SPIONNEWS.ID, NASIONAL – Kepanikan bahan bakar minyak (BBM) yang terjadi di Ambon bukan sekadar persoalan antrean panjang di SPBU atau pom mini. Ini adalah tanda awal bahwa tekanan global mulai merembes ke kehidupan sehari-hari rakyat di daerah. Ketika kendaraan mengular dan jeriken mulai mendominasi pemandangan, sesungguhnya yang sedang terjadi adalah kegelisahan kolektif ketakutan akan ketidakpastian pasokan energi yang menjadi penopang utama aktivitas ekonomi.
Situasi ini tidak bisa dilepaskan dari memanasnya konflik di kawasan Selat Hormuz, yang kini menjadi episentrum ketegangan global. Jalur ini selama puluhan tahun dikenal sebagai penentu stabilitas energi dunia. Ketika konflik perang membayangi kawasan tersebut, distribusi minyak mentah terganggu, biaya logistik melonjak, dan harga energi dunia mulai kehilangan pijakan stabilnya. Dunia sedang berada di titik rapuh dan Indonesia, termasuk Maluku, tidak berada di luar lingkaran dampak itu.
Jika kondisi ini terus berlarut, maka yang dihadapi rakyat bukan hanya kelangkaan BBM, tetapi efek berantai yang jauh lebih luas. Harga minyak dunia yang tidak stabil akan mendorong kenaikan harga barang dan jasa. Negara tidak bisa menjamin mutlak subsidi BBM akan berlangsung panjang jika konflik masih terus berkecamuk. ketika ongkos transportasi meningkat, distribusi bahan pokok terganggu, dan pada akhirnya daya beli masyarakat tergerus perlahan. Ini adalah pola klasik krisis energi yang berujung pada tekanan ekonomi di tingkat paling bawah.
Dalam kondisi seperti ini, rakyat tidak bisa hanya bergantung pada intervensi pemerintah atau stabilisasi pasar semata. Ada kebutuhan mendesak untuk membangun ketahanan dari level paling dasar: keluarga. Masyarakat harus mulai mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan terburuk, yakni krisis berkepanjangan yang membuat harga kebutuhan hidup terus merangkak naik. Ketahanan tidak lagi menjadi wacana, melainkan kebutuhan nyata.
Pangan, dalam konteks ini, menjadi tonggak terakhir yang menentukan daya tahan rakyat. Ketika energi menjadi mahal dan distribusi terganggu, maka kemampuan memenuhi kebutuhan makan sehari-hari menjadi kunci bertahan hidup. Ketersediaan bahan pangan lokal, kebiasaan menanam sendiri, hingga pengelolaan stok rumah tangga akan menjadi faktor penentu apakah sebuah keluarga mampu melewati badai krisis atau justru tumbang di tengah tekanan.
Sejarah telah berulang kali menunjukkan bahwa dalam setiap krisis besar baik perang, konflik global, maupun gejolak ekonomi yang paling bertahan adalah mereka yang memiliki akses terhadap pangan. Ketergantungan penuh pada pasar tanpa cadangan atau alternatif hanya akan mempercepat kerentanan. Maka, dalam situasi global yang tidak menentu seperti sekarang, kesadaran untuk memperkuat ketahanan pangan harus menjadi gerakan bersama, bukan sekadar pilihan individu.
Apa yang terjadi hari ini di Indonesia dan Maluku hanyalah permukaan dari gelombang besar yang sedang bergerak. Jika konflik di Selat Hormuz tidak kunjung reda, maka dampaknya akan semakin dalam dan luas. Pada titik itu, rakyat tidak lagi hanya menghadapi antrean BBM, tetapi juga ujian bertahan hidup yang sesungguhnya. Dan di tengah semua ketidakpastian itu, pangan akan menjadi garis pertahanan terakhir penentu siapa yang mampu bertahan dan siapa yang tersingkir oleh keadaan.
Erwin SpionNews.idEditor : EB

