Urlima Menjadi Jalan Damai, Konflik Dua Desa di Aru Resmi Usai

DOBO, SPIONNEWS.ID – Konflik yang sempat terjadi antara masyarakat Desa Kalar-Kalar dan Desa Salarem, Kecamatan Pulau-Pulau Aru, Kabupaten Kepulauan Aru, resmi berakhir melalui prosesi adat Urlima yang digelar di Lapangan Apel Kantor Bupati Kepulauan Aru, Sabtu (4/7/2026). Prosesi berlangsung khidmat dan menjadi momentum penting dalam memulihkan hubungan persaudaraan kedua desa.

Bupati Kepulauan Aru Timotius Kaidel menegaskan bahwa setiap persoalan yang muncul di tengah masyarakat harus diselesaikan melalui mekanisme adat dan dialog, bukan dengan tindakan kekerasan yang melibatkan seluruh warga desa. Pernyataan itu disampaikan saat prosesi adat Urlima yang mengakhiri konflik Desa Kalar-Kalar dan Desa Salarem.

Menurut Kaidel, konflik yang berlangsung selama kurang lebih tiga bulan tidak memiliki akar persoalan yang jelas dan lebih dipicu oleh kesalahpahaman serta provokasi. Karena itu, masyarakat diminta menghentikan rasa saling curiga dan tidak mudah terpengaruh isu yang memecah persatuan.

Ia menegaskan bahwa persoalan yang melibatkan individu tidak boleh berkembang menjadi konflik antardesa. Masyarakat diminta tidak membawa nama kampung dalam setiap persoalan pribadi karena hal itu hanya akan memperluas dampak konflik.

Bupati menilai keberadaan adat di Kepulauan Aru masih sangat kuat dan harus dijadikan jalan utama dalam menyelesaikan berbagai persoalan. Nilai-nilai persaudaraan yang diwariskan leluhur perlu terus dijaga sebagai fondasi kehidupan masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, Timotius Kaidel juga menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh masyarakat Kabupaten Kepulauan Aru atas terganggunya aktivitas sosial selama konflik berlangsung.

Ia mengakui dampaknya dirasakan tidak hanya oleh kedua desa, tetapi juga masyarakat Aru secara keseluruhan.

Bupati berharap perdamaian yang telah disepakati menjadi pelajaran berharga bagi seluruh masyarakat agar mengutamakan musyawarah dibandingkan kekerasan.

Pemerintah daerah, kata dia, akan terus mendukung upaya menjaga kerukunan dan stabilitas daerah.Prosesi perdamaian akhirnya ditutup dengan doa bersama lintas agama dan jamuan makan bersama sebagai simbol bahwa masyarakat Kalar-Kalar dan Salarem kembali hidup dalam semangat persaudaraan, kebersamaan, dan kedamaian.

Editor : EB

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *