SPIONNEWS, Siompu – Situasi yang sangat mengharukan dialami oleh beberapa warga di pulau Siompu, dimana Suara deburan ombak di Pantai Tompano One, Desa Lamaninggara, Kecamatan Siompu Barat, Kabupaten Buton Selatan kini bukan lagi melodi yang menenangkan.
Setiap kali angin musim barat berhembus dari arah laut Flores, warga pesisir diliputi cemas. Keluarga di kampung tersebut setiap gelombang yang datang bisa saja membawa kecemasan Yang Tak berujung, karena merasa berbahaya dan takut akan terjadi musibah yang tak diinginkan, bisa jadi rumah yang hancur ditiup angin gelombang laut, ataupun ombak yang mencapai halaman tembok rumah.
Sejak dahulu, Pantai Tompano One dikenal sebagai surga kecil di Buton Selatan. Hamparan pasir putih memanjang, air laut jernih, dan langit sore yang memerah menjadi pelipur lelah bagi warga setelah seharian bekerja. Namun, keindahan itu kini mulai memudar. Sejak aktivitas penambangan pasir liar marak terjadi, pantai perlahan kehilangan pesonanya.
Lisman, seorang aktivis lingkungan asal desa itu, menjadi saksi perubahan tersebut. Ia bersama beberapa pemuda setempat sudah berulang kali berusaha menghentikan penambangan yang kian menggila.
“Kami sudah melakukan berbagai cara. Kami pasang pagar di jalan masuk pantai, tapi tetap saja, setiap hari ada mobil yang lalu lalang mengangkut pasir. Kami tidak menolak pembangunan, kami hanya ingin melindungi pantai kebanggaan kami dari abrasi,” ucapnya, dengan penuh kesedihan.
Ia menambahkan, Namun upaya itu tak banyak berarti. Abrasi semakin meluas, dan kini dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat pesisir.Salah satunya adalah Ona Tio, seorang ibu rumah tangga berusia 45 tahun. Rumahnya kini tinggal separuh, sebagian roboh diterjang ombak saat musim barat melanda tahun lalu.
“Dapur saya sudah hancur, kios tempat saya jualan pun ikut roboh. Dinding rumah mulai retak, tanah di bawahnya menurun. Saya pernah hampir hanyut karena ombak tiba-tiba naik sampai ke tangga rumah. Untung saya dan anak saya cepat keluar,” cerita Ona sambil menatap puing-puing yang tersisa.
Di sisi lain pantai, ada seorang nenek Sarifah, 50 tahun, mengalami nasib serupa. Ia masih ingat betul ketika jarak rumahnya dengan bibir pantai mencapai puluhan meter. Kini, air asin sudah sampai ke dapurnya.
“Dulu rumah saya jauh dari laut. Sekarang air sudah sampai di belakang rumah. Semua ini karena tambang pasir yang dibiarkan,” ucapnya dengan nada gugup.
Ketika dikonfirmasi Kepala Desa Lamaninggara, La Alizu, mengakui keresahan warganya. Ia bahkan membangun pondok kecil di tepi pantai untuk memantau aktivitas para penambang pasir liar. Namun, upayanya kerap diabaikan.
“Saya sudah sering menegur mereka, tapi tidak diindahkan. Bahkan ada yang sengaja lewat di depan saya sambil mengolok-olok. Mereka tidak menghargai saya sebagai kepala desa,” ujarnya.
La Alizu berencana menggelar rapat dengan pemerintah kecamatan dan kepala desa lain di wilayah Siompu Barat untuk mencari solusi bersama. Ia berharap ada tindakan nyata agar pantai yang menjadi kebanggaan masyarakat itu bisa diselamatkan.
“Kami berharap pemerintah daerah bisa memberikan perhatian kepada Desa kami terkait dengan kondisi lingkungan yang saat ini kurang kondusif ketika angin barat datang” jelasnya. (Ha).
Editor: Harry

