); Menunjukkan kebaikan yang dibuat-buat supaya dihargai orang (sumaah). Dan lain-lain sifat yang serupa itu. Barang siapa ada salah satu dari sifat tersebut, dia tergolong dalam nafsu Lawwamah. Kebanyakan sifat ini terdapat pada golongan intelek (materialis), sehingga syurga bagi mereka itu jauh terkecuali ada rahmat dan keampunan dari Allah SWT. Sifat kotor masih melekat yang harus dikikis dengan pengikis mujahadah, sebagaimana firman Allah SWT, yang artinya: “Dan orang-orang yang bermujahadah pada jalan Kami, akan Kami tunjuki pada mereka jalan Kami”.

KETIGA (KE-3) PERJALANAN NAFSU MULHAMMAH

Adapun nafsu Mulhammah itu telah mulai bersih segala kekotoran hatinya akibat sabun zikir dan penyikat mujahadah, sehingga dia sering mendapatkan ilham yang berguna dan luar biasa. Nafsunya sudah tergolong dalam awal permulaan menjadi Wali Kecil, yaitu Wali Surga. Hal ini terjadi karena dia telah berhasil mengalahkan nafsu Ammarah dan Lawwammah, melalui beberapa proses pensucian hati. Dan terbuanglah semua sifat kotor khawatir Syaithan menjadi khawatir Malaikat, dengan kata lain “Ilham”, sebagaimana firman Allah SWT, yang artinya: “Demi nafsu (manusia) dan yang menjadikannya (Allah) lalu diilhamkan Allah kepadanya mana yang buruk dan mana yang baik. Sesungguh mendapat keuntunganlah orang-orang yang mensucikan nafsu (jiwa atau hati atau qalbu) dan merugilah orang-orang yang mengotorinya”.

Adapun sifat-sifat yang tumbuh pada tingkatan nafsu Mulhammah ini ialah: Tidak sayang dengan harta (Sakhawa); Merasa cukup dengan apa yang ada (Kanaah); Memperoleh ilmu Ladunny (Ilham); Merasa rendah diri kepada Allah SWT (Tawaddu’); Taubat yang benar (Hakikih); Sabar, Tabah yang benar dan Ekhlas; Tahan menanggung (merasai) susah dan sengsara. Barang siapa yang merasa di hati ada terdapat sifat yang tersebut diatas maka dia telah masuk dalam golongan nafsu terpuji, yakni nafsu Mulhammah. Orang-orang Sufi dalam golongan awam dulu dan sekarang mereka dinilai sebagai calon ahli syurga, karena nafsu (qalbu)nya telah bersih dari karat dosa dan khurafat kemungkaran dan kejahilian. Dia telah memasuki perbatasan makam Wali, sebab terkadang sering mencapai fana’ yang menumbuhkan rasa Ma’rifat. Namun masih memungkinkan untuk kembali karena hilangnya sifat-sifat terpuji, sebab persemaiannya masih goyah sehingga rusaklah kesucian hati atau jiwa.

Oleh sebab itu teruskanlah tazkiah dengan mujahadah mensucikan hati dari fitnah hati itu sendiri. Huzaifah bin Yaman berkata bahwa Nabi SAW bersabda: “Dinampakkan fitnah-fitnah atas hati bagaikan menggelarkan tikar satu demi satu”. Diriwayatkan bahwa hati mana yang penuh bintik-bintik hitam dan mana yang bersih dari bintik-bintik putih didalamnya (HR. Muslim). Olehnya itu, jika dia selamat dalam perjalanan nafsu Mulhammah ini dia akan dapat beralih kepada tingkatan nafsu Mutmainnah.

KEEMPAT (KE-4) PERJALANAN NAFSU MUTMAINNAH

Adapun nafsu Mutmainnah itu adalah tingkatan nafsu hati yang telah suci bersih dan telah dapat disebut sebagai Wali Kecil yang disebut Wali Surga. Hati atau qalbunya telah suci bersih lagi jernih serta tangguh sebagai proses dalam mencapai makam hakikat dan ma’rifat, sebagaimana firman Allah SWT, yang artinya: “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhan-Mu dengan hati suka cita serta ridha-Nya. Maka masuklah engkau kedalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah kedalam syurga-Ku”.

Adapun sifat-sifat hati rohaniah yang timbul dalam sifat nafsu Mutmainnah ini adalah: Murah hati dan tak lekat uang ditangannya oleh karena bersedekah (dermawan); Tawakalnya benar dan betul; Bersifat arif lagi bijaksana (Arifbillah); Sangat kuat beribadah; Selalu merasa syukur dengan benar dan betul dengan apa yang ada; Rela berkorban dengan segala hukuman Allah SWT; Taqwanya benar-benar taqwa, dan lain-lain sifat terpuji.

Orang yang telah mencapai makam ini kadang-kadang nampak padanya keramat yang luar biasa. Mendapatkan ilmu sangat mudah tanpa mengkaji atau mutlaah tetapi secara ilham. Diapun sudah dapat mengesan rahasia yang ada di dalam Lauth Mahfudz (Al-Qur’an dan Al-Hadits serta informasi-informasi lainnya yang tidak tertuang dalam kitab suci tersebut), dan syurga telah menjadi jaminan baginya. Mereka tidak diragukan lagi akan semua kebenaran ucapannya, baik pada dirinya maupun kepada sesama hamba Allah (manusia).

KELIMA (KE-5) PERJALANAN NAFSU RADLIAH

Adapun yang dimaksud dengan nafsu Radliah itu karena kejernihan hati atau qalbu yang teguh dan telah terpojok dengan rasa ridla terhadap hukuman Tuhan SWT. Kejernihan hati yang teguh adalah modal untuk menerima hukuman itu. Ini bukanlah hal yang senang atau mudah mencapainya jika tidak memiliki sifat sabar, tabah serta berhikmah tinggi dalam perjuangan mujahadah disertai ibadah dan ubudiah sesuai kaidah golongan Sufisme. Tabiatnya sudah luar biasa dan tidak rasa takut dan gentar menghadapi segala tantangan dan cabaran bala’ dari Tuhan-Nya serta ridla.

Perasaan ria dan gembira terhadap nikmat dari Allah SWT tidak lagi baginya dan sama saja susah dan senang itu. Karena yang dia inginkan hanya satu yaitu keridlaan Allah SWT atas hukuman yang ditimpakan kepadanya. Semua problem kehidupan duniawi sama saja baginya. Kekayaan, pangkat dan jabatan serta penghormatan tiada arti dan sama dengan sepotong daun kayu kering. Tiada beda baginya dengan emas-intan dan berlian bak kerikil tajam. Segala suka duka kehidupan dunia yang tidak tahan dirasakan oleh orang awam, sudah jauh untuk melekat bersarang didalam qalbu sebagaimana isyarat Tuhan sesuai firman-Nya, yang artinya: “Sesungguhnya para awlianya (wali) Allah itu tidak pernah merasakan risau bagi mereka”.

Mengapa demikian, karena nafsu mereka telah habis terkikis noda-noda karat hati yang menyelubungi jiwa rukhaniahnya. Sinar Rukh Syuhud telah nampak dan bau syurga telah tercium dalam ma’rifatnya. Dan Ma’rifatullah telah dapat menjelma terbinar-binar masuk kedalam jiwa qalbu rukhaniah-Nya. Alam sekeliling kita bagaikan cerminan yang dapat digunakan untuk dapat melihat keajaiban dan kebesaran Allah SWT setiap saat. Seperti makam Musyahadah-Nya yang terdapat dalam Al-Ikhsan, sebagaimana sabda Rasul-Nya SAW, yang artinya: “Dan menyembah Allah yang telah nampak dalam pandangan mata basyirahnya (bukan lagi seakan-akan melihat Dia)”.

Contohnya seperti diriwayatkan oleh para muhakiki bahwa suatu waktu Syeikh Abdul Qadir Jailani habis makan, terlihat sisa-sisa tulang ayam yang dimakan, lalu diserunya: “Hai tulang, jadilah engkau ayam kembali!”. Maka sekalian tulang itu berkumpul lalu menjadi seekor ayam hidup lalu lari. Mengapa hal seperti itu bisa terjadi, karena kata-kata orang dalam tingkat nafsu ini telah diridlai oleh Allah SWT, yang disaksikan oleh ibu budak khodam-Nya.

Sebab itu kita tidak boleh sembrono dan ceroboh bicara di depan orang seperti itu, karena ditakutkan dia salah berbicara walaupun tiada niatnya yang jahat, sebab semua perkataannya mendapat ridla dari Allah SWT. Inilah Wali Allah dalam martabat orang Khawas, yang memiliki sifat rukhani dalam zyuhudnya seperti : Zahid; Ekhlash; Wara; Menjauhi perkara-perkara yang bukan kerja atau pekerjaannya; Menepati dan menunaikan hukum-hukum Allah dan lain-lain sifat rukhaniah yang tinggi lagi bermutu dan bermanfaat. Mereka inilah Wali Allah yang Insan Kamil untuk dapat berbudi luhur lagi suci bersih, dan berhak mendapatkan gelar Khalifah Tuhan di bumi. Qalbu Rukhaniahnya telah Latif (Lemah-Lembut bagi setiap Makhluk ciptaan Allah SWT) di setiap saat dan waktu maupun dimana saja tempat peristirahatannya terakhir.

KEENAM (KE-6) PERJALANAN NAFSU MARDLIYAH

Adapun nafsu Mardliyah ini menyatakan bahwa jiwa rukhani mereka, perasaan mereka, lintas khawatir mereka, gerak-gerik, penglihatan, pendengaran, maupun penumbuk tangan mereka serta ludah mereka telah diridlai oleh Allah SWT. Pengalaman bathin dan qalbu serta jiwa mereka seakan-akan sama saja dengan zahir kenyataannya dengan tiada perbedaan, sebagaimana sabda Nabi SAW dalam hadist Qudsi, yang artinya: “Senantiasa hamba-Ku bersama-Ku dengan mengerjakan ibadah sunat hingga Aku mengasihinya, maka apabila mendengar dia mendengar dia mendengar dengan Aku, berkata dia berkata dengan Aku, menampar dia menampar dengan Aku, berjalan dia berjalan dengan Aku. Fikiran hatinya dia berfikir dengan Aku”. Semua tingkah laku perbuatan maupun tutur kata dan tidur jaganya bersama dengan Dia sebab semua itu terbit dari Allah SWT.

Contohnya, berjalan jauh tidak perlu dengan alat transportasi canggih, menyeberang laut tidak perlu dengan jet foil, dari negara ke negara tidak perlu dengan pesawat jet yang paling canggih, bahkan ke langit pun tidak perlu dengan pesawat ruang angkasa, karena semua isi langit itu sedia ada dalam pandangan mata bathinnya dengan terang. Mereka inilah Wali Allah dalam Martabat Khawas Al Khawas, yang telah dijamin tempatnya di syurga loka. Sifat-sifat budi luhur mereka yang memiliki nafsu Mardliyah itu nyata seperti: Sifat lemah lembut dalam pergaulan seperti sifat para Anbia’ dan para nabi; Sifat manis dan tinggi budi pekertinya seperti akhlaq para nabi-nabi; Senantiasa rindu berdampingan dengan Khalik-Nya; Selalu memikirkan kebesaran Allah SWT; Ridla dengan apa saja nikmat pemberian Allah SWT, dan lain-lain sifat yang seumpama itu.

KETUJUH (KE-7) PERJALANAN NAFSU AL KAMIL

Adapun nafsu Al Kamil itu merupakan tingkatan nafsu tertinggi dan termulia bagi hamba ciptaan-Nya. Dia akan dapat dicapai melalui jalan adab tarbiyah dengan teratur setelah melalui tingkatan nafsu yang kita urutkan diatas. Sangat berbeda dengan orang-orang majdzub, yang selalu melangkah dengan melompat dengan cepat. Sebab itu orang majdzub itu diragukan untuk mendapatkan hasil karena tidak istiqomah dalam perjalanannya. Jalan yang terbaik untuk mencapai makam nafsu ini melalui Adab Tarbiyah melalui Suluk campur Jazbah melalui Guru Mursyid yang ahli Tarikat.

Misalnya seperti Tarikat Naksyabandiah atau Tarikat Khalawatiyah Samaniyah. Di negeri Butuuni (Buton) dulu ada jenis tarikat yang disebut dengan Tarikat An Nazili dengan nama lain Tarikat Tanazul. Lain padang lain belalang demikian istilahnya yang menunjukkan lain Tarikat lain pula jalannya. Makam nafsu Al Kamil inilah yang paling tertinggi, dimana perjalanannya paling sulit lagi pelik, karena memerlukan pengorbanan, keberanian dan keuletan disertai kesabaran dan ketabahan. Tidak ada lagi dimuka bumi ini nafsu yang paling mulia bagi manusia, karena dalam pangkatnya telah dapat menghimpunkan antara syari’at dan hakikat atau zahir (nyata) dengan bathin (tidak nyata). Inilah yang disebut dalam kalangan Sufi dengan Makam Baqai Billah atau Kamil Mukmal atau Insanul Kamil. Antara Rukh (aniah) atau qalbu atau hati latif-nya kekal dengan Allah dalam zahir kenyataan tubuhnya dan tetap dalam pergaulan kehidupan sosial dengan masyarakat awam (umum).

Contohnya, seperti Nabi kita Muhammad SAW, para Khalifah Ar Rasyidin pada masanya.Hati mereka itu kekal beserta Allah dalam jaga maupun tidurnya, sebab mereka tetap mujahadah. Makam ini tak dapat dinilai seperti apapun, karena dia sudah Khawas Al Khawas dimana gerak langkah, tutur kata maupun dalam bernajis dan sucinya semua benih. Benih yang tumbuh dari sifat ini, baik genetik maupun rukhaniahnya murni dan syurga Firdauslah tempatnya. Dan silsilah keturunannya merupakan alat perekat yang dijamin memiliki akhlaq dan budi pekerti luhur, sebagaimana yang diajarkan oleh Sulthan Dayanu Ikhsanuddin dengan nama Adat Yang Empat atau Sara Pataanguna itu, yang menjadi esensi penulisan ini yang penulis beri judul sebagai “TASAWWUF AKHLAQY”.

Guna melengkapi pembahasan tentang Sara Pataanguna itulah penulis memulainya dengan mengutarakan pembahasan budi pekerti Pobinci-binciki kuli, karena mempunyai hubungan pertambatan yang kuat dengan sifat nafsu kemanusiaan yang sempurna yaitu Insan Kamil Mukmal itu. Insan Kamil Mukmal itulah yang suci bersih lagi murni yang berhak mendapat gelar Khalifah Tuhan SWT di Bumi Kesulthanan Butuuni, yang didahului melalui pendekatan definisi nafsu atau moral religi kemanusiaan yang disebut dengan akhlaqul karimah.

DEFINISI NAFSU DAN TARBIYAHNYA

Para muhakikin banyak sekali berbeda pendapat dalam mendefinisikan dan memaknakan nafsu itu, karena banyak sekali arti Nafs atau Nafsu itu. Disini kita coba mengangkatnya sebagaimana yang diketengahkan dalam Kitab Tazkiyatun Nafs karangan Abdul Barro’ Saad bin Muhammad Ath Thakhisi, terjemahan Muqimuddin Sholeh, hal 27-94. Pertama: Nafs atau nafsu itu disebut juga rukh, sebagai rahasia kehidupan yang terdapat dalam organ tubuh manusia yang hidup. Padahal Allah telah menjelaskan untuk tidak mempertentangkan masalah Rukh itu sebagaimana firman-Nya (QS. Al Isra’:85), yang artinya: “Dan mereka bertanya kepadamu tentang Rukh. Katakanlah (Ya Muhammad); Rukh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”.

Dalam Al Qur’an banyak sekali didapatkan ayat-ayat dengan lafz Nafs, seperti dalam QS. Al An Aam : 93, yang artinya: “Keluarkanlah nyawamu!”. Kedua: Nafs (nafas) dikatakan sebagai Latifatur Rukhiyah Rabbaniyah (Rukh Rokhaniah yang halus). Manusia bergantung padanya, sebagaimana pandangan ahli Sufi yang telah kita bicarakan (QS. Al Hijr:9), yang artinya: “Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung”. Inilah Latifatur Rukhaniah Rabbaniyah yang mengikat manusia dan membedakannya dengan hewani.

Kebanyakan doa para sahabat diantaranya Abdur Rahman bin Auf r.a. ketika tawwaf: “Yaa Allah, ilhamkan daku hal yang lurus dan jagalah aku dari kebakhilan nafsu!”. Ketika ditanya apa sebabnya, dia Abdur Rahman bin Auf r.a. menjawab: “Apabila saya menjauhi kebakhilan maka saya bisa menjaga diri dari keseluruhan kejahatan!”. Firman Allah SWT (QS. An Naazi’at: 40-41), yang artinya: “Dan adapun orang-orang yang takut pada kebesaran Tuhan-Nya dan menahan diri dari keinginan nafsunya, maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggalnya”. Ketiga: Lafaz Nafs diistilahkan kepada manusia dengan kesempurnaannya dicipta Tuhan jasadnya dengan Rukh (Hati yang terdapat di Badan Manusia) dan Akal Fikiran (Otak yang terdapat di Kepala Manusia). Makna Nafs ini banyak disebutkan dalam Al-Qur’an antara lain (QS. Lukman: 28), yang artinya: “Tidaklah Allah menciptakan dan membangkitkan kamu (hai manusi dari kubur) itu melainkan seperti (menciptakan dan membangkitkan) satu jiwa saja”.

Itulah beberapa hal yang dapat penulis dijelaskan dalam memahami makna Nafs itu serta manfaatnya untuk kehidupan manusia, yang menunjang hakikat tabi’at perjalanan Nafsu atau Jiwa atau Qalbu ataupun Hati atau Rukhaniyah yang Latifatur Rabbaniyah (yang tidak bisa dipegang tetapi bisa dirasakan). Maksudnya rasa-rasanya setiap Rukh manusia itu bermesra dengan Jasmaniah dan terlihat bersatu padu satu sama lainnya, kemungkinan tidak menyatu, karena nantinya di massa kemudian hari ketika Rukh itu berpisah dengan Jasmaniah tidak berantara tetapi kenapa Rukh itu ketika berpisah dengan Jasmaniahnya terasa sakit?. Hal ini bagaikan pertemuan elemen tanah, air dan udara, dimana sifat tanah selalu bersifat rendah diri (tidak sombong) dan sifat air yang dapat menyesuaikan diri dan udara yang dapat memberikan kehidupan bagi seluruh makhluk hidup.

Demikian yang dapat penulis sampaikan yang dikutip langsung dari Buku SARA PATAANGUNA karangan L. A. Muchir, Tarafu – Butuuni, 2003 oleh: Saudara RUSLY, S.Mn (Sarjana Manajemen) alias Saudara Rusly Alitanda La Marae (Saudara RAL) Putra Butuuni anak dari pasangan suami istri LA ALI (Buton Wakatobi) dan WA RATNA (Buton Selatan) yang dilahirkan di Desa Siri Sori Amalatu Kecamatan Saparua Kabupaten Maluku Tengah Provinsi Maluku pada 28 Juli 1978 lalu.

Dengan mengucapkan bismillahir rahman nir rahim, saya mendeklarasikan diri sebagai calon Pemimpin ISi aLAM (Insya Allah menjadi ISLAM sejati) yaitu Pemimpin bagi Seluruh Alam melanjutkan perjuangan Rasulullah Muhammad SAW dan Sahabat-sahabatnya) Insya Allah ketika berusia 73 tahun, walaupun saya tidak memiliki sesuatu apa pun untuk bisa dibanggakan selain Allah SWT (Al-Qur’an) dan Muhammad SAW (Al-Shunah), namun saya paham betul bahwa melalui Konsep KITAB Diri, yakni Kenali Diri, Isi Diri, Tahui Diri, Awasi Diri, dan Belai Diri, saya berharap semoga bisa bangkit dan berbenah diri dari keterpurukan yang dialami selama ini seperti yang dirasakan kebanyakan orang awam yakni merasa ketakutan menghadapi cobaan hidup di dunia fanah ini, sebagai calon Sekretaris Jenderal Persatuan Bangsa-Bangsa (Sekjen PBB) Insya Allah ketika berusia 68 tahun, sebagai calon Presiden Negara Kesatuan dan Persatuan Republik Indonesia (NKPRI) Insya Allah ketika berusia 58 tahun. IA, aamiin.

Apalah artinya kalau kita ingin bersatu tetapi hati kita tidak mau menyatu, karena nasib suatu bangsa dan negara ditentukan dari namanya, sebab nama adalah doa/ impian/ harapan/ cita-cita yang hendak kita wujudkan bersama-sama yaitu mencapai Kemakmuran dan Keadilan bagi seluruh Rakyat Indonesia dengan jalan Persatuan dan Kesatuan (merasa senasib, sepenanggungan dan seperjuangan, sehingga kita harus seia, sekata, sehati, sejalan, seirama dan sehasil, maka dari itu ketika kita bertemu (selalu menyambung tali silaturahmi) kita harus saling menyapa dimulai dengan senyuman, salam, sopan, santun dan penuh sentuhan.

“Untuk itu semua, maka melalui media ini saya usulkan agar nama NKRI disempurnakan namanya menjadi NKPRI dan Kota Baubau menjadi Kota Buton atau Butuuni”, usul Saudara RAL sebagai calon Gubernur Kepulauan Buton (setelah Provinsi Kepulauan Buton dimekarkan), Insya Allah ketika berusia 53 tahun dan Insya Allah ketika berusia 58 tahun menjadi Presiden RI. IA, aamiin IA Aamiin). (RAL&NIL)

Penulis adalah mantan wartawan Jaring Sumbawa Ekspres, motto: “Objektif, Konstruktif, Independen” 2000 – 2001 dan mantan wartawan Gaung Sumbawa NTB, motto: “Jangan Gentar Berkata Benar” 2001 – 2003.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *