SPIONNEWS.ID, JAKARTA – Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) daerah pemilihan (dapil) Sulawesi Tenggara (Sultra) Jaelani menilai, petani muda dapat menjadi kunci solusi untuk menekan angka penganggaran.
Ia mendorong pemerintah memberikan insentif khusus agar generasi muda, terutama Gen Z, tertarik terjun ke sektor pertanian modern.
“Tingginya angka pengangguran, dalam skala tertentu, berpotensi memicu ketidakstabilan sosial dan politik. Salah satu solusi konkret yang harus digarap secara besar-besaran adalah sektor pertanian,” ujar Jaelani di Jakarta, Senin (26/1/2026).
Menurutnya, sektor pertanian memiliki potensi besar sebagai penyerap tenaga kerja massal. Namun, hingga kini daya tarik pertanian bagi generasi muda, khususnya Gen Z, masih rendah karena dipersepsikan sebagai sektor tradisional, berisiko tinggi, dan minim kepastian finansial.
Karena itu, negara perlu melakukan intervensi untuk mentransformasi pertanian menjadi sektor yang modern dan menjanjikan.
“Kita tidak bisa hanya menyuruh anak muda bertani tanpa menjamin skala ekonominya. Pemerintah harus menyiapkan insentif nyata, mulai dari akses permodalan tanpa bunga, hibah lahan produktif, hingga kemudahan akses teknologi mekanisasi,” tegasnya.
Jaelani menekankan bahwa kunci utama menarik minat Gen Z adalah digitalisasi pertanian atau smart farming.
Pemanfaatan teknologi seperti drone untuk pemupukan, sistem irigasi otomatis berbasis Internet of Things (IoT), serta marketplace yang memangkas rantai distribusi diyakini mampu menjadikan pertanian sebagai ekosistem bisnis yang menarik bagi generasi terdidik.
“Gen Z adalah generasi yang melek teknologi. Jika pertanian dikelola dengan sistem berteknologi tinggi dan terhubung langsung ke pasar, saya yakin mereka akan berbondong-bondong kembali ke desa. Ini juga menjadi solusi keterbatasan lahan melalui optimalisasi teknologi di lahan sempit,” tambahnya.
Selain insentif teknis, Jaelani juga mendorong adanya jaminan perlindungan harga (price floor) bagi produk pertanian yang dihasilkan petani muda.
Menurutnya, kepastian harga penting agar petani milenial tidak dirugikan oleh fluktuasi pasar maupun praktik spekulasi tengkulak.
Ia berharap program “Petani Milenial” tidak berhenti pada tataran seremonial, melainkan menjadi gerakan nasional yang didukung anggaran kuat dari kementerian terkait.
Dengan demikian, sektor pertanian dapat menjadi penopang ekonomi nasional di tengah ancaman pengangguran global.
“Inilah saatnya menjadikan krisis pengangguran sebagai momentum transformasi pertanian. Kita harus mencetak pengusaha tani muda, bukan sekadar pekerja tani. Dengan begitu, stabilitas ekonomi dan kedaulatan pangan dapat terjaga secara bersamaan,” pungkas Jaelani.
Sumber : RM.ID

