SPIONNEWS.ID, MALUKU – Gelombang desakan publik kembali mencuat terkait aktivitas pembabatan hutan penyangga di kawasan Waiheru, Kota Ambon. Sejumlah media lokal dan nasional menyoroti persoalan ini. Bahkan, tersiar kabar adanya keterlibatan oknum yang disebut-sebut sebagai petugas partai yang turun langsung ke lapangan Informasi tersebut dengan cepat menyebar di tengah masyarakat Waiheru. Ironisnya, meski isu ini kian panas, solusi konkret dari pemerintah maupun aparat penegak hukum belum terlihat. Dugaan praktik kejahatan lingkungan seakan dibiarkan tanpa penyelidikan serius.
Koordinator Forum Gerakan Peduli Maluku (FGPM), Panji Kilbuti, menegaskan pembabatan hutan penyangga itu adalah “bom waktu bencana ekologis., kawasan tersebut merupakan daerah resapan vital yang menahan limpasan air ke pemukiman warga.
“Kalau dibiarkan, bukan hanya banjir yang mengancam, tapi juga kerusakan ekosistem yang tak bisa dipulihkan,” ungkapnya ke media [29/09/2025]

Menurutnya Reaksi tidak tau yang ditunjukkan DPRD Kota Ambon justru dinilai aktivis hanya sebatas formalitas tanpa langkah investigasi nyata.
“DPRD jangan sekadar kaget, tapi harus gunakan fungsi pengawasan. Kalau benar ada pihak politik terlibat, itu harus dibongkar tuntas,” tegas Panji.
Lebih jauh, Panji menambahkan bahwa warga Waiheru kini mulai kehilangan kepercayaan.
“Masyarakat sudah jadi korban banjir, hutan habis ditebang. Siapa yang bertanggung jawab? Jangan sampai rakyat hanya jadi penonton kerusakan,” tandasnya.
Desakan kini menguat agar aparat penegak hukum, baik kepolisian maupun kejaksaan, segera turun tangan melakukan investigasi menyeluruh. Publik menilai, jika pembiaran terus berlangsung, praktik pembabatan hutan akan meluas dan menimbulkan kerugian ekologis dan sosial yang lebih besar.
FGPM Maluku memastikan akan menggelar aksi besar-besaran apabila tidak ada langkah tegas dari Aparat Penegak Hukum terhadap dugaan pembabatan hutan di Waiheru.
Editor : Redaktur SpionNews.id Maluku

