Gizi Buruk Menjadi Ancaman, Baru “Diketahui” Pemerintah Desa Waiheru

SPIONNEWS.ID, Maluku – Gizi buruk, atau malnutrisi, adalah kondisi di mana tubuh tidak mendapatkan nutrisi yang cukup atau tidak seimbang, yang dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan. Gizi buruk dapat terjadi karena kekurangan zat gizi seperti protein, vitamin, dan mineral, atau karena kelebihan asupan kalori yang tidak sehat.

Rabu (31/07/2024), wartawan spionnews.id menjenguk Siti Hartina (12) yang akrab disapa Tina, anak dari pasangan suami istri, Riswan (34) dan Rukmina (33), warga Desa Waiheru Kecamatan Baguala Kota Ambon Provinsi Maluku yang menderita gizi buruk dan sedang dalam penanganan pihak Rumah Sakit Leimena Ambon.

Riswan bapak dari Tina menceritakan kalau anaknya itu sudah masuk rumah sakit 4 kali dari bulan Januari sampai Juli 2024. Tina sudah mengalami penanganan operasi sebanyak 3 kali dan usus perutnya mengalami bocor sehingga saluran pencernaannya terganggu. “Ketika makanan berupa nutrisi atau vitamin lainnya masuk (kedalam perutnya, red), maka tidak akan sampai menyebar ke organ tubuhnya,” ujarnya.

Dirinya mengakui, hal ini merupakan kelalaian pihak keluarga (orang tua) karena tidak memperhatikan anaknya yang selalu makan mie mentah kemasan yang sering dijual di pondok-pondok (kios) di sekitar tempat tinggal mereka. Riswan pun mengatakan bahwa, pihak rumah sakit pun sudah menyampaikan kepada dirinya bahwa anaknya (Tina) sudah dalam kategori penderita gizi buruk.

Untuk itu, dirinya mengharapkan kepada Lembaga Pemerintah, Organisasi non Pemerintah, masyarakat maupun individu kiranya dapat membantu dirinya dalam menghadapi persoalan gizi buruk yang diderita oleh anaknya.

Pria yang kesehariannya hanya tukang ojek itu menyampaikan bahwa, sekarang anaknya sedang terbaring di rumah sakit dan sangat membutuhkan bantuan walaupun anaknya memakai jaminan kesehatan dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, namun ketika kebutuhan obat untuk anaknya itu, jika di apotik rumah sakit tidak ada, maka dirinya harus berusaha mendapatkannya di apotik lain namun betapa sulitnya untuk membelikan obat tersebut karena tidak memiliki uang yang cukup. “Pendapatan saya sebagai tukang ojek rata-rata hanya bisa untuk kebutuhan makan dan minum pada hari itu saja dan itu tidak berkecukupan untuk keluarga kecilku,” ungkap Riswan.

Riswan pun melanjutkan ceritanya, dirinya sangat berterima kasih apabila ada pihak yang bersedia membantu dalam meringankan beban yang dipikulnya hari ini. Adapun upaya yang dilakukan oleh sekelompok mahasiswa dengan gerakan kepedulian sosial kemanusiaan namun sudah beberapa hari ini belum ada informasi yang ia dapatkan. “Beta berharap gerakan aksi peduli kemanusiaan ini, semoga dapat membantu meringankan keperluan kesehatan akan anak kami,” kata Riswan.

Pria yang saat ini sedang merenung dan memikirkan penderitaan akan anaknya itu, sangat mengharapkan sentuhan kita semua, dirinya mendoakan semoga Tuhan Yang Maha Kuasa dapat mengirimkan manusia yang berhati malaikat agar dapat membantunya dalam menghadapi persoalan kebutuhan kesehatan anaknya yang sementara terbaring lemas di Rumah Sakit Leimena Ambon.

Sementara itu, Kepala Desa Waiheru, Usman Ely –yang dihubungi via whatsapp terkait persoalan tersebut baru mengetahui hal itu. Dirinya menyampaikan, pihak pemerintah desa sudah mendatangi orang tuanya Ade Tina dan akan memberikan bantuan dari desa kepadanya.

Lebih lanjut Kades Waiheru menambahkan, selama ini Kader Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) dan Kader Pembangunan Manusia (KPM) di Waiheru telah berhasil menekan kasus stunting “Dari 63 kasus di tahun 2021 menjadi 20 kasus di tahun 2022, kemudian di tahun 2023 sisa 4 kasus dan di tahun 2024 sisa 1 kasus,” kata Kades Waiheru. (Erwin Banea)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *