Oleh : Amidan Rumbouw, Pemuda SBT
Rumbouw mengangkat suara soal sikap dari salah satu aktivis senior dari latar belakang KNPI SBT yang menanggapi narasi dari Sekertaris cabang GMNI Seram Bagian Timur (SBT) persoalan kelalaian BPJN MALUKU terkait keadaan jalan di SBT saat ini. ketika salah satu aktivis senior SBT yang membawa nama KNPI SBT dalam menanggapi pernyataan Sekretaris GMNI Cabang SBT terkait kelalaian BPJN Maluku
Dalam dinamika sosial-politik daerah, keberadaan aktivis idealnya menjadi kekuatan moral yang mendorong perubahan dan perbaikan. Namun sayangnya, tidak semua aktivis memahami posisi ini dengan utuh. Salah satu contoh nyata terlihat dari sikap seorang aktivis senior SBT yang justru memperkeruh keadaan dengan membawa nama KNPI SBT dalam narasi yang terlihat sarat manipulasi dan kepentingan terselubung.
Tanggapan yang dilontarkan terhadap Sekretaris cabang GMNI SBT mencerminkan sikap yang reaktif dan cenderung defensif. Padahal, substansi dari kritik sekertaris Cabang GMNI SBT Abdul Sileuw, adalah mendorong tanggung jawab moral dan struktural BPJN Maluku atas kerusakan infrastruktur di Kabupaten Seram Bagian Timur. Bukannya mendukung suara rakyat, aktivis senior tersebut justru sibuk membungkam kritik seakan-akan demi membela institusi yang sedang bermasalah. Hal Ini mencerminkan sebuah watak anti-demokrasi yang berbahaya, apalagi dilakukan oleh seseorang yang mengatasnamakan organisasi kepemudaan seperti KNPI.
Jika aktivis senior mulai memainkan peran layaknya alat kuasa, maka keberadaan mereka bukan lagi sebagai kontrol sosial, tapi justru sebagai pengganggu proses demokratisasi.
Aktivis Senior yang bijak tidak seharusnya menjadi corong pembela institusi, apalagi jika lembaga yang dibela tersebut diduga lalai terhadap tanggung jawab publik. Ia seharusnya berdiri di barisan rakyat, menyuarakan aspirasi yang lahir dari kegelisahan masyarakat SBT terhadap infrastruktur yang rusak parah.
Sangat disayangkan jika organisasi sebesar KNPI harus terseret dalam pusaran sikap individual yang tidak merepresentasikan semangat kolektif dan nilai-nilai perjuangan pemuda. Hal ini justru mencoreng marwah KNPI di mata publik SBT, karena dimanfaatkan hanya sebagai legitimasi politik.
Publik bisa membaca bahwa pola ini bukanlah sesuatu yang muncul secara kebetulan. Ada kesan kuat bahwa aktivis senior tersebut tengah memainkan strategi mengalihkan fokus dari substansi persoalan ke arah pembentukan opini yang mendiskreditkan pihak-pihak yang vokal.
Ini juga mengindikasikan adanya relasi kuasa yang sedang dipelihara. Ketika suara kritis dibungkam dengan narasi semacam itu, maka kita sedang menghadapi situasi di mana ruang demokrasi dipersempit demi kepentingan tertentu, dan sayangnya dilakukan oleh salah satu Senior dari latar belakang organisasi kepemudaan seperti (KNPI) SBT.
Sikap seperti ini tidak hanya melemahkan gerakan mahasiswa dan pemuda, tetapi juga membunuh semangat solidaritas antarorganisasi. Harusnya, di tengah kondisi SBT yang kian terpuruk secara infrastruktur, kita menemukan titik temu untuk memperjuangkan hak rakyat, bukan saling jegal dan membungkam.
Dalam konteks ini, publik harus lebih jeli dalam menilai. Sebab, saya menduga Jangan sampai aktivis yang sedang melakukan langkah-langkah strategis yang justru terlihat seperti manipulasi keadaan. Jika ini terus dibiarkan mengatasnamakan pemuda dan lembaga, padahal substansi gerakannya lebih kepada pencitraan dan perlindungan terhadap aktor-aktor yang sedang dikritik.
Patut dipertanyakan, siapa yang diuntungkan dengan sikap aktivis senior tersebut? Rakyat atau lembaga yang sedang disorot? Jika jawabannya bukan rakyat, maka legitimasi moralnya sebagai aktivis senior patut digugat.
KNPI sebagai lembaga resmi kepemudaan harus bersikap bijaksana dalam menghadapi setiap keadaan yang ada. Sebab, Ini bukan tentang satu orang, tapi tentang arah organisasi ke depan.
Kita butuh sosok yang mampu membaca realitas dengan jernih, menyikapi perbedaan dengan dewasa, dan tetap menjaga integritas dalam berpihak pada kepentingan publik.
Ini bukan semata untuk melawan, tetapi menjadi alarm bagi gerakan pemuda SBT agar tidak terjebak dalam permainan elit yang membunuh nurani.(**)
Editor : Erwin B

