“Kisah Mata Air Hara Mpangi dan Hara Benua Pernah Diminum Gajah Mada saat Mendarat di Buton Selatan”
SPIONNEWS, BUTON SELATAN – Buton Selatan masih menyimpan banyak cerita yang melegenda salah satunya dua mata air yang diyakini oleh masyarakat Kelurahan Majapahit, Kecamatan pernah diminum oleh Gajah Mada saat mendarat di Buton Selatan.
Parabela/Ketua Adat Majapahit, La Saludin menceritakan penamaan kedua mata air Hara Mpangi dan Hara Benua. Bermula pada saat kedatangan Pati Gajah Mada di daratan Buton (pantai Masiri sebelah selatan) yang kemudian mendiami kawasan hutan Ombo.
Kedua mata air tersebut konon kisahnya pernah digunakan oleh Pati Gaja Mada bersama prajurit sebagai sumber air bersih, kemudian dimanfaatkan oleh masyarakat setempat sebagai saluran irigasi dan sumber air bersih hingga saat ini.
“Kedua mata air itu pernah digunakan oleh pati Gaja Mada beserta pengikutnya saat menginjakan kaki di Pulau Buton,” Tutur La Saludin, Minggu (2/2/2025).
Lanjutnya, Kemudian pada tahun 1586, di masa pemerintahan Sultan Buton Laelangi (Dayunu Ikhsanudin), Sara Kaide Bola membuat perjanjian yang diberi nama tutura kano sara yang berisi tentang larangan merusak kedua mata air tersebut. Apabila ada yang melanggar maka akan terkena kutukan.
“Adapun kutukan yang ditujukan bagi si pelanggar peraturan, yakni apabila ke laut akan ditelan ikan dan apabila ke hutan ditelan ular. Kutukan tersebut adalah kutukan dari tanah Buton yang berupa Sodompute dan Laentube” Imbuhnya.
Ucapnya, Berakar dari perjanjian tersebut, maka kedua sumber mata air itu dipelihara dan dijaga oleh masyarakat setempat yang mana setiap tahunnya diadakan ritual pembersihan, baik sebelum melakukan bercocok tanam ataupun sesudah panen.
Sementara itu, Ketua panitia penyelenggara acara, La Ode Masri mengatakan “Dana yang digunakan pada ritual adat Pilumeano We’e Hara Mpangi dan Hara Benua berkisar Rp 24 Juta, yang bersumber dari gabungan dana bantuan OPD terkait maupun swadaya masyarakat setempat” Ucapnya.
Kendati demikian, Masri mengatakan perlu ada perhatian dari Pemkab Buton Selatan terhadap gedung Baruga tempat pelaksanaan ritual adat pembersihan kedua mata tersebut. Dimana saat ini masih harus berbenah perihal keamanan rumah adat tersebut dari gangguan hewan liar maupun hewan ternak milik warga yang sering berkeliaran bebas disekitar halaman baruga.
“Ini kan rumah adat yang harus dijaga sakralnya rumah adat,” Katanya.
Untuk itu, Ia berharap ada pembangunan fisik lanjutan yang menunjang sarana dan prasarana gedung Baruga agar menjadi lebih reprentatif ini.
“Kami berharap agar rumah adat ini lebih besar lagi terutama membutuhkan pagar keliling, papin blok tujuannya untuk hewan ternak untuk tidak memasuki kawasan baruga sehingga kesakralannya tetap terjaga,” La Ode Masri.
Penulis: Ha
Editor: Harry

