Terlihat dari beberapa pedagang yang mengeluhkan garam yang mereka jual mulai sedikit dan belum adanya pasokan dari wilayah Nusa Tenggara Timur.
Ketika ditemui Pedagang Pasar Bandar Batauga, Wa Anti, mengatakan "Untuk pemasukan garam di Pasar Bandar Batauga, hari ini mulai menipis dikarenakan bahan baku dagangan yang biasa di ambil di pasar Kota Baubau yang berasal dari dalamnya dari Nusa Tenggara Timur, untuk harga per cupanya Rp. 5.000" Jelasnya.

Ia menambahkan, harga garam yang biasa dibeli per 60 kg biasanya mencapai 100 hingga 120.000 per karung. Dan untuk saat ini di Pasar Bandar Batauga, garam di pasar ini mulai langka.
"Kami tidak tahu kalau di Buton Selatan ada petani garam di Pulau Siompu, kalau memang ada sebaiknya pemerintah daerah bisa mensuplai ke Pasar Bandar Batauga agar kami bisa menjual garamnya" jelasnya.
Lanjutnya, daripada kita mengambil garam dari luar Kabupaten Buton Selatan, sebaiknya kalau ada garam dari produk lokal akan kita manfaatkan dengan baik dan ini bisa menjadi pendapatan ekonomi masyarakat serta mengurangi harga garam yang lebih murah.
"Garam kasar walaupun tidak dalam kemasan merupakan salah satu produk yang sangat dibutuhkan masyarakat dan bahkan dalam seminggu atau sebulan bisa terjual hingga kurang lebih 150 kg" tuturnya. (Ha).
Editor : Harry

